ILMU itu cahaya Allah yang menerangi hati seseorang. Jagalah kesucian cahaya itu agar ilmu tidak ‘terganggu’.
Ada pengalaman menarik dari ulama besar seperti Imam Syafi’i rahimahullah. Suatu kali ketika dalam sebuah perjalanan, tanpa disengaja, beliau melihat sebagian aurat wanita yang pakaiannya tertiup angin.
Tiba-tiba, ia merasakan ada gangguan dalam hafalannya. Seperti diketahui, ketika masih dalam belajar, Imam Syafi’i mampu menghafal Al-Qur’an dalam usia 6 tahun. Kemudian, beliau mampu menghafal Kitab Al-Muwatha’ Imam Malik, salah seorang gurunya, di usia 10 tahun.
Imam Syafi’i pun mengadukan hal ini ke salah seorang gurunya yang bernama Imam Waqi’ bin Al-Jarrah.
Imam Waqi’ menjelaskan bahwa ilmu itu cahaya Allah. Cahaya itu tidak akan melekat pada orang yang hatinya ada maksiat.
Dari situ, Imam Syafi’i diajarkan gurunya untuk meninggalkan segala maksiat. Meskipun, maksiat yang dilakukan terasa begitu kecil dan tanpa sengaja.
**
Betapa zaman saat ini menjadikan semua orang begitu mudah melihat maksiat: disengaja atau tidak. Bisa melalui televisi, ponsel, dan lainnya.
Bayangkan jika Imam Syafi’i yang jenius saja merasakan adanya gangguan hafalan ilmu ketika itu dilakukan tanpa sengaja, apalagi kita? [Mh]




