DAKWAH dan kekuasaan tak bisa dipisahkan. Justru, objek utama dari dakwah adalah kekuasaan.
Kalau ditanya, Nabi mana yang paling banyak disebut dalam Al-Qur’an, maka jawabannya bukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Padahal beliau shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai Nabi akhir zaman, masa di mana Al-Qur’an diturunkan.
Setidaknya, ada tiga nama Nabi yang paling banyak disebut dalam Al-Qur’an. Pertama, Nabi Musa alaihissalam, lebih dari seratus kali. Nabi Ibrahim alaihissalam, lebih dari enam puluh kali kali. Dan, Nabi Yusuf alaihissalam.
Kalau ditanya lagi, kenapa mereka bertiga yang paling banyak disebut dalam Al-Qur’an? Boleh jadi, karena dakwah ketiganya yang berhadapan dengan kekuasaan besar.
Nabi Musa berhadapan dengan Firaun, Raja Mesir yang adidaya di masanya. Bukan saat beliau sebagai Nabi saja. Melainkan, sejak Nabi Musa baru saja dilahirkan. Nabi Musa masuk ke istana Firaun sebagai ‘rekayasa’ Allah yang menjadikan beliau menetap di Istana Firaun hingga puluhan tahun.
Misi pun berakhir setelah Allah subhanahu wata’ala menghancurkan Firaun secara total. Untuk selanjutnya, Nabi Musa mendakwahi kaumnya yang juga membutuhkan kesabaran ekstra.
Begitu pun dengan Nabi Ibrahim alaihissalam. Allah menugaskan Nabi Ibrahim untuk mendakwahi Raja Babilonia, Namruz, dan para suprastruktur kebatilannya. Sebuah kerajaan yang nama besarnya masih disebut-sebut sejarah hingga saat ini.
Sebagaimana Firaun di Mesir yang Allah hancurkan, begitu pun dengan Namruz dan Babilonianya saat itu yang juga Allah hancurkan.
Yang ketiga adalah dakwah Nabi Yusuf alaihissalam. Memang, ada titik tekan yang berbeda antara Nabi Musa, Nabi Ibrahim, dan Nabi Yusuf. Dakwah Nabi Yusuf, meski masih dalam kekuasaan besar, tapi dinamikanya lebih ke arah godaan daripada ancaman.
Namun, jangan dianggap godaan lebih ringan dari ancaman. Karena justru dengan risiko konsisten dari godaan itulah, Nabi Yusuf mengalami hidup dalam penjara sangat lama.
Dakwah Nabi Yusuf berakhir dengan ‘happy ending’ di mana Allah subhanahu wata’ala menganugerahkan kekuasaan untuk Nabi Yusuf.
**
Dakwah Islam tak bisa dipisahkan dengan ruang politik dan kekuasaan. Justru, di ruang politik dan kekuasaanlah, titik tekan dari dakwah Islam lebih diperbesar.
Perhatikan ibrah dari paparan sejarah yang Allah sajikan dalam Al-Qur’an. Selalu saja ada ancaman dan godaan dalam perjalanan dakwah di ruang politik dan kekuasaan.
Namun, jangan pernah berkesimpulan bahwa godaan jauh lebih ringan daripada ancaman. Karena sejarah juga memaparkan orang baik bisa tumbang karena godaan. Antara lain sosok Qarun yang merupakan sepupu Nabi Musa alaihissalam.
Sejarah juga mengajarkan, Kekhalifahan besar Islam seperti Umayyah, Abbasiyah, dan Usmaniyah runtuh bukan karena dahsyatnya ancaman. Melainkan karena tak tahan dengan kuatnya godaan.
Berhati-hatilah ketika mencari jalan aman dengan memilih ‘godaan’ daripada ‘ancaman’. Karena kita jauh dari level Nabi Yusuf yang tetap tahan dengan seribu satu godaan. [Mh]





