BEBERAPA cara untuk mengurangi kerusakan rambut akibat terlalu sering diwarnai. Mewarnai rambut sudah menjadi bagian dari gaya hidup banyak orang, dengan tujuan menutupi uban atau pun hanya sebagai ekspresi diri.
Namun, terlalu sering mengganti warna rambut tanpa perawatan yang tepat dapat memicu berbagai masalah, mulai dari rambut kering hingga kerusakan kulit kepala. Ada batas aman dan langkah-langkah penting yang bisa dilakukan untuk meminimalisir risiko tersebut.
Baca juga: Tips Merawat Rambut untuk Wanita Berhijab
Cara Mengurangi Kerusakan Rambut akibat Pewarnaan
Cara mengurangi kerusakan rambut akibat pewarnaan:
Batasi frekuensi mewarnai rambut
Salah satu langkah paling penting untuk menjaga kesehatan rambut adalah mengontrol seberapa sering rambut diwarnai.
Disarankan agar proses pewarnaan rambut tidak dilakukan terlalu sering. Semakin sering rambut terpapar bahan kimia, semakin besar risiko kerusakan permanen pada batang rambut dan kulit kepala.
Zat kimia dalam pewarna rambut seperti amonia, hidrogen peroksida, dan paraphenylenediamine (PPD) berfungsi membuka kutikula rambut agar warna bisa masuk. Namun, proses ini juga membuat rambut menjadi lebih kering, rapuh, dan mudah patah jika dilakukan berulang kali.
Jangan menggabungkan pewarnaan dengan perawatan kimia lain
Kesalahan yang kerap dilakukan adalah melakukan beberapa perawatan kimia dalam waktu berdekatan, seperti mewarnai rambut dan melakukan pengeritingan atau pelurusan sekaligus.
Perm bahkan lebih merusak dibanding pewarnaan karena melibatkan bahan kimia yang lebih keras. Disarankan untuk memberi jeda waktu yang cukup agar rambut dapat pulih sebelum menjalani perawatan kimia lainnya.
Memberikan waktu istirahat pada rambut membantu menjaga elastisitas dan kekuatan alami batang rambut.
Lindungi kulit kepala sebelum pewarnaan
Tak hanya batang rambut, kulit kepala juga sangat rentan terhadap efek pewarnaan. Paparan bahan kimia dapat menghilangkan minyak alami (sebum) pada kulit kepala, sehingga memicu iritasi, rasa gatal, hingga pengelupasan.
Disarankan penggunaan pelindung sebelum proses pewarnaan. Mengoleskan minyak seperti minyak kelapa atau argan oil pada kulit kepala dapat membentuk lapisan pelindung yang membantu membatasi penyerapan bahan kimia.
Selain itu, penting untuk menghindari kontak langsung pewarna rambut dengan area sensitif, seperti kulit di belakang telinga, leher, dan wajah. Langkah sederhana ini dapat membantu menurunkan risiko reaksi alergi dan dermatitis kontak.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Fokus pada perawatan dan pemulihan rambut
Jika rambut sudah terlanjur sering diwarnai, perawatan intensif menjadi kunci. Rambut yang sering terpapar bahan kimia cenderung kehilangan kelembapan dan menjadi kurang elastis.
Pentingnya menjaga keseimbangan nutrisi rambut melalui perawatan rutin. Menggunakan sampo dan kondisioner yang diformulasikan khusus untuk rambut diwarnai, serta menghindari kebiasaan yang memperparah kerusakan seperti penggunaan alat panas berlebihan, dapat membantu memperlambat proses kerusakan.
Selain itu, stress juga dapat memperburuk kondisi rambut dan kulit kepala. Aktivitas relaksasi seperti yoga atau meditasi, serta menjaga pola makan sehat, turut berperan dalam menjaga kesehatan rambut secara keseluruhan.
Dengan membatasi frekuensi pewarnaan, melindungi kulit kepala, serta memberikan waktu pemulihan yang cukup, rambut tetap bisa tampil stylish tanpa harus mengorbankan kesehatannya. [Din]





