SERING kali yang membuat hati lelah bukan karena kita benar-benar sedang kekurangan, melainkan karena terlalu jauh memikirkan kemungkinan kekurangan yang belum tentu terjadi.
Hari ini rezeki masih ada. Masih bisa makan, masih bisa bekerja, masih memiliki tempat untuk pulang, dan masih diberi kesempatan menjalani kehidupan. Namun, pikiran sudah sibuk bertanya tentang hari esok. Bagaimana kalau penghasilan berkurang? Bagaimana kalau kebutuhan semakin banyak? Bagaimana kalau ada sesuatu yang tidak terduga?
Baca Juga: Mengenal Apa itu Creatine dan Apa Saja Manfaatnya
Jangan Takut Kekurangan Saat Allah Masih Memberi Rezeki
Kekhawatiran seperti itu sangat manusiawi. Kita memiliki tanggung jawab, kebutuhan, dan berbagai hal yang memang harus dipikirkan. Akan tetapi, jangan sampai kekhawatiran terhadap masa depan membuat kita lupa mensyukuri rezeki yang sudah Allah berikan hari ini.
Allah mengingatkan bahwa tidak ada satu pun makhluk di bumi melainkan rezekinya telah Allah tanggung.
Ayat tersebut bukan berarti manusia boleh berhenti bekerja dan tidak perlu berusaha. Rezeki tetap perlu dijemput dengan ikhtiar. Kita tetap perlu bekerja, merencanakan keuangan, menabung, belajar, dan berusaha memperbaiki kehidupan. Namun, setelah semua ikhtiar dilakukan, ada bagian yang harus diserahkan kepada Allah.
Kadang persoalannya bukan karena kita tidak tahu bahwa Allah adalah pemberi rezeki. Kita tahu. Kita sering mendengarnya dalam ceramah, membaca ayatnya, bahkan mengucapkannya dalam doa. Tetapi ketika keadaan mulai tidak sesuai harapan, hati kita kembali gelisah seolah-olah semuanya bergantung pada kemampuan diri sendiri.
Di situlah pentingnya membangun tawakal.
Tawakal bukan berarti duduk diam menunggu pertolongan. Tawakal adalah berusaha sebaik mungkin sambil meyakini bahwa hasil akhirnya berada dalam ketetapan Allah. Kita bekerja dengan sungguh-sungguh, tetapi tidak menggantungkan ketenangan hati sepenuhnya pada pekerjaan. Kita boleh memiliki target penghasilan, tetapi jangan sampai kehilangan ketenangan hanya karena target tersebut belum tercapai.
Ada kalanya Allah memberikan rezeki melalui jalan yang tidak pernah kita bayangkan. Ada pula masa ketika rezeki terasa sempit, tetapi ternyata dari keadaan tersebut kita belajar bersabar, mengatur kebutuhan, dan semakin mengenal Allah.
Maka, ketika rasa takut tentang masa depan mulai muncul, cobalah kembali melihat hari ini. Bukankah sampai saat ini Allah masih mencukupkan banyak hal yang kita perlukan?
Mungkin yang perlu diperbaiki bukan hanya cara kita mencari rezeki, tetapi juga cara kita memandang Sang Pemberi Rezeki.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Berusahalah, tetapi jangan hidup dalam ketakutan. Rencanakan masa depan, tetapi jangan biarkan masa depan yang belum terjadi mencuri ketenangan hari ini.
Sebab rezeki bukan hanya tentang jumlah yang kita miliki. Ada ketenangan, kesehatan, keluarga, waktu, kesempatan, dan banyak nikmat lain yang sering baru kita sadari setelah kehilangannya.
Semoga Allah menguatkan ikhtiar kita, melapangkan rezeki, dan terutama menenangkan hati agar kita benar-benar percaya bahwa Dia tidak pernah lalai terhadap hamba-Nya. [DW]
Sumber: Ustadzah Aisyah Farid





