ARAB Saudi kian berada pada posisi darurat. Negara terancam ‘pencaplokan’ dari Yaman, hasil minyak bumi tersendat, dan gagasan peradaban Islam menjadi blunder.
Enam tahun lagi, usia kerajaan Arab Saudi genap seratus tahun atau satu abad. Negeri di mana Mekah dan Madinah itu berada, ‘merdeka’ pada 23 September 1932. Kata ‘merdeka’ untuk Arab Saudi rasanya tidak tepat, karena negara ini tidak pernah dijajah dan merdeka.
Sejak runtuhnya Kekhalifahan Islam Usmani di Turki pada tahun 1924, Arab Saudi akhirnya membangun kedaulatan sendiri. Deklarasi itu dilakukan oleh pendirinya: Raja Abdul Aziz bin Saud pada 1932.
Sejak itu, Arab Suadi dikuasai dan dipimpin oleh keturunan dari Raja bin Saud, hingga saat ini.
Berperang dengan Yaman
Arab Saudi berperang dengan Yaman ketika negeri di selatan jazirah Arab itu dikuasai oleh suku Hutsi. Tapi jangan salah, suku ini hanya sebagai pendiri yang melakukan perlawanan terhadap pejabat Yaman yang dianggap korup. Nama jamaahnya disebut Ansharullah.
Nah, Ansharullah itulah yang kini menguasai negara Yaman. Pasalnya, garis ideologi Ansharullah dan Arab Saudi sangat berbeda. Ansharullah dipimpin oleh penganut Syiah Zaidiyah, sementara Saudi lain lagi.
Boleh jadi, ideologi hanya sebagian saja dari pertentangan atau konflik itu. Ada kepentingan politik dan ekonomi yang sebenarnya sedang berperang.
Amerika dan Israel sebenarnya pernah berperang habis-habisan dengan Yaman Ansharullah ini. Tapi, AS dan Israel hanya bisa bertahan selama sekitar 52 hari. Seluruh pasukan dan ‘perabotan’ militer mereka pun ditarik dari Yaman.
Problemnya, posisi Arab Saudi saat ini menjadi seolah-olah di pihak AS dan Israel karena ‘meneruskan’ peperangan dengan musuh Israel dan AS di selatan Jazirah Arab.
Logikanya menjadi ruwet: membantu Arab Saudi sama saja dengan membantu AS dan Israel untuk mengalahkan negeri muslim: Yaman. Inilah yang kini dialami negeri-negeri muslim dengan militer kuat seperti Turki, Pakistan, dan Mesir.
Sementara itu, kekuatan Yaman sudah hampir melampaui kekuatan Saudi. Terutama dari kekuatan ideologi pasukan dan teknologi militernya.
Backing Ideologi Wahabi
Selama ini, sudah menjadi rahasia umum, Arab Saudi menjadi kekuatan yang terus memproduksi dan memfasilitasi gerakan Wahabi di seluruh dunia.
Masalahnya, gerakan Wahabi berkembang menjadi ‘momok’ di seluruh belahan negeri muslim termasuk Indonesia, Mesir, Suriah, dan lainnya. Bahkan, posisi mereka menjadi ‘musuh bersama’ antara ahlus sunnah dan Syiah di Iran dan Yaman.
Di mana pun ada entitas gerakan Wahabi, di situ pula ada keresahan dan kemarahan umat Islam. Bahkan, entitas ini dianggap sebagai pemecah belah persatuan umat Islam di seluruh belahan dunia.
Bayangkan jika sumber kekuatan yang menjadi ‘musuh bersama’ umat Islam ini ada di Arab Saudi, boleh jadi Arab Saudi pun bisa diposisikan sebagai musuh bersama umat Islam dunia.
Jadi, kalau sudah begini, siapa yang akan membantu dan menolong Arab Saudi dari musuh-musuhnya? Rasanya, sulit mengharapkan hal itu dari negeri-negeri muslim. Kecuali, kalau imbalan materi.
Simbol Minyak Aramco
Kalau ditanya, apakah Arab Saudi bisa seperti sekarang ini jika tanpa Aramco? Rasanya jawabannya tidak. Pemasukan terbesar Arab Saudi sejak berdirinya kerajaan ini adalah Aramco. Yaitu, perusahaan minyak ‘patungan’ antara Arab dan Amerika.
Jantung dan urat nadi perusahaan inilah yang kini dibidik Yaman, selain penutupan Selat Hormuz oleh Iran. Sebenarnya, penutupan Hormuz lebih karena dampak dari brutalnya serangan AS dan Israel ke Iran. Dan menariknya, serangan ini disinyalir juga ada andil dari peran Arab Saudi.
Padahal, distribusi produk Aramco juga di wilayah Selat Hormuz. Sisanya melalui pipa panjang yang disalurkan ke pelabuhan di wilayah barat di Laut Merah. Dan kini, jalur itu pun ditutup karena massifnya serangan Yaman wilayah itu.
Nah, apa jadinya ekonomi Arab Saudi jika tanpa penjualan minyak Aramco.
Mengandalkan Militer AS
Arab Saudi mungkin tidak merasa perlu untuk membangun kekuatan militer sendiri. Mereka bisa membayar militer asing seperti AS dan Barat.
Hal ini mungkin wajar karena selama ini Arab Saudi seperti bagian dari negara protektorat Inggris. Artinya, negara itu di bawah perlindungan militer Inggris. Ketika Inggris tak lagi berjaya, militer ‘diwariskan’ ke AS.
Masalahnya, kini AS pun kewalahan dengan kekuatan baru yang diwakili Iran, Rusia, dan Cina. Kalau AS hengkang dari Arab Saudi, lalu siapa yang mau menjadi ‘pelindung’ negara yang dipimpin Muhammad bin Salman ini. [Mh]


