ISLAM lahir dengan desain yang sempurna. Mulai dari kitab sucinya, nabi penutupnya, bahasanya, serta kiblat yang menyatukannya.
Allah subhanahu wata’ala menciptakan sesuatu bukan tanpa sebab dan tujuan. Termasuk Islam yang dideklarasikan di Mekah pada masa terakhir kehidupan Rasulullah: Haji Wada’ atau haji perpisahan.
Allah subhanahu wata’ala berfirman, “Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu.” (QS. Al-Maidah: 3)
Hikmah-hikmah tersebut adalah:
Satu, Ka’bah di Mekah sebagai Kiblat Ibadah
Islam dideklarasikan di Mekah di mana berada bangunan Ka’bah. Di situlah Ka’bah menjadi kesatuan arah ibadah di seluruh dunia.
Ka’bah dibangun bukan oleh Rasulullah dan para sahabat. Melainkan sudah ada sejak masa Nabi Adam alaihissalam, kemudian dibangun ulang oleh Nabi Ibrahim dan Ismail alaihimassalam.
Inilah simbol pemersatu umat Islam di seluruh dunia. Meskipun berbeda ras, warna kulit, bahasa, dan lainnya; tapi arah kiblatnya sama: Ka’bah di Mekah.
Dua, Bahasa Arab yang Jauh Lebih Unggul dari Bahasa di Dunia
Para ahli bahasa mengakui bahwa tidak ada bahasa di dunia yang lebih unggul dan bertahan lama selain Bahasa Arab. Usianya sudah berabad-abad dan tetap dalam kaidah yang sama.
Selain itu, bahasa Arab begitu kaya dengan khazanah kata. Sedemikian kayanya, hingga ada belasan kata dalam bahasa Arab yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan kata cinta.
Bahasa Arab juga menyimpan irama baca yang indah. Dalam Al-Qur’an ada yang disebut hukum tajwid. Di antaranya, mempelajari tentang panjang dan pendek sebuah gabungan dua huruf dibaca.
Tidak heran jika dari bahasa Arab lahir begitu banyak kaidah dan irama baca. Dengan bahasa Arab, sebuah makna kata akan meresap dalam hati, bukan sekadar dipahami dalam akal pikiran.
Tiga, Silsilah Orang Arab yang Begitu Kuat
Kalau kita ditanya siapa ayah kita, mungkin bisa menjawb dengan mudah. Begitu pun kalau ditanya siapa kakek kita. Tapi, tidak begitu ketika ditanya tentang siapa ayah atau kakek dari kakek kita.
Orang Arab punya tradisi yang kuat tentang menjaga silsilah keluarga. Mereka bisa hafal belasan hingga puluhan deret silsilah ke atas.
Dari situlah diketahui kalau silsilah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersambung dengan Nabi Ismail dan Nabi Ibrahim alaihimassalam. Terdapat kurang lebih 21 nasab yang tercatat dengan sangat baik dalam memori hafalan mereka.
Empat, Nasab atau Silsilah itu Berisi Orang-orang Terhormat
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah telah memilih Kinanah dari keturunan Ismail, dan memilih Quraisy dari Kinanah, dan memilih Bani Hasyim dari Quraisy, dan memilih aku dari Bani Hasyim.” (HR. Muslim)
Hal ini menunjukkan bahwa silsilah atau nasab Rasulullah bukan sekadar tersambung kepada Nabi Ismail. Melainkan juga terjaga kesolehan dari setiap generasi itu.
Artinya, ayah, kakek, dan kakek buyut Nabi terus sampai ke Nabi Ismail merupakan orang soleh: tidak menyekutukan Allah, tidak berzina, tidak minuman keras, tidak berbuat jahat, dan lainnya.
Bandingkan dengan silsilah atau nasab bangsa lain di dunia ini. Sudah tidak jelas, bahkan tidak selamat dari keburukan perilaku dan keyakinan.
Lima, Orang Arab Punya Kemampuan Hafalan yang Kuat
Al-Qur’an merupakan kitab suci yang terakhir untuk umat manusia. Ia sebagai sumber hukum, rujukan, hikmah, dan ilmu pengetahuan.
Sementara di masa abad ke-6 masehi itu, belum banyak orang yang bisa membaca dan menulis. Hal ini karena sarana yang jauh dari memadai. Karena itulah, Allah memilih orang Arab sebagai pengemban risalah terakhir, karena mereka punya kemampuan hafalan yang sangat luar biasa.
Buah dari hafalan itu kini menjadi hikmah untuk generasi kita saat ini. Antara lain, dari otentiknya Al-Qur’an, otentiknya hadis-hadis Nabi, otentiknya sejarah dari masa Nabi hingga generasi pilihan sesudahnya, dan seterusnya.
Enam, Quraisy sebagai Suku Hebat
Rasulullah berasal dari suku Quraisy. Sebagian besar mereka hidup dalam profesi berdagang. Hal ini sudah menjadi populer bahwa Quraisy sebagai pedagang yang hebat di seluruh jazirah Arab di masanya.
Para pedagang itu umumnya memiliki kelebihan dalam marketing atau pemasaran. Hikmah ini menjadi begitu besar dalam dakwah Islam. Kalau produk yang biasa saja bisa mereka jual dengan begitu mudah, terlebih lagi dengan ‘produk ilahiyah’ yang memiliki nilai tiada tara. Tentu, akan jauh lebih mudah lagi.
Menariknya, Allah membekali mereka dengan cara marketing yang terintegrasi. Artinya, mereka tidak mengatakan tentang kebaikan, kecuali setelah mereka sendiri melakukan dan membiasakannya. Itulah makna dari uswatun hasanah. [Mh]


