AMAL itu bibit yang kita tanam di dunia, di akhirat akan kita panen. Jangan pernah puas dengan amal yang ada.
Ada seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang begitu rajin beribadah ke masjid. Ia datang sebelum yang lain tiba. Posisinya shafnya tetap: di baris depan dan di bagian pojok.
Namanya Sya’ban radhiyallahu ‘anhu. Rumahnya yang paling jauh dari Masjid Nabawi. Ia butuh waktu sekitar tiga jam dengan berjalan kaki.
Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu pernah menawarkan keledai untuk Sya’ban. Hal ini agar Sya’ban bisa menyingkat waktu dan tenaga. Tapi, hal itu ia tolak.
“Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan bahwa setiap langkah akan menjadi penghapus dosa dan peningkat derajat di sisi Allah subhanahu wata’ala,” begitu kira-kira yang diucapkan Sya’ban.
Sedemikian istiqamahnya Sya’ban, sehingga Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sudah paham betul kalau di pojok kanan masjid pasti ada Sya’ban.
Suatu hari, seusai shalat berjamaah, Nabi tidak melihat Sya’ban di posisi biasanya. “Kemana?” begitu kira-kira ucap Nabi.
Karena hal ini merupakan hal yang tak pernah terjadi, maka Nabi memutuskan untuk mendatangi rumah Sya’ban, meskipun jauh.
Setibanya di rumah Sya’ban, Nabi menanyakan keadaan sahabatnya itu. Istri Sya’ban menjelaskan kalau suaminya sudah meninggal dunia.
Dalam kesempatan itu, ada yang ditanyakan istri Sya’ban tentang suaminya saat menghadapi sakaratul maut.
“Ia mengatakan tiga hal yang tidak aku tahu maksudnya. Yaitu, andai lebih jauh lagi, andai yang lebih bagus, andai semuanya,” ungkap istri Sya’ban.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan bahwa ‘andai lebih jauh lagi’ adalah jarak antara rumahnya dengan masjid yang pahalanya Allah perlihatkan begitu besar. ‘Andai yang lebih bagus’ adalah hadiah Sya’ban berupa baju kepada orang yang kedinginan. ‘Andai semuanya’ adalah sedekah Sya’ban dengan separuh roti kepada orang kelaparan.
Dalam sakaratul maut, Allah memperlihatkan Sya’ban tentang balasan pahala yang ia lakukan. Karena itulah, ia menyebut tiga kalimat itu sebagai ‘penyesalan’ sekiranya bisa lebih baik dari yang ia lakukan.
**
Allah menghijab pandangan kita antara apa yang ada di dunia dengan apa yang ada di akhirat kelak. Sekiranya, hijab itu Allah angkat, tak seorang pun yang akan merasa puas dengan amal terbaik yang bisa ia lakukan. [Mh]





