KEHIDUPAN dunia sering kali membuat manusia sibuk mengejar berbagai hal. Ada yang bekerja keras untuk mengumpulkan harta. Ada yang berusaha mempercantik penampilan agar terlihat menarik. Ada pula yang menghabiskan banyak waktu untuk mengejar jabatan dan kedudukan. Semua itu seolah menjadi ukuran keberhasilan seseorang dalam menjalani kehidupan.
Tidak ada yang salah dengan keinginan memiliki kehidupan dunia yang nyaman. Islam juga tidak melarang umatnya bekerja keras untuk mendapatkan rezeki dan menikmati berbagai nikmat yang Allah berikan. Namun ada satu hal yang tidak boleh dilupakan yaitu kehidupan akhirat.
Jangan sampai kesibukan memperindah dunia membuat kita lupa bahwa suatu hari nanti semua yang dimiliki akan ditinggalkan. Harta tidak akan ikut masuk ke dalam kubur. Kecantikan akan memudar dan jabatan tidak lagi memiliki arti ketika ajal telah tiba. Sementara itu amal kebaikan akan menjadi bekal yang sangat berarti dalam perjalanan menuju kehidupan abadi.
Mengapa Kita Tidak Boleh Terlalu Sibuk Memperindah Dunia hingga Melupakan Akhirat?
1. Dunia Hanya Tempat Persinggahan Sementara
Manusia sering kali merasa bahwa kehidupan dunia adalah segalanya. Padahal dunia hanyalah tempat persinggahan sebelum menuju kehidupan akhirat.
Allah mengingatkan dalam QS. Al-Hadid ayat 20 bahwa kehidupan dunia merupakan permainan dan sesuatu yang melalaikan serta menjadi tempat bermegah-megahan dan berlomba dalam kekayaan maupun anak keturunan.
Ayat tersebut mengajarkan bahwa kesenangan dunia tidak bersifat abadi. Apa yang hari ini membuat kita bahagia bisa saja suatu saat hilang. Kekayaan yang dikumpulkan selama bertahun-tahun dapat habis dan kedudukan yang dibanggakan bisa saja berakhir.
Karena itu penting bagi seorang muslim untuk tidak menjadikan dunia sebagai tujuan utama. Nikmatilah kehidupan dengan penuh rasa syukur tetapi jangan sampai melupakan tujuan akhir penciptaan manusia yaitu beribadah kepada Allah.
2. Harta Bukanlah Bekal Utama Menuju Akhirat
Memiliki harta yang cukup tentu menjadi keinginan banyak orang. Dengan harta seseorang dapat memenuhi kebutuhan keluarga dan membantu orang lain. Bahkan harta juga bisa menjadi sarana untuk melakukan berbagai kebaikan.
Namun harta bukanlah ukuran kemuliaan seseorang di hadapan Allah. Banyaknya kekayaan tidak menjamin seseorang mendapatkan kebahagiaan di akhirat.
Dalam QS. Asy-Syu’ara ayat 88-89 Allah menjelaskan bahwa pada hari ketika harta dan anak-anak tidak lagi berguna kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih.
Oleh karena itu jangan hanya sibuk mengumpulkan kekayaan tetapi lupa menggunakannya untuk kebaikan. Sisihkan sebagian rezeki untuk bersedekah dan membantu orang yang membutuhkan. Gunakan harta untuk memenuhi kebutuhan keluarga serta mencari rida Allah.
Sebab yang akan memberikan manfaat bukan sekadar jumlah harta yang dimiliki melainkan bagaimana harta tersebut diperoleh dan digunakan.
3. Kecantikan dan Penampilan Tidak Bersifat Abadi
Merawat diri merupakan hal yang diperbolehkan dalam Islam. Seseorang boleh menjaga kebersihan dan memperhatikan penampilan sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat tubuh yang diberikan Allah.
Namun jangan sampai penampilan menjadi sesuatu yang terlalu dibanggakan hingga membuat seseorang melupakan kewajibannya sebagai hamba Allah.
