DOMPET Dhuafa terus mengembangkan berbagai inovasi program pemberdayaan sebagai upaya menghadirkan solusi berkelanjutan dalam pengentasan kemiskinan. Hal ini disampaikan pada agenda Indonesia Humanitarian Summit 2025 & Philanthropy Report, Kamis (15/1/2026).
Program-program tersebut mencakup sektor ekonomi, kesehatan, pendidikan, sosial, serta respon kemanusiaan, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Salah satu inisiatif strategis yang dijalankan adalah Industri Komunal Olahan Nanas (IKON), sebuah model agroindustri berbasis pemberdayaan masyarakat pedesaan.
Program ini bertujuan meningkatkan nilai tambah komoditas pertanian, memperluas akses pasar, serta mengurangi ketergantungan petani pada penjualan hasil panen dalam bentuk segar yang mudah rusak.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Selain itu, IKON juga diarahkan untuk memperluas penyerapan tenaga kerja lokal.
Di sektor kesehatan, Dompet Dhuafa mengembangkan program Pos Gizi sebagai bentuk intervensi pencegahan stunting melalui pendekatan perubahan perilaku.
Program ini menyediakan makanan bergizi bagi anak-anak, pemantauan tumbuh kembang secara rutin, serta edukasi kepada orang tua terkait pengolahan pangan sehat berbasis bahan lokal.
Hingga 2025, program Pos Gizi telah tersebar di 95 titik layanan di 10 provinsi.
Indonesia Humanitarian Summit 2025, Dompet Dhuafa Dorong Pemberdayaan Lewat Inovasi Program
Selain pemberdayaan, Dompet Dhuafa juga aktif dalam kerja-kerja kemanusiaan.
Pada lingkup internasional, lembaga ini menyalurkan bantuan ke wilayah terdampak krisis seperti Palestina melalui layanan kesehatan bergerak, dapur umum, distribusi bahan pangan, serta pengiriman relawan.
Sementara di dalam negeri, Dompet Dhuafa merespons berbagai bencana di Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh dengan mengerahkan relawan serta menyediakan hunian sementara, sekolah darurat, layanan kesehatan, dapur umum, hingga penyediaan air bersih.
Baca juga: Indonesia Humanitarian Summit 2025, Dompet Dhuafa Catat 41 Juta Penerima Manfaat
Wakil Menteri Luar Negeri RI Anis Matta menilai filantropi memiliki dampak penting tidak hanya secara sosial, tetapi juga secara mental dan spiritual.
“Tradisi memberi adalah bagian dari kesehatan mental. Dalam Islam, kikir disebut sebagai penyakit jiwa dan obatnya adalah memberi,” ujarnya.
Menurut Anis, dorongan untuk berbagi tidak selalu bergantung pada besarnya kekayaan, melainkan pada kesadaran sosial yang dibangun secara kolektif antara masyarakat, negara, dan sektor pasar.[Sdz]





