PERKEMBANGAN media sosial yang begitu pesat menghadirkan tantangan baru bagi dunia pendidikan di Indonesia. Di tengah derasnya arus informasi digital, sinergi antara keluarga, sekolah, masyarakat, dan media dinilai menjadi kunci dalam membentuk karakter generasi muda. Hal tersebut mengemuka dalam diskusi SAJID Friday Morning Talk yang dirangkai dengan silaturahmi rutin bersama insan media di AQL Islamic Center, Jalan Tebet Utara I No. 40, Jakarta Selatan, Jumat (17/7/2026).
Mengangkat tema “Membaca Arah Pendidikan di Tengah Arus Media Sosial”, kegiatan yang berlangsung pukul 07.00 hingga 09.00 WIB ini menghadirkan Prof. Dr. H. Biyanto, M.Ag, Staf Ahli Bidang Regulasi dan Hubungan Antar Lembaga Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) RI, sebagai narasumber utama. Diskusi dipandu oleh Dr. (H.C.) Bachtiar Nasir, Lc., M.M. dan dihadiri oleh para jurnalis dari berbagai wilayah Jabodetabek.
Dalam pemaparannya, Prof. Biyanto menekankan bahwa pendidikan merupakan tanggung jawab bersama yang tidak hanya dibebankan kepada sekolah. Menurutnya, pembentukan karakter anak justru lebih banyak dipengaruhi oleh lingkungan di luar ruang kelas.
Baca Juga: Wamenlu Anis Matta, Indonesia Dorong Integrasi Ekonomi dan Politik dengan Negara-negara Islam
Media Jadi Pilar Pendidikan, Prof. Biyanto Soroti Tantangan Era Digital di SAJID Friday Morning Talk
“Empat pilar pendidikan yaitu keluarga, sekolah, lingkungan masyarakat, dan media. Waktu anak dihabiskan di sekolah itu selama delapan jam, selebihnya dihabiskan di rumah dan masyarakat. Oleh karenanya media berperan penting,” ujar Prof. Biyanto.
Ia menjelaskan bahwa media, khususnya media sosial, kini telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari anak-anak dan remaja. Informasi yang mereka konsumsi setiap hari turut membentuk cara berpikir, perilaku, hingga nilai-nilai yang mereka pegang. Karena itu, media memiliki tanggung jawab besar dalam menghadirkan konten yang edukatif, inspiratif, dan membangun karakter bangsa.
Menurut Prof. Biyanto, kolaborasi antarpilar pendidikan menjadi semakin penting di era digital. Orang tua perlu meningkatkan pendampingan terhadap penggunaan gawai oleh anak, sekolah harus mampu menanamkan literasi digital, sementara masyarakat dan media memiliki peran dalam menciptakan lingkungan informasi yang sehat.
Diskusi yang berlangsung interaktif tersebut juga membahas berbagai tantangan pendidikan saat ini, mulai dari meningkatnya penggunaan media sosial di kalangan pelajar, penyebaran informasi yang tidak terverifikasi, hingga pentingnya membangun budaya berpikir kritis sejak usia dini.
Sementara itu, moderator Dr. (H.C.) Bachtiar Nasir mengajak para peserta untuk melihat media tidak hanya sebagai sarana penyebaran informasi, tetapi juga sebagai instrumen dakwah, pendidikan, dan pembentukan peradaban. Menurutnya, media memiliki pengaruh yang sangat besar dalam menentukan arah pola pikir masyarakat, sehingga perlu dimanfaatkan untuk menyebarkan nilai-nilai positif.
Para jurnalis yang hadir turut memanfaatkan kesempatan tersebut untuk berdiskusi mengenai berbagai isu pendidikan nasional, termasuk tantangan yang dihadapi media dalam menyampaikan informasi yang akurat sekaligus mendidik di tengah derasnya arus konten digital.
Melalui penyelenggaraan SAJID Friday Morning Talk, AQL Islamic Center berharap forum ini dapat menjadi ruang dialog yang mempertemukan akademisi, tokoh masyarakat, dan insan pers dalam membahas isu-isu strategis yang berkembang di Indonesia. Dengan memperkuat kolaborasi antara dunia pendidikan dan media, diharapkan lahir ekosistem informasi yang mampu mendukung terwujudnya generasi muda yang cerdas, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan era digital. [DW]





