DALAM rumah tangga, luka hati tidak selalu muncul karena pertengkaran besar. Terkadang, justru ucapan sederhana, sikap sehari-hari, atau kebiasaan yang dianggap sepele dapat membuat suami merasa tidak dihargai.
Sebagian istri mungkin tidak bermaksud menyakiti. Namun, tanpa disadari, kebiasaan tertentu bisa mengikis kedekatan dan keharmonisan pernikahan.
Berikut 10 perbuatan yang perlu diwaspadai agar hubungan suami istri tetap terjaga dalam kasih sayang dan keberkahan.
1- Meremehkan Usaha Suami
Suami mungkin sudah berusaha keras mencari nafkah, tetapi hasilnya belum sesuai harapan. Jika usahanya terus dibandingkan dengan orang lain, ia bisa merasa perjuangannya tidak dihargai.
Allah berfirman: “Dan bergaullah dengan mereka menurut cara yang patut.” (QS. An-Nisa’: 19).
Ayat ini ditujukan kepada para suami dalam konteks memperlakukan istri, tetapi prinsip bergaul dengan baik juga menjadi pengingat penting bagi kedua pasangan. Hargai usaha pasangan, meskipun hasilnya belum sempurna.
BACA JUGA: Saat Istri Hamil, Suami Istri Harus Lebih Berhati-hati dengan Maksiat
2- Membandingkan Suami dengan Laki-laki Lain
“Suami si Fulan bisa membelikan rumah, masa kamu tidak?”
Kalimat seperti ini mungkin keluar saat istri sedang kecewa. Namun, perbandingan yang terus-menerus dapat membuat suami merasa gagal dan kehilangan kepercayaan diri.
Setiap keluarga memiliki kemampuan, ujian, dan perjalanan rezeki yang berbeda. Lebih baik membicarakan kebutuhan secara terbuka daripada menjadikan kehidupan orang lain sebagai ukuran kebahagiaan rumah tangga.
3- Membuka Aib Suami kepada Orang Lain
Menceritakan kekurangan suami kepada teman, keluarga, atau media sosial tanpa pertimbangan dapat melukai harga dirinya dan merusak kepercayaan.
Jika menghadapi masalah rumah tangga, istri boleh mencari nasihat dari orang yang amanah dan kompeten. Namun, tujuannya harus untuk mencari solusi, bukan mempermalukan suami atau mengundang orang lain mencelanya.
Rasulullah ﷺ mengingatkan pentingnya menjaga rahasia hubungan suami istri. (HR. Muslim, no. 1437).
4- Mengungkit Kesalahan Masa Lalu
Kesalahan yang sudah dibicarakan dan diselesaikan sebaiknya tidak terus-menerus dijadikan senjata ketika bertengkar.
Mengungkit kesalahan lama dapat membuat pasangan merasa tidak pernah diberi kesempatan untuk berubah.
Jika masalah memang belum selesai, bicarakan kembali dengan tenang. Namun, jika sudah ada pengakuan dan perbaikan, berusahalah memberi ruang bagi pasangan untuk menjadi lebih baik.
5- Mengabaikan Perasaan Suami
Suami juga bisa merasa sedih, kecewa, cemas, dan lelah. Sayangnya, sebagian orang menganggap laki-laki harus selalu kuat sehingga tidak perlu diperhatikan perasaannya.
Padahal, suami pun membutuhkan tempat untuk bercerita tanpa langsung dihakimi atau dianggap lemah.
Mendengarkan dengan sungguh-sungguh, memberi dukungan, dan bertanya tentang keadaannya dapat menjadi bentuk kasih sayang yang sederhana, tetapi bermakna.
6- Berbicara Kasar ketika Marah
Saat emosi memuncak, seseorang mudah mengucapkan kata-kata yang melukai hati. Ejekan, penghinaan, dan sindiran tajam dapat meninggalkan bekas meskipun pertengkaran telah selesai.
Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Nasihat ini berlaku bagi suami maupun istri. Ketika marah, menunda pembicaraan sampai pikiran lebih tenang sering kali jauh lebih baik daripada memaksakan diri untuk menang dalam pertengkaran.
7- Menganggap Pengorbanan Suami sebagai Kewajiban Semata
Nafkah memang merupakan kewajiban suami sesuai ketentuan syariat. Namun, menghargai kewajiban pasangan berbeda dengan menganggap semua pengorbanannya tidak perlu diapresiasi.
Ucapan terima kasih, doa, atau perhatian sederhana dapat membuat suami merasa kehadirannya berarti.
Begitu pula, suami harus menghargai pekerjaan domestik, pengasuhan anak, dan pengorbanan istri. Rumah tangga yang sehat tidak menjadikan kewajiban sebagai alasan untuk meremehkan pasangan.
8- Mendiamkan Suami tanpa Penjelasan
Ketika kecewa, seseorang terkadang memilih diam. Mengambil jeda untuk menenangkan diri tentu boleh. Namun, mendiamkan pasangan berlarut-larut tanpa menjelaskan masalah dapat membuat komunikasi semakin sulit.
Suami mungkin tidak memahami apa yang sebenarnya terjadi, sementara istri semakin kecewa karena merasa tidak dimengerti.
Lebih baik sampaikan dengan jelas, misalnya, “Aku sedang kecewa dan butuh waktu untuk tenang. Nanti kita bicarakan baik-baik.”
Dengan begitu, pasangan mengetahui bahwa masalah sedang dihadapi, bukan sekadar dibiarkan menggantung.
9- Mengabaikan Kedekatan dan Kemesraan
Kesibukan pekerjaan, anak, dan urusan rumah tangga dapat membuat pasangan lupa menyediakan waktu untuk satu sama lain.
Padahal, perhatian kecil seperti menyapa dengan hangat, duduk bersama, atau menanyakan kabar dapat menjaga kedekatan emosional.
Kemesraan juga perlu dibangun melalui komunikasi dan penghormatan terhadap kondisi masing-masing. Kebutuhan fisik dan emosional suami maupun istri layak dibicarakan tanpa paksaan atau saling menyalahkan.
10- Jarang Mengucapkan Terima Kasih dan Meminta Maaf
Ada pasangan yang mudah mengkritik, tetapi sulit mengapresiasi. Kesalahan kecil cepat dibicarakan, sedangkan kebaikan pasangan dianggap biasa.
Padahal, ucapan terima kasih menunjukkan penghargaan, sementara permintaan maaf menunjukkan kerendahan hati.
BACA JUGA: Makna Suami Istri Bagai Pakaian
Rasulullah ﷺ bersabda: “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya, dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istrinya.” (HR. Tirmidzi, no. 1162).
Hadis ini secara khusus mengingatkan suami tentang pentingnya berakhlak baik kepada istri. Prinsipnya juga mengajarkan bahwa kualitas hubungan sangat berkaitan dengan akhlak dalam memperlakukan pasangan.
Menjaga Hati Pasangan adalah Tanggung Jawab Bersama
Saudariku, tidak ada istri yang sempurna, sebagaimana tidak ada suami yang bebas dari kekurangan. Yang terpenting bukanlah siapa yang paling sering melakukan kesalahan, melainkan siapa yang mau menyadari, memperbaiki diri, dan belajar memahami pasangannya.
Jangan sampai keinginan untuk dihargai membuat kita lupa menghargai. Jangan pula karena merasa paling banyak berkorban, kita menganggap perasaan pasangan tidak penting.
Pernikahan bukan tentang dua orang yang tidak pernah saling menyakiti, melainkan tentang dua orang yang bersedia memperbaiki diri ketika menyadari telah melukai.
Semoga Allah menjadikan rumah tangga kita dipenuhi kasih sayang, komunikasi yang baik, dan akhlak yang mulia. Aamiin. []




