TANGAN di atas lebih baik dari yang di bawah. Berusahalah untuk menjadi pemberi, bukan penerima.
Ada dua ahli hikmah bertemu. Keduanya sahabat yang suka saling memberikan nasihat satu sama lain.
Orang pertama menceritakan pengalamannya ketika istirahat dalam sebuah perjalanan. Ketika itu, ada seekor burung jatuh begitu saja, tak jauh dari lokasinya duduk. Ia pun memperhatikan.
Rupanya sang burung mengalami patah sayap. Ia tak bisa terbang. Sepertinya, sang burung bingung untuk mendapatkan makanan.
Di luar dugaannya, tiba-tiba datang burung lain menghampiri burung yang patah sayap itu. Rupanya ia datang memberikan makanan ke ‘rekannya’ yang sakit itu.
“Subhanallah,” gumamnya. Allah subhanahu wata’ala menyampaikan rezeki-Nya melalui burung lain, sehingga burung yang tak berdaya itu bisa tetap mendapatkan makanan.
Ia berkesimpulan, seperti apa pun keadaan kita yang tak bisa mencari rezeki, kalau memang sudah ditakdirkan Allah, maka rezeki akan datang melalui caranya sendiri.
Tiba-tiba sahabatnya yang juga ahli hikmah itu menyela, “Kenapa kamu memposisikan diri sebagai sosok burung yang patah sayapnya. Padahal, burung yang menyampaikan rezeki ke burung lain yang tak berdaya justru jauh lebih patut dicontoh.”
Ia pun tersentak dengan ucapan sahabatnya itu. “Kau benar!” pungkasnya.
**
Jangan posisikan diri sebagai yang paling berhak untuk ditolong. Sebaliknya, posisikanlah diri kita sebagai yang paling berkewajiban untuk menolong, sesulit apa pun keadaan kita.
Karena, keadaan yang sulit menurut kita, sebenarnya sangat lapang menurut orang lain yang jauh lebih susah.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah.” (HR. Bukhari dan Muslim) [Mh]





