PERISTIWA apa pun yang dialami umat Islam selalu ada hikmahnya: peristiwanya baik atau pun buruk.
Kekhalifahan Abbasiyah akhirnya tumbang di tahun 1258 masehi. Masa-masa keemasan Islam berlalu begitu saja. Hancur, musnah, nyaris tak bersisa. Sungai Tigris menjadi saksi tentang itu.
Penyebab teknisnya berupa serbuan tentara Mongol yang dipimpin cucu Jengis Khan: Hulagu Khan. Sekitar 400 ribu hingga satu juta warga Bagdad saat itu dibantai, termasuk Khalifah Al-Mu’tashim Billah dan keluarganya.
Namun, penyebab utamanya adalah kerapuhan mentalitas umat Islam termasuk seisi istana. Mereka umumnya terbuai dengan gelimang kemegahan dan kemewahan duniawi saat itu.
Hulagu belum puas dengan kemenangan itu. Ia bergerak ke Damaskus untuk mengalahkan Kekhalifahan Al-Ayyubiyah yang saat itu dipimpin oleh cucu Shalahuddin Al-Ayyubi. Keadaannya setali tiga uang dengan Abbasiyah saat itu.
Tapi, Al-Ayyubiyah tidak dibantai seperti Abbasiyah karena mereka menyatakan diri menyerah dan tidak ingin ada perlawanan.
Hulagu juga merasa belum puas. Ia yang didampingi komandan tempurnya, Kitbuqa, juga akan bergerak ke Mesir. Di sana mereka akan menaklukkan Kekhalifahan Mamluk. Saat itu, Mamluk dipimpin oleh Khalifah yang mujahid dan bijaksana: Saefuddin Qutuz.
Di sinilah letak hikmah dan perlindungan Allah kepada umat Islam. Sekiranya, Mamluk juga bernasib seperti Abbasiyah, maka hilang sudah khazanah keilmuan Islam yang sudah diraih selama berabad-abad sejak masa sahabat dan tabi’in.
Qutuz tidak seperti Mu’tashim dan cucu Al-Ayyubi. Ia melakukan pembenahan besar-besaran di tubuh pejabat kekhalifahan sebelum menyiapkan perlawanan kepada Hulagu.
Antara lain, mewajibkan seluruh pejabat untuk menyetor separuh harta kekayaannya untuk biaya jihad, sekaligus membersihkan para pejabat yang melakukan pembangkangan.
Sebelum Hulagu dan pasukannya tiba, Qutuz sudah mengerahkan pasukan untuk menyambut pasukan penyerang di luar ibukota kekhalifahan. Mereka menyambut pasukan Hulagu Khan di sebuah lembah bernama Aynun Jalut.
Di pihak Hulagu, ada peristiwa yang memaksa Hulagu harus balik ke Mongolia. Raja mereka dikabarkan wafat. Karena itu, Hulagu dan sebagian pasukan balik ke Mongol. Sementara penyerangan diteruskan oleh Kitbuqa bersama puluhan ribu pasukan lainnya.
Hulagu merasa sombong karena sudah berhasil menaklukkan dua kekhalifahan Islam. Ia yakin, penyerangan oleh komandan tempurnya dirasa cukup tanpa kehadiran dirinya. Padahal, inilah momen terakhir di mana pasukan Mongolia berada di wilayah Timur Tengah.
Pasukan yang dipimpin Kitbuqa habis dikalahkan oleh pasukan Khalifah Saefuddin Qutuz, termasuk Kitbuqa sendiri yang akhirnya tewas. Sementara itu, setibanya di Mongolia, Hulagu mengalami peperangan antar pangeran untuk merebut tahta kekuasaan. Hulagu pun dikabarkan tewas karena konflik internal itu.
**
Allah subhanahu wata’ala memberikan hikmah dalam setiap peristiwa yang dialami umat Islam: baik maupun buruk. Allah seperti membersihkan para pejabat yang terkena penyakit wahn melalui penyerangan pihak luar. Terkesan menyakitkan, tapi itu obat pahit yang harus ditelan demi kesembuhan.
Sejarah terus berulang, hingga zaman umat Islam yang saat ini hidup tanpa kekhalifahan. Tanpa ‘rumah’ dan tanpa perlindungan. Inilah momen di mana umat Islam akan kembali sehat setelah ‘sakit’ dalam ketidakberdayaan.
Yakinlah bahwa bersama kesulitan selalu ada kemudahan. Dan Allah subhanahu wata’ala mengulanginya dua kali. Teruslah bergerak, jangan diam dengan kenyataan. [Mh]





