RAHASIA itu amanah. Ia harus dijaga, meskipun dengan mengorbankan nyawa.
Di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, ada seorang sahabat yang bernama Huzaifah bin Yaman radhiyallahu ‘anhu. Ayahnya seorang sahabat Nabi dan berasal dari Mekah. Sementara ibunya asli Madinah.
Satu hal yang paling menonjol dari Huzaifah adalah kekuatan dalam menjaga rahasia. Tidak heran jika ia mendapatkan gelar sebagai pemegang rahasia Rasul.
Suatu kali ketika Madinah dikepung gabungan pasukan musuh atau yang biasa disebut Perang Khandaq, keadaan kaum muslimin sangat memprihatinkan. Cuaca begitu buruk, angin bertiup kencang, dan makanan nyaris tak ada.
Rasulullah shalat, setelah selesai menghadap ke arah para sahabat. Beliau shallallahu ‘aliahi wasallam menanyakan siapa di antara para sahabat yang bisa menyusup dan mengetahui apa yang akan musuh lakukan.
Tapi, tak seorang pun yang mau. Semua berada dalam keadaan lemas: fisik dan mental karena kelaparan dan ketakutan yang luar biasa.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam shalat lagi dan melakukan hal yang sama. Tapi, lagi-lagi tak seorang pun sahabat yang berani. Hal itu hingga tiga kali dilakukan Nabi.
Akhirnya, Rasulullah memanggil Huzaifah. Rasulullah memberikan tugas langsung. Dengan catatan: tidak boleh melakukan apa pun tanpa seizin Rasulullah. Artinya, tugas ini menjadi hubungan khusus antara Huzaifah dengan Rasulullah, tanpa diketahui orang lain.
Singkat kata, Huzaifah berhasil menyusup ke pasukan musuh. Ia berada dalam tenda musuh. Saat itu, ia menyaksikan kalau tenda-tenda sudah berantakan ditiup angin kencang.
Segala perabot makan yang mereka bawa pun sudah berantakan. Begitu pun dengan lampu-lampu. Mereka nyaris tak mengetahui orang di sebelahnya.
Huzaifah melihat Abu Sufyan tak jauh dari posisinya. Abu Sufyan berteriak, “Periksa orang di sebelah kalian, tanyakan namanya!”
Sontak, Huzaifah langsung memegang tangan orang di sebelahnya dan menanyakan siapa namanya. Orang itu pun menjawab. Karena Huzaifah menanyakan terlebih dahulu, ia tidak ditanyakan oleh siapa pun.
Abu Sufyan pun mengatakan kepada pasukannya untuk kembali ke Mekah. “Unta dan kuda-kuda kita banyak yang mati. Segala persiapan kita pun sudah berantakan. Silakan kalian pulang, aku pun akan pulang juga!”
Tak lama setelah itu, Abu Sufyan mengambil untanya. Ia menaiki unta itu dan kemudian pergi meninggalkan pasukannya.
Saat itu, Huzaifah teringat dengan pesan Nabi untuk tidak melakukan apa pun tanpa seizin Nabi. Andaikan hal itu tidak ia hiraukan, maka ia sudah sangat ingin memanah Abu Sufyan yang jaraknya sangat dekat.
Huzaifah juga pernah ditanya secara khusus oleh Nabi tentang nama-nama orang munafik di Madinah. Huzaifah pun menyebutkan. Jumlahnya ada 1.500 orang.
Dari situlah, Umar bin Khaththab selalu berpatokan pada kehadiran Huzaifah ketika ingin menyalatkan jenazah orang Madinah. Kalau Huzaifah tak hadir, maka Umar pun urung ikut menyalatkan.
Huzaifah wafat jauh setelah wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ia wafat 40 hari setelah wafatnya Khalifah Usman bin Affan.
**
Begitu banyak rahasia yang tersimpan dalam memori kita. Ada rahasia tentang diri kita, keluarga, sahabat, dan mungkin juga rahasia penting yang menyangkut organisasi, perusahaan, atau negara.
Belajarlah untuk selalu amanah. Pegang kuat rahasia itu agar tetap aman.
Jangan pernah bocorkan kepada siapa pun, meskipun terhadap orang terdekat kita. Dan jangan sekali-kali menunjukkan bahwa kita banyak tahu tentang apa pun. Karena hal itu sama sekali bukan menunjukkan keunggulan, justru kehinaan.
Lebih baik dianggap orang bahwa kita tak tahu banyak hal dan kita selamat dalam amanah. Daripada, orang memuji-muji kita tahu banyak hal sementara di sisi Allah kita khianat. [Mh]


