MELANJUTKAN halaman sebelumnya yaitu nasihat Ustazah Aan Rohanah untuk menunaikan kewajiban sebelum mendapatkan hak.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah mencontohkan mendahulukan kewajiban dari pada hak dan cara bergaul yang terbaik dengan pasangan hingga merasakan rumah itu sebagai surga baginya di dunia.
Karena itu suami dan istri hendaknya memiliki prinsip bahwa melaksanakan kewajiban kepada pasangan itu harus dengan ikhtiar dan cara yang terbaik agar bisa benar-benar membahagiakannya.
خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِى. (رواه الترمذى)
“Sebaik-baik kalian adalah (suami) yang paling baik terhadap keluarganya dan aku adalah yang paling baik terhadap keluargaku.” (HR. Tirmizi).
Mendahulukan hak dari pada kewajiban akan mengakibatkan kerugian spiritual sebagai sebuah kesalahan dari pribadi yang buruk dan tidak bertanggung jawab, hilangnya rasa hormat, serta jauh dari kedamaian dan keharmonisan.
Dengan memprioritaskan kewajiban, maka suami istri dapat membangun tanggung jawab, memprioritaskan kebahagiaan pasangan dan membangun keharmonisan serta mengembangkan kepribadian menjadi lebih mulia dan mendapatkan ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Menunaikan Kewajiban Sebelum Mendapatkan Hak (2)
View this post on Instagram
Baca juga: Menunaikan Kewajiban Sebelum Mendapatkan Hak (1)
Jika kewajiban diabaikan oleh suami atau istri maka akan menjadi penyebab timbulnya konflik yang bisa berujung pada,perceraian.
Oleh karena itu, suami istri harus merasa penting untuk melaksanakan kewajiban dengan baik kepada pasangan sehingga keluarga bisa bertahan dan mereka layak mendapatkan hak-haknya.
Jika mereka saling mencintai dengan tulus karena Allah, maka mereka akan mengutamakan kewajiban daripada hak-haknya, sehingga membuat sikap mereka lebih mulia, karena dapat membuat mereka bersikap itsar yaitu lebih mengutamakan kesenangan pasangan daripada kesenangan dirinya.
Hal inilah yang akan membuat hidup mereka benar-benar bahagia. Seperti yang terjadi pada kehidupan kaum Muhajirin dan kaum Anshar di masa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Allah berfirman:
وَيُؤۡثِرُونَ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ وَلَوۡ كَانَ بِهِمۡ خَصَاصَةٞۚ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفۡسِهِۦ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ ( الحَشۡرِ: ٩)
“Dan mereka mengutamakan (Muhajirin) atas diri mereka sendiri, meskipun mereka juga memerlukan. Dan siapa yang dijaga dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Al-Hasyer: 9).[Sdz]