BADAI itu bisa datang kapan saja. Kapal terombang-ambing dan keadaan menjadi tak pasti. Tapi yakinlah, badai pasti berlalu.
Dalam sebuah kapal besar, kakak beradik menjadi dua orang penumpang yang harus menghadapi kenyataan berat. Kapal yang mereka tumpangi terombang-ambing oleh badai besar.
Sambaran ombak besar kerap menyentak suasana dek kapal. Posisi kapal pun naik turun tak menentu. Siapa pun yang berada di situ akan berpegangan dengan kuat. Termasuk, dua pemuda kakak beradik itu.
“Sampai kapan kita akan begini terus, Kak?” ucap sang adik memecah ketegangan.
“Sabar, Dik. Nanti juga akan normal lagi,” jawab sang kakak menenangkan.
Setelah berjam-jam kapal masih dalam jebakan badai, sang adik tiba-tiba berdiri. “Aku akan keluar dari kapal saja! Kapal ini bisa tenggelam,” ungkapnya.
Sontak, sang kakak memegang tangan adiknya. Ia memaksa adiknya untuk duduk kembali dan lebih erat berpegangan.
“Jangan gagal paham, Dik. Kapal ini sedang berusaha keras melindungi kita dari badai, bukan akan menenggelamkan kita!” jelas sang kakak.
“Tapi sampai kapan?” sergah sang adik.
“Sampai kapal bisa melewati badai. Bukan kitanya yang pergi meninggalkan kapal!” pungkas sang kakak.
**
Apa pun status sosial kita, semua kita berada di sebuah kapal. Ada kapal keluarga, kapal lingkungan rumah, lingkungan kerja, dan kapal negara.
Adakalanya kapal berlayar dengan tenang dibuai angin sepoi-sepoi. Tapi kadang pula harus melalui badai hebat yang menakutkan.
Satu hal yang harus dipegang: jangan pernah lompat dari kapal karena tak tahan dengan hantaman badai. Justru, pertahankan posisi diri di atas kapal: berpegangan dengan kuat dan banyak berdoa.
Yakinlah bahwa badai pasti berlalu. Karena sejatinya, badai tidak dirancang untuk menghadang kapal, melainkan sekadar memberikan sensasi perjalanan yang tidak biasa.
Tanpa keyakinan itu, semangat dan optimisme hidup kita akan lebih dahulu terlempar dari kapal sebelum diri kita yang akan tenggelam.
Fainna ma’al ‘usri yusra. Inna ma’al ‘usri yusra. [Mh]




