COBAAN itu seperti kendaraan menuju Allah. Ketika ingin dekat dengan Allah, cobaan datang menjemput.
Seorang bapak mengisahkan pengalaman hidupnya meraih hidayah. Ia bersyukur, Allah memberikannya cahaya di saat ruang gelap menjebak hidupnya.
Bertahun-tahun, ia terjun di dunia hiburan. Itu berlangsung sejak ia masih muda hingga usianya menjelang empat puluhan. Di dunia gemerlap itu, ia memang bukan pemain, melainkan sebagai pekerja.
Selama itu, ia larut dengan dunia serba bebas. Seolah tak ada aturan agama. Padahal, ia masih seorang muslim. Ia tak lagi menyadari kalau usianya tak lagi muda. Jangankan punya anak, terpikir untuk menikah pun tidak.
Singkat cerita, anugerah hidayah pun datang. Allah mempertemukannya dengan sopir pribadi yang soleh. Keduanya sering ngobrol akrab dalam perjalanan. Banyak ucapan hikmah dari sang sopir yang tak sengaja ia serap kedalam hati.
Akhirnya, ia minta dipertemukan dengan guru agama yang bisa membimbingnya dengan baik. Perubahan demi perubahan ia lakukan seiring perjalanan interaksinya dengan guru itu.
Ia pun menyatakan berhenti dari dunia yang dulu begitu ia cintai. Ia siap dengan segala risiko hidup susah jika penghasilannya tak lagi seperti dulu.
Ternyata, apa yang ia sudah siapkan itu tak sebanding dengan cobaan yang Allah berikan. Bukan sekadar penghasilan besar yang tiba-tiba lenyap. Tapi, sebuah musibah menghilangkan apa yang selama ini ia perjuangkan.
Sebuah musibah kebakaran menghanguskan rumah dan seluruh harta yang ia simpan di dalamnya. Ia hanya mematung ketika mendapati rumahnya sudah rata dengan tanah. Tak ada yang sisa, kecuali puing-puing berwarna kehitaman.
Ia berusaha tegar. Selama ini, tak ada profesi yang bisa ia lakoni kecuali dunia lamanya itu. Lalu, dengan cara apa ia bisa memperoleh rezeki yang baik dan halal?
Teman-teman solehnya memberikan modal ala kadarnya. Ia diajarkan berjualan di emperan jalan. Berjualan apa saja. Mulai dari sandal, baju anak, piring, gelas, dan lainnya.
Bertahun-tahun ia lakoni itu, tapi ia tetap hidup ala kadarnya. Ada perubahan sedikit ketika Allah mempertemukan jodohnya dengan seorang muslimah. Dari keterampilan istrinya, ia memulai ‘karir’ berdagang makanan untuk sarapan.
**
Kisah ini pernah dialami oleh orang soleh yang kini telah tiada. Ia begitu bersahaja. Mudah tersenyum, meskipun keadaan yang ia alami sebenarnya susah.
Rute jalan menuju Allah ternyata tidak selalu mudah. Tapi justru, di situlah hikmahnya. Semakin tinggi tempat yang dituju seseorang, semakin banyak anak tangga yang harus ditapaki.
Suatu saat, Allah subhanahu wata’ala akan memperlihatkannya dari arah ‘ketinggian’. Bahwa, apa yang telah ia tinggalkan itu menjadi begitu kecil dan tak bernilai.
Bersabarlah untuk terus melangkah. Nilai surga itu memang mahal. [Mh]





