SEGALA sesuatu itu ada alasannya. Soal guru di JISc (Jakarta Islamic School – sekolah yang saya bangun) ~ yang tidak boleh menerima hadiah, sejak tahun 2002.
Nantinya akan ada ketidakadilan, karena yang ngajar khan banyak. Ada guru yang mengajar membaca dan menulis , ada guru yang mengajar tahsin dan tahfidz, ada guru yang mengajar bahasa English, ada guru yang memberitahu Allah Maha Penyayang, bahkan ada aku yang bersedia lelah-lelah ke pasar cuma untuk memastikan macaroni-nya bukan macaroni yang curah ketika buat mac and cheese untuk 2500 anak. Juga ada OB yang bantu pegangin tas anak-anak, ketika anak banyak bawaan. Juga satpam yang bantu bukain pintu mobil ketika anak lagi lelah dan riweh. Juga miss admint yang jagain anak ketika pulang sekolah belum dijemput.
Urusan kasih hadiah ini akan membuat kelimpungan orangtua murid dan juga ketidakadilan bagi guru yang lain misal guru olahraga atau kepsek yang menjabat tapi tidak terlihat.
Jadi menurutku , sudah sepatutnya aku sebagai owner dan juga pengurus yayasan lain yang menjadi ketua yayasan untuk memikirkan hadiah berupa apa yang menyenangkan para guru walau enggak sebanyak ketika lebaran dan uang saku, lalu aku tambahkan kue bolu dan minuman segar untuk keluarga.
Dan ini tentu saja butuh effort dan hati yang lapang. Tidak memikirkan untung rugi. Toh tanpa para guru, staff dan OB, sekolah ini tak akan berjalan. Total semuanya 545 orang.
Dan itu semua rata, kue bolu keju, bolu collat, fruit cake dan pisang molennya juga yang premium. Yang aku suka. Jadi standard aku ..
Setiap sekolah punya kebijakan masing-masing. Jadi tak usah marah dan merasa disindir.
Masing-masing saja
Toh akhirnya kita juga akan mempertanggungjawabkan semua perbuatan kita masing-masing.
Dalam suatu masalah, harus ada yang berkorban.
Owner dan Ketua Yayasan itu adalah dan sudah seharusnya menjadi sosok yang paling banyak berkorban.
Bahkan di sekolahanku
Segala Sesuatu Itu Ada Alasannya
Kami yang menjabat paling tinggi ~ justru yang paling lambat terima gaji. Setelah semua gajian baru para pengurus gajian. Juga ketika ada pembagian sembako, handphone, bonus-bonus, minyak wangi, baju seragam, tas, sepatu, uang pulsa, dan lain-lain.
Maka leaders apalagi yayasan dan team manajemen adalah orang terakhir yang mendapat bagian. Kadang malah terlupakan karena sibuk memikirkan yang lain.
Mendirikan dan membangun sekolah menurutku harus juga membangun peradaban dan menjalankan semua sunnah Rasulullah saw, salah satunya adalah bersikap itsar, mendahulukan kepentingan orang lain terlebih dahulu.
Itsar (لْإِيثَارُا ), secara bahasa bermakna melebihkan atau mendahulukan kepentingan orang lain atas dirinya sendiri. Sifat ini termasuk akhlak mulia yang sudah mulai hilang di masa kita sekarang ini, dan itsar adalah bentuk ukhuwah yang tertinggi.
Diceritakan pada masa sahabat dahulu, ketika roti hanya tinggal sebakul dan hanya cukup untuk 3 orang, sementara yang ingin makan ada 11 orang, maka ketika penerangan dimatikan dan semua orang dipersilakan makan, dan semua orang mengunyah, dan ketika penerangan dinyalakan kembali, ternyata roti masih utuh.
Semua orang mempersilakan sebelahnya untuk mengambil roti, tapi ternyata roti masih utuh, menunjukkan semua orang mendahulukan orang lain.
Sungguh mulia orang-orang yang mendahulukan kepentingan orang lain di atas dirinya.
Dan itu berat.
Hampir semua orang hanya memikirkan dirinya dan keluarganya. Namun bisa dilatih sehingga semua mencintai dan dicintai.
Perlu proses dan tempat untuk menjalankan proses itu, salah satunya ada di Jakarta Islamic School dan Jakarta Islamic Boarding school.
Itulah salah satu keutamaan membangun sekolah, adalah membangun peradaban dan menjalankan kebaikan-kebaikan dan semua sunnah Rasulullah saw semampunya.
Why upset?
Sekali lagi, setiap orang punya rumah masing-masing dengan dapur masing-masing .. dengan segala bumbu dapur (reasons) di belakangnya.
FB Fifi Proklawati Jubilea





