• Tentang Kami
  • Iklan
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
Rabu, 24 Juni, 2026
No Result
View All Result
FOKUS+
  • Home
  • Jendela Hati
    • Thinking Skills
    • Quotes Mam Fifi
  • Keluarga
    • Suami Istri
    • Parenting
    • Tumbuh Kembang
  • Pranikah
  • Lifestyle
    • Figur
    • Fashion
    • Healthy
    • Kecantikan
    • Masak
    • Resensi
    • Tips
    • Wisata
  • Berita
    • Berita
    • Editorial
    • Fokus +
    • Sekolah
    • JISc News
    • Info
  • Khazanah
    • Khazanah
    • Quran Hadis
    • Nasihat
    • Ustazah
    • Kisah
    • Umroh
  • Konsultasi
    • Hukum
    • Syariah
Chanelmuslim.com
No Result
View All Result
Home Editorial

New Normal atau New Disaster

27/05/2020
in Editorial
81
SHARES
625
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterWhatsappTelegram
ADVERTISEMENT

 

ChanelMuslim.com- Setelah tiga bulan masa “serba di rumah” berlalu sejak awal Maret, pemerintah mulai menggemakan “new normal” sebagai geliat baru dinamika masyarakat Indonesia. Hal itu ditandai dengan kemunculan sosok Presiden Jokowi di stasiun MRT bersama Gubernur DKI, Anies Rasyid Baswedan, dan kehadirannya di pembukaan Mal Summarecon Bekasi bersama Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, Selasa (26/5).

Dua momen di atas bisa dikatakan sebagai “gong” dimulainya new normal life atau hidup nomal baru. Hal ini juga dirasakan masyarakat Indonesia sebagai angin surga setelah hidup tiga bulan dalam kebuntuan harapan.

Namun, sejumlah pakar masih ragu dengan dasar kalkulasi pemerintah untuk menetapkan momen new normal ini. Apakah dasarnya memang seperti yang distandarkan WHO atau semata-mata kreasi khas elit Indonesia yang berada di bawah bayang-bayang kekuatan pengusaha besar.

Kalau merujuk pada standar WHO, new normal pada sebuah negara bisa diterapkan jika data penyebaran corona menunjukkan penurunan. Atau setidaknya berada pada tren grafik landai. Hal itulah yang ditunjukkan oleh beberapa negara seperti Cina, Vietnam, Jerman, Selandia Baru, dan lainnya.

Bagaimana dengan Indonesia? Data resmi yang bisa dibaca di Gugus Tugas Covid-19 menunjukkan bahwa kenaikan penyebarannya masih tinggi. Berkisar antara 400 hingga 600 per hari. Padahal, data itu diambil pada saat penerapan PSBB.

Kedua, penentuan zona merah dan hijau di suatu daerah masih diragukan sejumlah pakar. Pasalnya, zona-zona itu diambil dari berapa banyak warga yang terinfeksi pada situasi alami. Artinya, zona-zona itu bukan diambil dari kesimpulan setelah dilakukannya pemeriksaan massal terhadap warga setempat.

Dengan kata lain, zona-zona ini bisa sangat menipu manakala menelisik karakter penularan Covid-19 yang menunjukkan bahwa tidak semua yang terinfeksi menunjukkan gejala alami seperti demam, batuk, sesak nafas dan lainnya.

Angka di Jakarta mungkin bisa menjadi contoh. Warga yang positif terinfeksi memang berkisar di angka 6 ribuan. Tapi, yang OTG alias orang tanpa gejala bisa tiga kali lipat dari angka itu. Posisi OTG ini baru bisa terdeteksi jika dilakukan tes massal yang berskala besar di semua daerah.

Ketiga, ada perbedaan mendasar dari karakter orang Indonesia dibandingkan dengan masyarakat Eropa misalnya. Orang Indonesia dikenal ramah, dan menyatu dengan kebersamaan. Atau dengan bahasa lain, orang Indonesia senang berkerumun dan betah dengan keramaian.

Di masa PSBB yang relatif ketat saja, kerumunan normal masih banyak terjadi. Apalagi jika dilakukan pelonggaran. Dan sangat sulit membuat aturan apa pun untuk mengurangi kerumunan di tengah pelonggaran ini.

