CACAT tidak menjadi alasan untuk malas berjuang. Setidaknya, disesuaikan dengan kemampuan.
Di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ada seorang sahabat Nabi yang cacat. Ia bernama Abdullah bin Ummi Maktum radhiyallahu ‘anhu. Matanya buta sejak kecil.
Kebutaan menjadikan hatinya begitu sangat peka. Ia tergolong sahabat Nabi yang pertama masuk Islam. Selain itu, Abdullah juga mengenal dekat Nabi sejak kecil. Ia masih sepupu dengan istri Nabi: Sayyidah Khadijah binti Khuwailid radhiyallahu ‘anha.
Kedudukannya di sisi Allah begitu mulia. Bahkan, kisahnya ingin belajar Islam dengan Nabi menjadi sebab turunnya Surah Abasa.
Tergolong yang Pertama Hijrah ke Madinah
Abdullah bin Ummi Maktum tergolong sahabat yang pertama hijrah ke Madinah. Meski ada keterbatasan fisik, semangatnya menunaikan perintah Allah untuk berhijrah tetap tinggi. Ia tercatat sebagai sahabat Nabi yang masuk dalam rombongan kedua setelah Mush’ab bin Umair radhiyallahu ‘anhu.
Di Madinah, ia mengambil peran sangat penting untuk membantu Mush’ab bin Umair. Ia menjadi guru Al-Qur’an untuk warga Madinah yang baru mengenal Islam.
Selain sebagai guru Al-Qur’an, beliau juga menjadi muazin selain Bilal. Terutama dalam mengumandangkan azan Subuh.
Menjadi Pejabat Pengganti Rasulullah
Selain sebagai guru Al-Qur’an, Abdullah juga kerap diamanahkan Nabi sebagai pejabat pengganti. Yaitu, ketika Rasulullah dan para sahabat berangkat jihad.
Di antara jihad yang menjadikan Abdullah sebagai pejabat pengganti Nabi di Madinah adalah Perang Uhud, Khandak, Penaklukan Bani Nadhir, dan Perjanjian Hudaibiyah.
Selain sebagai pejabat pengganti, Abdullah bin Ummi Maktum juga sebagai imam shalat di Masjid Nabawi, menggantikan posisi Rasulullah.
Bersikeras untuk Ikut Jihad
Abdullah bin Ummi Maktum sebenarnya ingin sekali ikut dalam barisan jihad. Di masa Khalifah Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu, keinginan itu akhirnya tak tertahankan. Ia bersikeras untuk ikut dalam barisan jihad Al-Qadishiyah. Jihad itu merupakan upaya penaklukan wilayah Persia.
Di bawah komando Saad bin Abi Waqash, Abdullah bin Maktum akhirnya bisa merasakan suasana berjihad. Ia mengenakan baju besi. Dan di peperangan itulah, Abdullah bin Ummi Maktum syahid.
Inilah rupanya yang selama ini ia idam-idamkan. Meski buta, ia ingin mati dalam jihad fi sabilillah. Dan Allah subhanahu wata’ala mengabulkan keinginannya.
**
Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai kesanggupannya. Tapi, tidak semua hamba Allah merasa dirinya tak sanggup.
Dorongan iman dan semangat jihad, bahkan orang yang dimaklumi tak sanggup pun bisa bangkit dan melupakan kekurangan fisiknya.
Yang terbatas itu fisiknya. Tapi, jiwa dan semangatnya tetap menyala melampaui mereka yang normal.
Semoga ini menjadi cerminan kita bahwa keterbatasan fisik tidak menjadi halangan untuk tetap berdakwah dan berjihad. [Mh]




