SETIAP orang memiliki cara masing-masing dalam menghadapi kehidupan. Ada yang terbiasa mengikuti logika, mengandalkan pengalaman, mendengarkan pendapat orang lain, atau sekadar mengikuti apa yang dianggap benar oleh lingkungan. Semua itu kemudian menjadi semacam “operating system” yang digunakan untuk menyikapi berbagai persoalan dalam hidup.
Namun, pernahkah kita bertanya apakah cara berpikir dan menjalani kehidupan yang selama ini kita gunakan sudah sesuai dengan petunjuk Allah?
Baca Juga: Mengenal Apa itu Creatine dan Apa Saja Manfaatnya
Dampak Ketika Al-Qur’an Tidak Lagi Menjadi Pedoman Hidup
Bisa jadi selama ini kita merasa hidup selalu berantakan karena terlalu banyak masalah. Ketika mendapatkan ujian, kita mudah mengeluh. Saat keinginan tidak tercapai, kita kecewa. Ketika memperoleh nikmat, kita lupa diri. Bahkan ketika menghadapi persoalan, kita mencari berbagai jalan keluar tetapi lupa meminta petunjuk kepada Allah.
Padahal, Al-Qur’an bukan sekadar bacaan yang dilantunkan ketika sedang memiliki waktu luang. Al-Qur’an adalah petunjuk bagi manusia dalam menjalani kehidupan. Di dalamnya terdapat ajaran tentang bagaimana menghadapi kesulitan, bersikap ketika mendapatkan nikmat, memperlakukan orang lain, mengendalikan diri, hingga memahami tujuan kehidupan.
Masalahnya, terkadang kita menjadikan Al-Qur’an hanya sebagai sesuatu yang dibaca, tetapi belum benar-benar dijadikan pedoman. Kita mungkin rajin membaca ayatnya, tetapi belum berusaha memahami pesan yang terkandung di dalamnya. Kita mendengar nasihat tentang kesabaran, tetapi masih mudah marah. Kita mengetahui perintah untuk bersedekah, tetapi masih berat berbagi. Kita memahami pentingnya tawakal, tetapi hati tetap dipenuhi kekhawatiran terhadap masa depan.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Allah mengingatkan keadaan tersebut dalam QS Al-Furqan ayat 30. Dalam ayat itu disebutkan bahwa Rasulullah mengadukan kepada Allah bahwa kaumnya menjadikan Al-Qur’an sebagai sesuatu yang ditinggalkan.
Meninggalkan Al-Qur’an tentu bukan hanya berarti tidak pernah membacanya. Lebih jauh, seseorang dapat disebut meninggalkan Al-Qur’an ketika ia tidak menjadikannya sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan.
Karena itu, mungkin yang perlu diperbaiki bukan hanya keadaan di luar diri kita, tetapi juga “operating system” yang selama ini digunakan untuk memandang kehidupan.
Cobalah kembali kepada Al-Qur’an ketika menghadapi masalah. Ketika hati gelisah, carilah ketenangan melalui firman Allah. Ketika mendapatkan nikmat, pelajari bagaimana cara mensyukurinya. Saat menghadapi ujian, ingatlah bahwa Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai kemampuannya.
Hidup mungkin tidak selalu berjalan sesuai keinginan. Akan selalu ada ujian, kehilangan, kekecewaan, dan hal-hal yang berada di luar kendali. Namun, dengan menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman, kita memiliki arah untuk tetap berjalan meskipun keadaan tidak sesuai harapan.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Sebab, boleh jadi bukan hidup kita yang harus selalu mengikuti keinginan, tetapi cara kita menjalani hidup yang perlu kembali disesuaikan dengan petunjuk Allah. [DW]





