MUJAHID rela mengorbankan segalanya untuk dakwah dan jihad. Bagaimana jika ayah, ibu, dan anak-anak dalam satu barisan mujahid?
Dalam sisi kehidupan para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, ada seorang ibu yang bukan sekadar ibu. Ia juga seorang mujahid di saat perang. Ia adalah Nusaibah binti Ka’ab radhiyallahu ‘anha.
Nusaibah binti Ka’ab atau biasa dipanggil Ummu Imarah adalah sahabat wanita Anshar yang senior. Ia masuk Islam di masa awal dakwah di Madinah. Bersama dengan Mus’ab bin Umair dan 70-an lainnya datang ke Mekah menemui Nabi untuk janji setia.
Padahal saat itu, yang wanita hanya segelintir saja. Termasuk di antara yang segelintir itu adalah Nusaibah bersama dengan suaminya: Zaid bin Ashim radhiyallahu ‘anhu.
Ketika Nabi hijrah ke Madinah, Nusaibah bersama suami dan dua anak lelakinya: Habib bin Zaid dan Abdullah bin Zaid siap berjihad membela Islam.
Inilah pengaruh luar biasa dari seorang istri dan ibu yang mujahid. Ia sekeluarga bahu membahu dalam Perang Uhud, perang kedua setelah Perang Badar.
Perang Uhud tergolong sangat dramatis. Ada satu pos pasukan pemanah yang ‘lalai’ dari pesan Nabi untuk tetap di posisi. Mereka mengira perang sudah berakhir, dan kemenangan ada di pihak Islam. Mereka turun dari bukit pos mereka itu untuk ikut mengumpulkan harta rampasan.
Nah, dari arah pos mereka itulah, ada pasukan berkuda kafir Quraisy yang tiba-tiba muncul dan menyerang mereka dari belakang. Pasukan Islam yang semula di atas angin, kini kocar-kacir.
Saat itu, Nusaibah beserta suami dan dua anaknya berlari menuju ke arah posisi Nabi. Hal itu karena pasukan di sekitar Nabi tak sampai 10 orang. Padahal, yang menyerang dan mengincar Nabi begitu banyak.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan, “Aku tak melihat ke arah kiri dan kanan, kecuali di situ ada Ummu Imarah yang menghalau penyerang!”
Di saat genting itu, tiba-tiba ada seorang pasukan penunggang kuda penyerang datang dari belakang Nusaibah. Ia menyerang Nusaibah dari arah atas kuda. Serangan itu berhasil melukai punggungnya. Tapi, ia berhasil menghalau serangan lain yang ke arah Nabi.
Nusaibah mengatakan, “Sekiranya penyerang tidak menggunakan kuda, ia akan mudah dikalahkan.”
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sempat melihat keadaan itu. Beliau berteriak ke putra Nusaibah yang berada di posisi lain untuk segera membantu ibunya.
“Hei Ibnu Imarah, cepat bantu ibumu!” teriak Nabi yang langsung dipatuhi putra Nusaibah. Ia berhasil melemparkan sebuah perisai ke arah ibunya. Dan perisai itu dijadikan ibunya untuk menangkis dan menyerang pasukan musuh.
Karena luka di serangan itu, Nusaibah dirawat cukup lama. Hingga, satu tahun. Namun begitu, ia tetap ikut perang berikutnya, antara lain Perang Hunain yang juga dipimpin Rasulullah.
Begitu pun dalam Perang Yamamah atau perang melawan orang-orang murtad di masa Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq. Nusaibah meminta izin Khalifah Abu Bakar untuk ikut ambil bagian dalam jihad itu bersama dengan dua putranya. Sementara, suaminya sudah syahid di perang sebelumnya.
Dalam perang itu, tangan Nusaibah terpotong karena serangan musuh. Salah satu putranya pun syahid dalam perang itu. Namun begitu, putranya yang lain berhasil membunuh tokoh kaum murtad, yaitu Musailamah sang pendusta.
Di masa kekhalifahan Umar bin Khaththab, usia Nusaibah tak lagi muda seperti masa lalu. Tapi, jiwa mujahidahnya tak kunjung surut.
Suatu hari, Khalifah Umar mendapat hadiah berupa baju bulu yang tergolong sangat mewah dan mahal. Salah seorang staf Umar menyarankan agar baju itu diberikan ke seseorang yang masih keluarga Umar.
Umar mengatakan, “Aku teringat dengan seseorang yang disebut Nabi dengan ‘ia ada di kiri dan kananku dalam perang Uhud’.”
Ya, orang yang dimaksud Khalifah Umar adalah Nusaibah. Hadiah mewah itu pun diberikan kepada Nusaibah, demi mengingat apa yang pernah diucapkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang ibu mujahid itu.
**
Rasanya sulit disangkal, jika seorang ibu merupakan seorang mujahid dakwah, maka suami dan anak-anaknya akan ikut dalam barisan itu.
Betapa mulia dan agungnya menjadi istri dan ibu seorang mujahid. Pahala dari Allah subhanahu wata’ala senantiasa berlimpah untuk keluarga ibu mulia itu. [Mh]



