APA yang kita makan setiap hari dapat memengaruhi kesehatan dalam jangka panjang. Di tengah kesibukan, makanan instan, daging olahan, dan hidangan yang dimasak dengan cara tertentu sering menjadi pilihan karena praktis dan mudah ditemukan. Namun, kebiasaan mengonsumsi makanan tertentu secara berlebihan perlu diperhatikan karena sejumlah penelitian menunjukkan kaitannya dengan peningkatan risiko kanker.
Meski demikian, penting untuk memahami bahwa tidak semua makanan yang dianggap kurang sehat secara langsung menyebabkan kanker. Risiko dipengaruhi oleh jenis makanan, jumlah konsumsi, pola makan secara keseluruhan, serta faktor lain seperti kebiasaan merokok, aktivitas fisik, dan kondisi tubuh. Berikut beberapa jenis makanan yang konsumsinya perlu dibatasi atau dihindari dalam kondisi tertentu.
Baca Juga: Tak Hanya Sekadar Menyegarkan Ini Manfaat Air Nabeez Kurma bagi Kesehatan
Waspadai 5 Jenis Makanan yang Bisa Meningkatkan Risiko Kanker
1. Daging Olahan seperti Sosis dan Kornet
Daging olahan menjadi salah satu jenis makanan yang perlu mendapat perhatian. Produk seperti sosis, ham, bacon, dan kornet dibuat melalui proses pengawetan, pengasinan, fermentasi, atau pengasapan.
Badan Internasional untuk Penelitian Kanker (IARC) menggolongkan konsumsi daging olahan sebagai karsinogenik bagi manusia berdasarkan bukti yang cukup mengenai kaitannya dengan kanker kolorektal atau kanker usus besar dan rektum. Artinya, terdapat bukti ilmiah bahwa konsumsi daging olahan dapat menyebabkan kanker kolorektal, bukan berarti setiap orang yang memakannya pasti akan terkena kanker.
Untuk mengurangi risiko, batasi konsumsi sosis dan produk sejenis. Sebagai alternatif, pilih sumber protein seperti ikan, telur, tahu, tempe, atau ayam segar.
2. Daging Merah yang Dikonsumsi Berlebihan
Daging sapi, kambing, dan domba merupakan sumber protein, zat besi, serta vitamin B12 yang dibutuhkan tubuh. Namun, konsumsi daging merah dalam jumlah tinggi secara rutin dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker kolorektal.
Berbeda dari daging olahan, daging merah dikategorikan IARC sebagai kemungkinan karsinogenik bagi manusia. Kekuatan buktinya tidak sama dengan daging olahan. Karena itu, daging merah tidak harus dihilangkan sepenuhnya dari menu harian, tetapi jumlah dan frekuensi konsumsinya perlu diperhatikan.
Cobalah memvariasikan lauk dengan ikan, kacang-kacangan, dan protein nabati. Pola makan yang beragam membantu memenuhi kebutuhan gizi sekaligus mengurangi ketergantungan pada satu jenis sumber protein.
3. Makanan yang Dibakar hingga Gosong
Sate, ayam panggang, dan ikan bakar memang menggugah selera. Namun, bagian makanan yang terlalu gosong sebaiknya tidak dijadikan kebiasaan untuk dikonsumsi.
Memasak daging pada suhu sangat tinggi atau langsung di atas api dapat membentuk senyawa tertentu, seperti amina heterosiklik (HCA) dan hidrokarbon aromatik polisiklik (PAH). Senyawa tersebut berpotensi merusak DNA dalam kondisi tertentu. Meski demikian, bukti pada manusia mengenai hubungan langsung metode memasak ini dengan kanker masih belum sepenuhnya konsisten.
Untuk mengurangi paparan senyawa tersebut, hindari memasak daging hingga hangus. Gunakan metode merebus, mengukus, atau memanggang dengan panas yang lebih terkendali.
4. Kacang dan Biji-bijian yang Berjamur
Kacang tanah, jagung, dan biji-bijian yang disimpan dalam kondisi lembap berisiko terkontaminasi aflatoksin. Zat beracun ini dihasilkan oleh jenis jamur tertentu dan diketahui berkaitan dengan peningkatan risiko kanker hati.
Makanan yang berjamur, berubah warna, atau tampak rusak sebaiknya tidak dikonsumsi. Jangan pula menganggap makanan tersebut aman hanya karena bagian yang berjamur sudah dibuang.
Simpan bahan pangan di tempat kering dan sejuk. Pilih produk yang kondisinya baik serta buang bahan makanan yang menunjukkan tanda kerusakan. Langkah ini penting untuk mengurangi paparan aflatoksin.
5. Makanan Tinggi Garam yang Dikonsumsi Berlebihan
Makanan yang diawetkan dengan banyak garam, seperti ikan asin dan beberapa jenis sayuran asin, juga perlu dibatasi. Konsumsi makanan yang diawetkan dengan garam tinggi dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker lambung.
Bukan berarti seseorang harus sepenuhnya menghindari semua makanan asin. Hal yang perlu diperhatikan adalah jumlah dan frekuensi konsumsinya. Terlalu banyak garam juga dapat meningkatkan risiko tekanan darah tinggi.
Biasakan membaca label kandungan natrium pada makanan kemasan. Untuk menu sehari-hari, pilih bahan segar dan gunakan bumbu alami seperti bawang putih, jahe, kunyit, atau jeruk nipis untuk memperkaya rasa.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
***
Mengurangi risiko kanker tidak cukup hanya dengan menghindari beberapa jenis makanan. Pola makan seimbang yang mencakup sayuran, buah-buahan, biji-bijian utuh, dan kacang-kacangan juga penting untuk menjaga kesehatan.
Selain itu, pertahankan berat badan sehat, rutin beraktivitas fisik, hindari rokok, dan batasi alkohol. Tidak ada satu jenis makanan yang dapat menjamin seseorang terbebas dari kanker. Namun, kebiasaan makan yang baik dapat menjadi bagian penting dari upaya menurunkan risiko penyakit tersebut. [DW]





