HUSNUL khatimah sering dipahami secara sempit sebagai wafatnya seseorang dalam kondisi ibadah tertentu, seperti saat sujud, berpuasa, atau berjihad.
Padahal, makna husnul khatimah jauh lebih luas dan mendalam.
Ia tidak hanya berbicara tentang bagaimana seseorang meninggal, tetapi terutama tentang bagaimana ia menjalani hidupnya.
Dalam sebuah hadis shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, diceritakan seorang laki-laki yang wafat saat wuquf di Arafah karena terjatuh dari kendaraannya.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memerintahkan agar ia dimandikan dan dikafani tanpa diberi parfum, serta tidak ditutupi kepalanya, karena kelak ia akan dibangkitkan dalam keadaan bertalbiyah.
Kisah ini menunjukkan kemuliaan akhir kehidupan seseorang yang sejalan dengan amal hidupnya.
Sebab, siapa yang hidup di atas ketaatan, maka Allah akan mematikannya dalam keadaan itu pula.
Namun, husnul khatimah tidak terbatas pada kematian dalam momen-momen ibadah yang tampak.
Husnul Khatimah Bukan Hanya Meninggal di Jalan Allah
Husnul khatimah adalah ketika kematian datang sementara seseorang istiqamah menjaga shalat, puasa, zakat, sedekah, dan tidak meremehkan kewajiban haji ketika telah mampu.
Ia wafat dalam keadaan taat, bukan lalai.
Lebih dari itu, husnul khatimah juga berkaitan dengan hubungan antarsesama.
Tidak ada hak orang lain yang terzalimi, tidak ada harta haram yang dimakan, tidak ada kehormatan yang dirusak melalui lisan.
Tetangga merasa aman, keluarga merasakan kasih sayang, pasangan diperlakukan dengan baik, orang tua dihormati, dan anak-anak dididik dengan nilai agama.
Baca juga: 11 Tanda Husnul Khatimah bagi Seorang Muslim
Sejarah para sahabat mengajarkan hal ini dengan jelas.
Ada yang wafat di tempat tidur, ada yang gugur terbunuh, ada pula yang meninggal karena wabah.
Cara wafat mereka berbeda, tetapi semuanya meraih husnul khatimah karena hidup mereka berada di jalan Allah.
Karena itu, husnul khatimah bukan semata-mata tentang detik terakhir kehidupan, melainkan tentang perjalanan panjang ketaatan.
Tugas kita bukan menghakimi akhir orang lain, melainkan memperbaiki diri dan memohon kepada Allah agar dianugerahi husnul khatimah.[Sdz]





