MANUSIA dan jin berada dalam dimensi alam yang berbeda. Meskipun, dalam dunia yang sama.
Ada sebuah keadaan yang membuat panik jin dan setan. Biasanya, mereka bisa mencuri dengar ‘kabar’ dari langit. Para jin biasa duduk-duduk di langit untuk mencuri dengar itu.
Namun, tiba-tiba keadaan itu berubah drastis. Langit tiba-tiba seperti terhijab rapat. Para jin yang biasa duduk-duduk pun diserang dengan panah api.
Iblis meyakini bahwa pasti ada sesuatu yang terjadi di dunia saat ini. Tapi, entah apa.
Iblis pun mengerahkan semua ‘aparat’nya untuk menelusuri seluruh pelosok bumi. Apa gerangan yang membuat keadaan langit tiba-tiba berubah.
Akhirnya, satu tim dari mereka mendapati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat tengah shalat Subuh di sebuah lembah di Mekah. Mereka pun menyimak dengan baik bacaan Al-Qur’an dari Nabi.
“Rupanya, ini yang membuat langit menjadi berubah drastis,” ucap seorang pemimpin mereka. Hal itu pun dilaporkan ke Iblis.
Namun begitu, heboh tentang kedatangan Nabi dengan Al-Qur’an terlanjur menyebar di kalangan para jin, baik yang menjadi pengikut iblis dan juga yang bukan pengikut iblis.
Mereka yang bukan pengikut iblis kerap menyimak bacaan Al-Qur’an Nabi saat sedang memimpin shalat di malam hari. Dan, mereka pun langsung beriman kepada Allah dan Rasulullah.
Mereka yang beriman mengirim utusan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. “Mohon kiranya bisa memberikan pelajaran-pelajaran untuk kaum kami,” seperti itu kira-kira yang disampaikan utusan jin.
Masing-masing kelompok juga mengirim utusan. Mereka meminta permohonan yang sama.
Suatu malam, selepas shalat Isya di sebuah lembah di Mekah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menawarkan sebagian sahabat ikut menghadiri pertemuan dengan kaum jin. Tapi, mereka menolak. Kecuali, Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhum.
Akhirnya, Abdullah bin Mas’ud menjadi narasumber peristiwa pertemuan Rasulullah dengan kaum jin dan kemudian disampaikan kepada kaum muslimin.
Ibnu Mas’ud menceritakan, malam itu di sebuah lembah, Rasulullah membuat garis dengan kakinya. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam meminta Ibnu Mas’ud untuk tidak melewati garis.
Tiba-tiba, Ibnu Mas’ud melihat kerumunan bayang-bayang warna hitam. Bayang-bayang hitam itu akhirnya menutupi sosok Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.
Ada juga riwayat yang menyebutkan kalau sosok Nabi tiba-tiba tidak ditemukan bersamaan dengan hilangnya kerumunan bayang-bayang hitam itu. Ibnu Mas’ud pun mencari-cari Rasulullah ke semua lembah dan bukit. Tapi, tak juga ditemukan.
Baru pada sekitar waktu sahur atau menjelang waktu fajar, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tiba dan menemui Ibnu Mas’ud dan para sahabat yang lain.
Setelah turun Surah Jin, barulah para sahabat memahami informasi yang utuh tentang kaum jin.
Di antara isinya: jin ada yang muslim dan ada yang kafir, mereka menyebarkan isi Al-Qur’an kepada kaumnya, manusia ada yang meminta perlindungan kepada jin dan justru jin kian menyesatkan manusia itu, dan seterusnya.
**
Islam itu rahmat untuk seluruh alam. Termasuk, untuk alam jin. Meskipun, tetap banyak dari mereka yang kafir dan menjadi pengikut iblis.
Tidak banyak yang diungkapkan dalam Al-Qur’an dan Hadis tentang kaum jin ini. Karena itu, jangan merasa lebih tahu dari apa yang sudah disampaikan Al-Qur’an dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kecuali yang merupakan penjelasan dari ulama salafus soleh.
Misalnya, jangan merasa bisa masuk ke alam mereka. Jangan mempercayai ucapan-ucapan ‘perantara’ jin, seperti dukun atau orang yang kesurupan.
Dimensi alam kita berbeda dengan mereka. Fokuslah dengan dakwah di antara kita, tanpa perlu repot-repot ingin memasuki alam mereka. [Mh]


