PELIT dan boros seolah merupakan sifat kebalikan. Masalahnya, orang yang sedikit bersedekah bukan berarti ia tidak boros.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mencela orang yang pelit dan orang yang boros. Dua sifat yang tak memiliki tempat dalam khazanah sosial Islam.
Pelit dan Masalah Keimanan
Pelit itu mencegah seseorang dari sedekah, infak, hadiah, atau apa pun yang tidak digunakan untuk menambah kekayaannya.
Menurut Nabi, tak akan bersatu dalam hati seseorang: keimanan dan sifat pelit atau bakhil. Dengan kata lain, orang pelit punya masalah keimanan. Soal harta yang bertambah atau berkurang seolah tak berhubungan dengan peran Allah subhanahu wata’ala.
Karakter pelit bahkan tidak ada dalam khazanah Islam. Tak ada tokoh-tokoh sejarah Islam yang identik dengan pelit. Sebaliknya, mereka sangat-sangat dermawan.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan dan mencontohkan bahwa seorang mukmin tidak boleh pelit. Meskipun mereka miskin.
Bahkan Nabi pernah menasihati Asma binti Abu Bakar radhiyallahu ‘anhuma agar tidak menghitung-hitung uang yang disedekahkan. Hal ini agar Allah subhanahu wata’ala juga tidak akan menghitung-hitung rezeki yang akan diberikan.
Bisa dibilang, Asma dan suami: Zubair bin Awwam radhiyallahu ‘anhuma tiba di Madinah dalam keadaan sangat miskin. Tapi di akhir hayat Zubair, ia mewariskan uang yang bahkan sangat fantastis untuk ukuran saat ini. Yaitu, berjumlah triliunan rupiah.
Padahal, Zubair bukan seorang kaya dan pebisnis seperti Usman bin Affan, Abu Bakar, Abdurrahman bin Auf dan lainnya.
Bahkan dalam khazanah Islam dikenal dengan sifat itsar. Yaitu, mendahulukan kebutuhan orang lain melebihi kebutuhan dirinya sendiri. Sifat ini benar-benar tidak bisa diterima di masyarakat materialis saat ini.
Dermawan bukan Boros
Ada anekdot di masyarakat yang mengatakan, “Kalau ke masjid jangan membawa uang banyak-banyak. Nanti habis buat diinfakkan! Boros!”
Atau ada juga ucapan yang mengatakan, “Urus dahulu diri kita dan keluarga, baru membantu urusan orang lain.”
Seolah-olah orang yang gemar bersedekah itu punya sifat boros. Padahal, tidak berhubungan sama sekali.
Orang boros adalah yang mengeluarkan keuangannya untuk hal yang tak jelas dan dalam jumlah yang besar. Misalnya, untuk ke masjid ada kendaraan sendiri, untuk ke kantor ada kendaraan sendiri, untuk kondangan ada kendaraan sendiri, dan seterusnya.
Contoh lain, gemar berbelanja tanpa memiliki perencanaan yang jelas kemanfaatan barang yang dibelanjakan. Hanya sekadar memuaskan nafsu belanja.
Pertanyaannya, apakah kegiatan pulang kampung bentuk pemborosan? Apakah mengajak makan-makan tetangga dan sanak kerabat di momen Lebaran merupakan pemborosan?
Sama sekali tidak. Hal itu merupakan sifat para Nabi dan orang-orang soleh yang dermawan.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sebarkan salam, memberikan makan, sambungkan tali silaturahim, dan tegakkan shalat malam di saat orang tertidur. Niscaya, kalian akan masuk surga dengan selamat!” [Mh]


