KEBOSANAN dalam pernikahan adalah fenomena yang umum terjadi dalam banyak hubungan pernikahan.
Kebosanan dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti kurangnya komunikasi, kurangnya intimasi, kurangnya aktivitas bersama, kurangnya perubahan dalam dinamika pernikahan, atau dapat juga kurangnya penghargaan.
Konselor Keluarga sekaligus Founder Wonderful Family Institute, Cahyadi Takariawan menjelaskan tentang kebosanan berlebihan dalam sebuah pernikahan.
Hafiz Muneeb (2022) menyatakan, “Pernikahan adalah hubungan terindah di dunia. Namun sayangnya, kita merusak hubungan ini karena ego kita”.
Bulan madu di awal pernikahan yang sedemikian syahdu, bisa rusak oleh sikap egois, tidak bersedia beradaptasi dengan pasangan, dan menuntut pasangan secara berlebihan.
Ketika pasangan suami istri dilanda kebosanan dalam pernikahan, dengan berbagai upaya serius, telah mampu keluar dari masalah tersebut.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
View this post on Instagram
Namun ada kalanya, berbagai upaya telah dilakukan, dan tak bisa mengatasi persoalan kebosanan atau kelelahan.
Rasa lelah sedemikian mendera suasana pernikahan mereka.
Rumah tangga tak lagi menjadi surga, namun telah berubah menjadi penjara yang menyiksa.
Dalam kondisi seperti itu, hendaknya pasangan suami istri tidak membiarkan kebosanan dan kelelahan bercokol dalam kehidupan pernikahan.
Segera lakukan tindakan yang bisa mengurai kondisi defisit cinta tersebut.
Salah satunya adalah mengikuti bimbingan atau konseling pernikahan.
Kebosanan Berlebihan dalam Pernikahan
Baca juga: Ketahui Penyebab Rasa Bosan dalam Rumah Tangga
Dalam proses bimbingan maupun konseling, pasangan suami istri akan mendapatkan cara pandang baru, yang berbeda dari perspektif subjektif mereka.
Kebosanan dan kelelahan dalam pernikahan yang berlebihan, akan mendorong hadirnya suasana emosional pada suami maupun istri.
Mereka tidak bisa berpikir jernih dan tenang. Mereka dibanjiri oleh emosi negatif yang membuat suasana semakin panas dan tegang.
Itu sebabnya mereka memerlukan pandangan ahli dalam melihat persoalan yang mereka hadapi.
Mereka harus berani keluar dari subjektivitas, untuk melihat kondisi hubungan mereka secara lebih objektif.
Ini hanya bisa dilakukan oleh orang lain, seorang expert, bukan oleh diri mereka sendiri.
Salah satu benefit yang bisa didapatkan dengan mengikuti bimbingan dan konseling adalah perubahan cara pandang dan perilaku menjadi lebih positif dan adaptif.[Sdz]