DESA tanpa jalan raya mungkin terdengar seperti tempat yang sulit dijangkau, tetapi kondisi tersebut justru menjadi daya tarik utama Giethoorn, sebuah desa kecil di Provinsi Overijssel, Belanda. Alih-alih dipenuhi kendaraan bermotor dan jalanan beraspal, desa ini memiliki kanal-kanal air yang menghubungkan rumah-rumah penduduk. Perahu menjadi salah satu sarana transportasi utama, menciptakan suasana kehidupan yang berbeda dari kawasan perkotaan pada umumnya.
Namun, di balik pemandangannya yang menyerupai negeri dongeng, kehidupan sehari-hari penduduk Giethoorn sebenarnya berlangsung seperti masyarakat pada umumnya. Mereka tetap bekerja, berbelanja, mengunjungi tetangga, dan menjalankan berbagai aktivitas, hanya saja dengan cara yang sedikit berbeda.
Mengenal Giethoorn, Desa Tanpa Jalan Raya di Belanda
Giethoorn merupakan desa yang memiliki kawasan permukiman bersejarah dengan kanal sebagai bagian penting dari kehidupan masyarakatnya. Sebagian besar pusat desa tidak dilalui kendaraan bermotor sehingga penduduk mengandalkan jalur air, jalan setapak, dan jembatan kecil untuk berpindah tempat.
Keunikan tersebut tidak terbentuk begitu saja. Sejarah Giethoorn berkaitan dengan aktivitas penambangan gambut yang dilakukan para pendatang sekitar abad ke-13. Penggalian gambut secara bertahap membentuk kolam dan saluran air yang kemudian berkembang menjadi jaringan kanal seperti sekarang.
Kawasan ini memiliki lebih dari 160 jembatan yang menghubungkan rumah, taman, dan jalur pejalan kaki. Tidak mengherankan apabila kehidupan masyarakatnya sangat dekat dengan lingkungan perairan.
Bagaimana Penduduk Giethoorn Menjalani Aktivitas Sehari-hari?
Meskipun tidak memiliki jalan raya di pusat permukiman bersejarahnya, penduduk Giethoorn tetap menjalankan kehidupan secara normal. Perahu menjadi salah satu sarana transportasi untuk menjangkau tempat-tempat yang berada di sepanjang kanal.
Warga dapat menggunakan perahu kecil untuk berpindah dari rumah menuju kawasan lain. Selain itu, berjalan kaki melewati jembatan kayu juga menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari. Sepeda turut digunakan pada jalur darat yang tersedia di sekitar desa.
Kegiatan sederhana seperti berbelanja pun tetap dapat dilakukan. Terdapat fasilitas perdagangan dan kebutuhan sehari-hari yang dapat dijangkau melalui jalur darat maupun kawasan perairan di sekitarnya.
Dengan demikian, tidak adanya jalan raya bukan berarti masyarakat terisolasi. Mereka justru menyesuaikan sistem mobilitas dengan kondisi geografis dan infrastruktur yang telah terbentuk selama bertahun-tahun.
Baca Juga: Donguri Village, Desa Wisata Pertanian Jepang Akan Ditutup pada Musim Gugur 2027
Desa Tanpa Jalan Raya: Bagaimana Kehidupan Sehari-hari Penduduk Giethoorn?
Perahu Menjadi Bagian dari Kehidupan Masyarakat
Di Giethoorn, perahu bukan sekadar sarana rekreasi wisatawan. Keberadaan transportasi air merupakan bagian penting dari identitas desa tersebut.
Salah satu jenis perahu yang dikenal adalah whisper boat, yaitu perahu bermesin listrik yang menghasilkan suara relatif senyap. Kendaraan air ini memungkinkan penggunanya menyusuri kanal tanpa menimbulkan kebisingan seperti mesin perahu konvensional.
Selain perahu listrik, masyarakat dan pengunjung juga mengenal punter, perahu tradisional yang digerakkan menggunakan tongkat panjang untuk mendorongnya melewati perairan dangkal.
Menariknya, aktivitas transportasi air ini turut membentuk suasana lingkungan yang berbeda. Kanal tidak hanya menjadi jalur perpindahan, tetapi juga bagian dari ruang sosial yang menghubungkan kehidupan masyarakat.
Perspektif Islam tentang Air sebagai Sarana Kehidupan Manusia
Kehidupan masyarakat Giethoorn memperlihatkan bagaimana perairan dapat dimanfaatkan sebagai bagian dari aktivitas dan kebutuhan manusia. Dalam Islam, laut dan sumber daya perairan merupakan salah satu nikmat Allah yang memiliki banyak manfaat bagi kehidupan.
Hal ini dijelaskan dalam QS. An-Nahl ayat 14:
“Dan Dialah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan daging yang segar (ikan) darinya, dan (dari lautan itu) kamu mengeluarkan perhiasan yang kamu pakai. Kamu (juga) melihat perahu berlayar padanya, dan agar kamu mencari sebagian karunia-Nya, dan agar kamu bersyukur.”
(QS. An-Nahl: 14)
Ayat tersebut menjelaskan berbagai manfaat laut bagi manusia, termasuk sebagai tempat berlayarnya kapal untuk menunjang aktivitas dan mencari rezeki. Kandungannya mengingatkan bahwa alam menyediakan berbagai sarana yang dapat dimanfaatkan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Meskipun konteks ayat ini membahas lautan, nilai yang terkandung di dalamnya dapat menjadi refleksi ketika melihat kehidupan masyarakat Giethoorn. Kanal dan perairan di desa tersebut menjadi bagian dari lingkungan yang dimanfaatkan untuk menunjang mobilitas sehari-hari.
Pemanfaatan alam juga perlu disertai rasa syukur dan tanggung jawab untuk menjaganya. Dengan begitu, manusia tidak hanya mengambil manfaat dari lingkungan, tetapi juga memiliki kewajiban untuk memelihara keseimbangannya.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Giethoorn, Gambaran Kehidupan yang Berdampingan dengan Alam
Giethoorn menunjukkan bahwa kehidupan masyarakat tidak selalu harus bergantung pada kendaraan bermotor dan jalan raya. Dengan memanfaatkan kanal, jembatan, serta jalur pejalan kaki, penduduknya tetap dapat menjalankan berbagai aktivitas sehari-hari.
Keunikan desa ini bukan hanya terletak pada keindahan rumah-rumah tradisional dan perairannya, melainkan juga pada cara masyarakat beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Di tengah kehidupan modern yang identik dengan kemacetan dan mobilitas cepat, Giethoorn menghadirkan gambaran berbeda tentang hubungan antara manusia, transportasi, dan alam. [Ssh]





