DI BALIK perjalanan hidup seorang tokoh besar sering kali terdapat sosok keluarga yang turut menjadi bagian penting dalam sejarahnya. Dalam sejarah Islam, Arwa binti Kuraiz dikenal sebagai ibu dari Utsman bin Affan radhiyallahu anhu, khalifah ketiga yang terkenal karena kedermawanan dan kelembutannya. Meski kisah Arwa tidak sebanyak kisah putranya, perjalanan hidupnya menyimpan pelajaran tentang keimanan, keluarga, dan bakti seorang anak kepada ibunya.
Arwa binti Kuraiz berasal dari Bani Abd Syams, salah satu kelompok dalam suku Quraisy di Makkah. Ibunya bernama Ummu Hakim al-Baidha binti Abdul Muthalib, yang merupakan bibi Rasulullah. Dengan demikian, Arwa memiliki hubungan kekerabatan dengan Rasulullah.
Baca Juga: Menentukan Waktu Terbaik untuk Menghafal Al-Qur’an di Tengah Kesibukan
Kisah Arwa binti Kuraiz Ibu Khalifah Utsman yang Teguh dalam Iman
Perjalanan Hidup Arwa binti Kuraiz
Arwa menikah dengan Affan bin Abi al-Ash. Dari pernikahan tersebut, ia dikaruniai Utsman bin Affan dan Aminah. Setelah Affan meninggal dunia, Arwa menikah dengan Uqbah bin Abi Mu’aith dan memiliki beberapa anak lainnya.
Dalam catatan sejarah yang dinukil oleh Ibnu Sa’d dan disebutkan kembali oleh Ibnu Hajar al-Asqalani, Arwa termasuk perempuan yang memeluk Islam. Ia kemudian berhijrah ke Madinah setelah putrinya, Ummu Kultsum binti Uqbah, lebih dahulu berhijrah. Arwa juga termasuk perempuan yang berbaiat kepada Rasulullah.
Keputusan memeluk Islam dan berhijrah merupakan bagian penting dari perjalanan hidupnya. Pada masa awal Islam, kaum Muslim menghadapi berbagai perubahan sosial dan tantangan. Berpindah ke Madinah juga berarti meninggalkan lingkungan lama untuk membangun kehidupan bersama kaum Muslim lainnya.
Keteguhan dalam Memeluk Islam
Salah satu pelajaran dari kisah Arwa adalah pentingnya keteguhan dalam menjalani keyakinan. Ia tercatat sebagai perempuan yang menerima Islam dan menjadi bagian dari masyarakat Muslim di Madinah.
Tidak banyak riwayat yang menjelaskan secara terperinci bagaimana Arwa menjalani hari-harinya. Karena itu, kita tidak perlu menambahkan cerita yang tidak memiliki dasar sejarah. Namun, keputusan untuk memeluk Islam dan berhijrah menunjukkan bahwa ia mengambil bagian dalam perubahan besar pada masa awal perkembangan Islam.
Kisahnya mengingatkan bahwa kontribusi seseorang tidak selalu berupa kepemimpinan di ruang publik. Ada pula peran yang dijalankan melalui pilihan hidup, keteguhan hati, dan keterlibatan dalam komunitas.
Kasih Sayang Utsman kepada Ibunya
Salah satu bagian yang menyentuh dari kisah Arwa berkaitan dengan bakti putranya. Dalam riwayat sejarah yang dikutip oleh Ibnu Hajar al-Asqalani, Utsman bin Affan disebut mengurus jenazah ibunya ketika Arwa wafat pada masa kekhalifahannya.
Riwayat tersebut juga menggambarkan Utsman berdoa memohon ampunan dan rahmat Allah untuk ibunya. Kisah ini menjadi pengingat tentang pentingnya berbakti kepada orang tua, bahkan ketika seseorang telah memiliki tanggung jawab besar terhadap masyarakat.
Kedudukan sebagai pemimpin tidak menghapus kewajiban seorang anak untuk menghormati dan mendoakan orang tuanya. Doa bagi orang tua merupakan bentuk kasih sayang yang dapat terus dilakukan, baik ketika mereka masih hidup maupun setelah meninggal dunia.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Teladan yang Bisa Dipetik
Arwa binti Kuraiz mengajarkan pentingnya menjaga keimanan, berani mengambil keputusan, dan menjalani kehidupan dengan penuh tanggung jawab. Kisahnya juga mengingatkan kita untuk menghargai peran perempuan dalam sejarah Islam, termasuk mereka yang tidak banyak disebut dalam pembahasan populer.
Sementara itu, sikap Utsman bin Affan terhadap ibunya menjadi teladan tentang bakti kepada orang tua. Keduanya mengingatkan bahwa kemuliaan bukan hanya terlihat dari kedudukan seseorang, tetapi juga dari iman, hubungan keluarga, dan kebaikan yang dijaga sepanjang hidup. [DW]