Kecantikan fisik akan mengalami perubahan seiring bertambahnya usia. Kulit yang dahulu kencang akan mengalami penuaan. Rambut yang dahulu hitam bisa memutih dan kekuatan tubuh perlahan berkurang.
Karena itu jangan hanya sibuk memperindah penampilan luar tetapi lupa mempercantik hati dengan keimanan dan akhlak yang baik.
Jadikan kecantikan sebagai sesuatu yang disyukuri bukan alasan untuk merendahkan orang lain. Sebab kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh rupa maupun penampilannya melainkan oleh ketakwaannya kepada Allah.
4. Kedudukan dan Jabatan Tidak Akan Dibawa ke Alam Kubur
Ada orang yang menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk mengejar jabatan dan pengakuan manusia. Berbagai cara dilakukan agar mendapatkan posisi yang lebih tinggi dan dihormati oleh banyak orang.
Padahal kedudukan di dunia hanya bersifat sementara. Ketika seseorang meninggal dunia semua gelar dan jabatan akan ditinggalkan.
Apa yang dahulu dibanggakan tidak lagi dapat menolongnya. Bahkan orang yang memiliki kedudukan tinggi sekalipun tetap akan kembali kepada Allah untuk mempertanggungjawabkan seluruh perbuatannya.
Karena itu gunakan kedudukan sebagai kesempatan untuk memberikan manfaat. Jika memiliki kekuasaan bantulah orang lain. Jika memiliki ilmu bagikanlah ilmu tersebut dan jika memiliki kemampuan gunakan untuk menebarkan kebaikan.
5. Perbanyak Amal Kebaikan sebagai Bekal Akhirat
Jika harta dan kedudukan akan ditinggalkan lalu apa yang sebaiknya dipersiapkan untuk kehidupan akhirat?
Jawabannya adalah memperbanyak amal saleh. Mulailah dengan menjaga salat lima waktu dan membaca Al-Qur’an. Perbanyak zikir serta istigfar dan biasakan bersedekah meskipun jumlahnya sedikit.
Jangan pula meremehkan kebaikan sederhana seperti membantu orang tua menjaga lisan dan memberikan senyuman kepada sesama.
Rasulullah SAW mengajarkan bahwa ketika manusia meninggal dunia seluruh amalnya terputus kecuali tiga perkara yaitu sedekah jariyah ilmu yang bermanfaat dan doa anak saleh. Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim.
Artinya ada amalan yang pahalanya dapat terus mengalir meskipun seseorang telah meninggalkan dunia.
6. Seimbangkan Kehidupan Dunia dan Persiapan Akhirat
Mempersiapkan akhirat bukan berarti harus meninggalkan pekerjaan atau mengabaikan tanggung jawab di dunia. Seorang muslim tetap perlu bekerja dan berusaha memenuhi kebutuhan hidup.
Namun semua aktivitas tersebut sebaiknya diniatkan sebagai ibadah. Bekerja untuk menafkahi keluarga mencari rezeki halal dan membantu sesama juga dapat bernilai kebaikan jika dilakukan dengan niat yang benar.
Jangan menunggu tua untuk mulai memperbaiki diri. Jangan menunggu sakit untuk kembali menjaga salat dan jangan menunggu kehilangan untuk menyadari betapa berharganya waktu.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Sebab kita tidak pernah mengetahui kapan kesempatan hidup akan berakhir.
Pada akhirnya dunia bukan tempat untuk mengumpulkan sebanyak-banyaknya kemewahan. Dunia adalah kesempatan untuk menanam amal kebaikan sebagai bekal menuju akhirat.
Semoga Allah tidak menjadikan dunia sebagai tujuan terbesar dalam hati kita. Semoga setiap harta yang diperoleh menjadi jalan kebaikan dan setiap langkah kehidupan selalu mendekatkan kita kepada-Nya. Aamiin ya Rabbal alamiin. [DW]
Sumber: Ustadzah Halimah Alaydrus





