DALAM sejarah awal perkembangan Islam di Yathrib (Madinah), sosok Abdullah bin Salam radhiyallāhu ‘anhu menempati posisi yang sangat istimewa. Beliau adalah salah satu ulama besar Yahudi dari Bani Qainuqa yang memiliki keilmuan sangat mendalam tentang kitab Taurat. Kisah perjalanannya memeluk Islam bukan hanya tentang perpindahan keyakinan, melainkan sebuah teladan agung tentang kejujuran intelektual, pencarian kebenaran tanpa prasangka, serta keberanian dalam memegang teguh akidah.
Sebelum memeluk Islam, ia bernama Al-Hushain bin Salam. Setelah bersyahadat di hadapan Rasulullah, beliau diberi nama baru yang agung, yaitu Abdullah bin Salam. Perjalanan hidupnya menyajikan gambaran nyata bagaimana ketulusan hati dalam mencari kebenaran akan selalu membukakan jalan petunjuk dari Allah.
Baca Juga: Siapakah Umayyah bin Khalaf yang Akhir Hayatnya Menjadi Peringatan Keras Bagi Manusia?
Kisah Teladan Abdullah bin Salam dari Pendeta Yahudi Terkemuka hingga Menjadi Sahabat Rasulullah Penghuni Surga
Pencarian Kebenaran Berdasarkan Kitab Suci
Sebagai seorang ulama ternama di Madinah, Abdullah bin Salam sangat memahami isi kitab Taurat. Di dalam lembaran-lembaran Taurat, beliau telah membaca petunjuk dan ciri-ciri kenabian akhir zaman yang amat jelas, mulai dari tempat kemunculannya, sifat-sifat pribadinya, hingga ajaran kebenaran yang dibawanya. Ketika mendengar kabar bahwa seorang nabi telah muncul di Makkah dan sedang melakukan hijrah menuju Yatsrib, hati Abdullah bin Salam tergerak untuk membuktikannya secara langsung.
Mengutip riwayat dalam Shahih Bukhari saat rombongan Rasulullah tiba di Quba, Abdullah bin Salam langsung berbaur di tengah kerumunan masyarakat yang menyambut beliau. Begitu tatapan matanya tertuju pada wajah Rasulullah, beliau seketika meyakini bahwa raut wajah tersebut bukanlah raut wajah seorang pembohong.
Saat pertama kali berhadapan langsung, Abdullah bin Salam mengajukan tiga pertanyaan khusus tentang hal-hal gaib yang hanya bisa dijawab oleh seorang nabi utusan Allah. Rasulullah pun menjawab ketiga pertanyaan tersebut berdasarkan wahyu yang disampaikan Malaikat Jibril. Tanpa keraguan sedikit pun, Abdullah bin Salam langsung mengikrarkan dua kalimat syahadat di hadapan Rasulullah.
Keberanian Menghadapi Resiko dan Kausalitas Kaumnya
Setelah memeluk Islam, Abdullah bin Salam menyadari betul tabiat dan karakter kaumnya. Beliau berkata kepada Rasulullah: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya orang-orang Yahudi adalah kaum yang suka berdusta dan memutarbalikkan fakta. Jika mereka mengetahui aku telah masuk Islam sebelum Engkau menanyai mereka tentangku, niscaya mereka akan memfitnah dan mencelakakanku.”
Rasulullah kemudian mengundang para tokoh Yahudi ke rumah beliau, sementara Abdullah bin Salam bersembunyi di dalam ruangan sebelah. Rasulullah bertanya kepada para tokoh Yahudi tersebut, “Bagaimanakah kedudukan Al-Hushain bin Salam di antara kalian?”
Para tokoh Yahudi menjawab dengan penuh sanjungan, “Dia adalah pemuda terbaik kami, putra dari orang terbaik kami, ulama kami, dan putra dari ulama kami.”
Setelah mereka memuji-muji Abdullah bin Salam, Rasulullah kembali bertanya, “Bagaimana pendapat kalian jika Al-Hushain memeluk Islam?” Mereka menjawab dengan tegas, “Maha suci Allah! Semoga Allah melindunginya dari hal itu.”
Pada saat itulah Abdullah bin Salam keluar dari tempat persembunyiannya lalu mengumandangkan syahadat dengan lantang di hadapan mereka. Seketika itu pula, sikap para tokoh Yahudi berubah total. Mereka langsung menghina dan mencaci Abdullah bin Salam, menyatakan bahwa beliau adalah orang terburuk di antara mereka. Peristiwa ini menjadi bukti nyata kejujuran sifat Abdullah bin Salam dan kerelaannya kehilangan kehormatan di mata kaumnya demi mempertahankan kebenaran hakiki.
Jaminan Surga untuk Sang Sahabat yang Rendah Hati
Keteguhan keimanan, kesederhanaan, serta keilmuan Abdullah bin Salam membuatnya sangat dicintai oleh Rasulullah dan para sahabat lainnya. Beliau dikenal sebagai pribadi yang sangat tawaduk, tidak pernah menyombongkan keilmuannya, serta selalu menjadi penengah yang menyejukkan.
Dalam sebuah riwayat shahih yang dicatat oleh Imam Muslim, Rasulullah memberikan kabar gembira mengenai kedudukan mulia Abdullah bin Salam. Beliau termasuk dalam jajaran sahabat yang dipastikan menjadi penghuni surga (min ahlil jannah). Bahkan, mengenai dirinya, Allah menurunkan firman-Nya dalam Al-Qur’an Surah Al-Ahqaf ayat 10, sebagai penegasan atas kesaksian seorang ulama Bani Israil yang beriman kepada kebenaran Al-Qur’an.
Pelajaran Berharga dari Kisah Abdullah bin Salam
Kisah teladan Abdullah bin Salam meninggalkan pesan moral dan spiritual yang sangat mendalam bagi umat Islam masa kini:
Kejujuran dalam Mencari Kebenaran: Beliau tidak membiarkan fanatisme kelompok atau gengsi jabatan membutakan hatinya dari kebenaran yang nyata.
Kesiapan Berkorban demi Akidah: Beliau rela kehilangan reputasi, pujian, dan kedudukan tinggi di tengah kaumnya demi mengikut ajaran Rasulullah
Pentingnya Keilmuan dan Kerendahan Hati: Keilmuan yang tinggi hendaknya membawa seseorang pada sikap rendah hati dan keimanan yang semakin kokoh, bukan kesombongan.
***
Semoga teladan keteguhan hati dan kejujuran sikap dari Abdullah bin Salam radhiyallāhu ‘anhu dapat terus menginspirasi kita untuk selalu berada di jalan ketaatan dan kebenaran. [DW]





