AKTIVIS dakwah, setegar apa pun, ia adalah manusia. Ada batas-batas tertentu di mana mereka harus dibantu.
Ada kisah menarik dari Uswah Hasanah kita, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ada suatu masa di mana Rasulullah begitu sedih. Dan, Allah pun menghiburnya.
Di tahun kesepuluh kenabian, merupakan masa yang paling sulit untuk Rasulullah. Sebelumnya, Nabi ‘ditekan’ melalui pemboikotan yang dialami Bani Hasyim, yaitu suku yang melindungi Rasulullah. Seluruh suku di Quraisy memboikot Bani Hasyim.
Selama tiga tahun hal itu berlangsung. Tidak boleh ada jual beli, tidak boleh ada perkawinan, tidak boleh ada yang bantu, dan lainnya.
Setelah hal itu usai, peristiwa duka juga dialami Rasulullah. Yaitu, wafatnya Sayyidah Khadijah, istri beliau. Tak lama kemudian, wafat pula Abu Thalib yang merupakan ‘beking’ dakwah beliau.
Peristiwa itu terjadi di Bulan Ramadan pada tahun kesepuluh kenabian.
Pada bulan Syawal, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun akhirnya berdakwah ke daerah Thaif, sebuah perkampungan di pegunungan yang lokasinya sekitar 92 kilometer dari Mekah. Nabi membayangkan akan mendapat sambutan yang baik.
Ternyata, kafir Quraisy sudah mengantisipasi langkah Nabi itu. Mereka memprovokasi warga Thaif untuk mengusir Nabi jika tiba di situ.
Benar saja. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tiba di Thaif, bukan sambutan yang diterima. Melainkan, ‘sambitan’ atau lemparan batu yang bertubi-tubi menyasar ke tubuh Nabi.
Di sebuah bukit, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bermunajat kepada Allah. Nabi juga bersedih seperti bingung harus berbuat apa lagi.
Tak lama setelah itu, Allah memperjalankan Nabi dalam peristiwa Isra dan Mi’raj. Isra merupakan perjalanan di waktu malam dari Masjid Al-Haram di Mekah menuju Masjid Al-Aqsha di Palestina.
Di Masjid Al-Aqsha, Nabi dipertemukan dengan para Nabi dan sekaligus mengimami shalat bersama mereka.
Dari situ, Nabi diberangkatkan menuju tujuh lapis langit. Di langit pertama, Nabi bertemu dengan Nabi Adam, di langit kedua bertemu dengan Nabi Isa dan Nabi Yahya, di langit ketiga bertemu dengan Nabi Yusuf, di langit keempat bertemu dengan Nabi Idris, di langit kelima bertemu dengan Nabi Harun, di langit keenam dengan Nabi Musa, dan di langit ketujuh dengan Nabi Ibrahim alaihimussalam.
Nabi bersama Malaikat Jibril tiba di langit paling tinggi, yaitu di Sidratul Muntaha. Saat itu Nabi melihat Jibril dalam wujud aslinya. Dan situ pula, Nabi menerima perintah shalat.
Sebuah perjalanan yang luar biasa: menakjubkan sekaligus memberikan energi baru untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.
Tak lama setelah peristiwa Isra Mi’raj, Allah subhanahu wata’ala juga menganugerahkan Nabi ‘masyarakat baru’ di Madinah yang siap membantu dakwahnya, menganugerahkan istri-istri yang luar biasa, dan seterusnya.
**
Ada di mana sebuah ketegaran dan kesabaran seorang aktivis dakwah dan jihad mencapai titik batas wajarnya. Meskipun seorang aktivis, ia juga seorang manusia.
Ketika ia tak lagi mampu mengandalkan kekuatan dirinya, sudah sepatutnya dibantu dan dihibur agar energi barunya tumbuh kembali.
Bersyukurlah mereka yang sigap meringankan beban para aktivis, meskipun tak diminta. Karena mereka akan meraih pahala sama seperti pahala orang-orang terbaik yang mereka bantu. [Mh]