Tidak ada di negeri mana pun yang perayaan Idul Fitrinya bisa satu bulan selain di Indonesia. Tidak ada di negara mana pun yang semangat belanja Lebaran dan mudiknya melampaui orang Indonesia. Dan hanya di Indonesia ketika satu atau dua orang yang berangkat menunaikan ibadah haji tapi ditemani oleh ratusan orang.

Pertanyaannya, sanggupkah semua “basa-basi” tentang protokol covid-19 itu benar-benar bisa ditegakkan di tengah kerumunan itu, di tengah kerinduan orang untuk bisa kembali ke mal dan restoran, di tengah keluarga calon mempelai menanti-nanti untuk bisa merayakan pesta pernikahan, di tengah masyarakat yang ingin kembali berhalal-bihalal dan berwisata ria.

Sejatinya, semangat geliat new normal tidak semata-mata mengacu pada angka-angka ekonomi. Karena nyawa warga Indonesia tidak senilai dengan aset ekonomi apa pun.

Jika kalkulasi ekonomi yang selalu dikedepankan untuk menjadi acuan new normal, kita khawatir, bukan new normal yang terjadi. Melainkan, new disaster, atau bencana baru. Semoga ini tidak terjadi. (Mh)

Dapatkan Informasi Terupdate Terbaru Melalui Saluran CMM Dapatkan Informasi Terupdate Terbaru Melalui Saluran CMM Dapatkan Informasi Terupdate Terbaru Melalui Saluran CMM
Previous Post

Ide Makan Siang Cepat Saji, Chicken Pop Corn

Next Post

Puding Sutra ala Mak Frida, Resep Recommended Usir Bosan #DiRumahAja

Next Post

Puding Sutra ala Mak Frida, Resep Recommended Usir Bosan #DiRumahAja

Kisah di Balik Foto Keluarga

Kenormalan Baru Tidak Signifikan Mendorong Ekonomi

  • Bun, Yuk Kenali Gangguan Pencernaan pada 1.000 Hari Pertama Bayi

    124 Nama Sahabiyat untuk Bayi Perempuan

    8718 shares
    Share 3487 Tweet 2180
  • Ayat Al-Qur’an tentang Traveling

    994 shares
    Share 398 Tweet 249
  • Hukum Membakar Pakaian Bekas

    11494 shares
    Share 4598 Tweet 2874
  • Doa Ibu yang Mengubah Nasib Anak

    3924 shares
    Share 1570 Tweet 981
  • Pastikan Sabun yang Kamu Gunakan Halal

    213 shares
    Share 85 Tweet 53
  • Perhatikan Batas Usia Masuk Sekolah Tahun Ajaran Baru 2025/2026

    138 shares
    Share 55 Tweet 35
  • Doa untuk Palestina Lengkap beserta Artinya

    2238 shares
    Share 895 Tweet 560
  • Bacaan Doa saat Duduk Tasyahud Akhir Lengkap Beserta Latin dan Terjemahannya

    2245 shares
    Share 898 Tweet 561
  • Warna Hijab yang Cocok untuk Baju Warna Coklat Susu

    179 shares
    Share 72 Tweet 45
  • Hanya Islam yang Pantas Pimpin Palestina

    67 shares
    Share 27 Tweet 17
Chanelmuslim.com

© 1997 - 2025 ChanelMuslim - Media Online Pendidikan dan Keluarga

Navigate Site

  • IKLAN
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • REDAKSI
  • LOWONGAN KERJA

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home
  • Jendela Hati
    • Thinking Skills
    • Quotes Mam Fifi
  • Keluarga
    • Suami Istri
    • Parenting
    • Tumbuh Kembang
  • Pranikah
  • Lifestyle
    • Figur
    • Fashion
    • Healthy
    • Kecantikan
    • Masak
    • Resensi
    • Tips
    • Wisata
  • Berita
    • Berita
    • Editorial
    • Fokus +
    • Sekolah
    • JISc News
    • Info
  • Khazanah
    • Khazanah
    • Quran Hadis
    • Nasihat
    • Ustazah
    • Kisah
    • Umroh
  • Konsultasi
    • Hukum
    • Syariah

© 1997 - 2025 ChanelMuslim - Media Online Pendidikan dan Keluarga