DUNIA ini mazra’at atau tempat berladang untuk hidup di akhirat. Jangan salah paham tentang kehidupan di dunia ini.
Satu, Dunia Ini bukan Tujuan tapi Ujian
Jangan salah memahami bahwa kehidupan saat ini sebagai tujuan: karir, prestasi, popularitas, dan lainnya. Dunia ini hanya sebagai tempat kita diuji.
Karena itu, jangan kecewa dengan hal yang tidak menyenangkan dalam kehidupan ini. Karena itulah tandanya kita sedang diuji: sabar atau tidak.
Misalnya, cita-cita yang tidak sesuai yang diinginkan, kegagalan yang terus terjadi, rezeki yang sempit, bahkan susahnya jodoh atau anak.
Dengan kata lain, bukan kita yang menentukan hasil, tapi Allah subhanahu wata’ala. Kita hanya bisa berikhtiar sebaik mungkin. Dan jika gagal, segala ikhtiar terbaik kita tidak diukur dari sukses atau gagalnya. Tapi, dari sikap kita menilai akhir yang dicapai itu: bersyukur atau bersabar.
Dua, Dunia Ini Hanya Sementara
Karena hanya sebagai arena ujian, Allah subhanahu wata’ala menjadikan dunia ini tidak perlu lama-lama. Hanya sementara, termasuk untuk ukuran pribadi masing-masing.
Usia umumnya kita berkisar antara 60 hingga 70 tahunan. Waktu yang tergolong singkat untuk ukuran usia kehidupan seluruhnya.
Hikmah dari kehidupan sementara ini, agar kita tidak terlalu banyak, capek, sakit, dalam melalui ujian yang panjang. Dengan usia yang tidak terlalu lama ini, potensi untuk gagal dalam ujian diharapkan lebih kecil karena diakhiri dengan durasi waktu hidup kita di dunia ini.
Karena itu pula, jangan salah paham dengan kematian. Kematian bukan akhir segalanya. Melainkan, sebagai tempat untuk mendapatkan hasil kerja kita di dunia. Selain tentunya, sebagai tempat curahan Rahmat Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang.
Tiga, Segala Hal Sudah Allah Tentukan
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sudah mengabarkan bahwa segala hal sudah Allah tentukan tentang diri kita: tentang usia, rezeki, amal baik dan buruk, dan lainnya. Hal itu sudah Allah tentukan ketika kita berada di perut ibu.
Pemahaman ini jangan disalahartikan sehingga kita tak perlu berikhtiar atau hanya pasrah saja. Pemahaman ini dimaksudkan agar kita senantiasa memohon yang terbaik kepada Allah subhanahu wata’ala. Karena apa yang Allah sudah tentukan, bisa diubah dengan Kehendak Allah sendiri dengan permohonan doa kita.
Jadi, biasakan untuk mendahulukan doa sebelum berikhtiar. Dan yakinlah bahwa apa pun hasil yang Allah tentukan setelah doa terbaik kita, merupakan hasil yang terbaik yang Allah berikan.
Boleh jadi, apa yang baik menurut kita merupakan hal buruk menurut Allah subhanahu wata’ala. Begitu pun hal yang buruk menurut kita, boleh jadi sebagai hal yang baik menurut Allah subhanahu wata’ala.
Jaga baik sangka kita kepada Allah subhanahu wata’ala. Selalu ridha dengan apa pun yang Allah anugerahkan untuk kita. Dengan begitu, Allah akan ridha dengan sekecil apa pun amal yang bisa kita lakukan selama hidup ini. [Mh]


