AJAL bisa datang kapan saja. Termasuk di Kereta KRL yang mengalami kecelakaan di Stasiun Bekasi Timur, Senin (27/4).
Tak ada firasat apa pun yang dirasakan Bu Nuryati, nenek usia 63 tahun yang tinggal di kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat. Sore itu, Bu Nuryati ingin menengok anak dan cucunya di Cikarang yang kabarnya sedang sakit.
Saat berangkat, ibu dari delapan anak ini ditemani salah seorang anak perempuan dan seorang cucu usia 5 tahun. Ia berencana akan nginep atau bermalam di rumah anaknya itu.
Menurut penuturan anak Bu Nuryati, ibunya itu berada di gerbong tengah KRL. Penumpang yang lain memang selamat termasuk anak dan cucunya. Hanya dia yang mengalami sedikit luka di dahi dan bibir karena benturan kereta.
Saat itu, pintu KRL masih pada posisi tertutup. Evakuasi pun dilakukan para penumpang melalui jendela. Termasuk yang dilakukan oleh anak dan cucu Bu Nuryati. Sementara, ibu yang punya penyakit jantung itu pun masih tertinggal di dalam gerbong menunggu pertolongan petugas.
Setelah berhasil dievakuasi keluar KRL, Bu Nuryati masih sadar. Ia bahkan sempat mengatakan, “Ini ada apa sih?” Tapi setelah itu, ia tak kuat berdiri dan terjatuh tak sadarkan diri.
Saat itulah anak perempuan Bu Nuryati mengabarkan keluarganya di rumah. Anaknya mengira kalau ibunya hanya pingsan. Ternyata setelah diperiksa di rumah sakit, ibu yang sangat aktif di pengajian dekat rumahnya ini dikabarkan sudah wafat.
Bu Nuryati dishalatkan begitu banyak orang yang simpati terhadap aktivitas almarhumah selama hidup, Selasa pagi (28/4). Almarhumah meninggalkan 8 orang anak dan 6 orang cucu. [Mh]
sumber: kompas.com




