• Tentang Kami
  • Iklan
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
Kamis, 17 September, 2026
No Result
View All Result
  • Home
  • Jendela Hati
    • Thinking Skills
    • Quotes Mam Fifi
  • Keluarga
    • Suami Istri
    • Parenting
    • Tumbuh Kembang
  • Pranikah
  • Lifestyle
    • Figur
    • Fashion
    • Healthy
    • Kecantikan
    • Masak
    • Resensi
    • Tips
    • Wisata
  • Berita
    • Berita
    • Editorial
    • Fokus +
    • Sekolah
    • JISc News
    • Info
  • Khazanah
    • Khazanah
    • Quran Hadis
    • Nasihat
    • Ustazah
    • Kisah
    • Umroh
  • Konsultasi
    • Hukum
    • Syariah
Chanelmuslim.com
No Result
View All Result
Home Editorial

New Normal atau New Disaster

27/05/2020
in Editorial
82
SHARES
631
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterWhatsappTelegram
ADVERTISEMENT

 

ChanelMuslim.com- Setelah tiga bulan masa “serba di rumah” berlalu sejak awal Maret, pemerintah mulai menggemakan “new normal” sebagai geliat baru dinamika masyarakat Indonesia. Hal itu ditandai dengan kemunculan sosok Presiden Jokowi di stasiun MRT bersama Gubernur DKI, Anies Rasyid Baswedan, dan kehadirannya di pembukaan Mal Summarecon Bekasi bersama Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, Selasa (26/5).

Dua momen di atas bisa dikatakan sebagai “gong” dimulainya new normal life atau hidup nomal baru. Hal ini juga dirasakan masyarakat Indonesia sebagai angin surga setelah hidup tiga bulan dalam kebuntuan harapan.

Namun, sejumlah pakar masih ragu dengan dasar kalkulasi pemerintah untuk menetapkan momen new normal ini. Apakah dasarnya memang seperti yang distandarkan WHO atau semata-mata kreasi khas elit Indonesia yang berada di bawah bayang-bayang kekuatan pengusaha besar.

Kalau merujuk pada standar WHO, new normal pada sebuah negara bisa diterapkan jika data penyebaran corona menunjukkan penurunan. Atau setidaknya berada pada tren grafik landai. Hal itulah yang ditunjukkan oleh beberapa negara seperti Cina, Vietnam, Jerman, Selandia Baru, dan lainnya.

Bagaimana dengan Indonesia? Data resmi yang bisa dibaca di Gugus Tugas Covid-19 menunjukkan bahwa kenaikan penyebarannya masih tinggi. Berkisar antara 400 hingga 600 per hari. Padahal, data itu diambil pada saat penerapan PSBB.

Kedua, penentuan zona merah dan hijau di suatu daerah masih diragukan sejumlah pakar. Pasalnya, zona-zona itu diambil dari berapa banyak warga yang terinfeksi pada situasi alami. Artinya, zona-zona itu bukan diambil dari kesimpulan setelah dilakukannya pemeriksaan massal terhadap warga setempat.

Dengan kata lain, zona-zona ini bisa sangat menipu manakala menelisik karakter penularan Covid-19 yang menunjukkan bahwa tidak semua yang terinfeksi menunjukkan gejala alami seperti demam, batuk, sesak nafas dan lainnya.

Angka di Jakarta mungkin bisa menjadi contoh. Warga yang positif terinfeksi memang berkisar di angka 6 ribuan. Tapi, yang OTG alias orang tanpa gejala bisa tiga kali lipat dari angka itu. Posisi OTG ini baru bisa terdeteksi jika dilakukan tes massal yang berskala besar di semua daerah.

Ketiga, ada perbedaan mendasar dari karakter orang Indonesia dibandingkan dengan masyarakat Eropa misalnya. Orang Indonesia dikenal ramah, dan menyatu dengan kebersamaan. Atau dengan bahasa lain, orang Indonesia senang berkerumun dan betah dengan keramaian.

Di masa PSBB yang relatif ketat saja, kerumunan normal masih banyak terjadi. Apalagi jika dilakukan pelonggaran. Dan sangat sulit membuat aturan apa pun untuk mengurangi kerumunan di tengah pelonggaran ini.

Tidak ada di negeri mana pun yang perayaan Idul Fitrinya bisa satu bulan selain di Indonesia. Tidak ada di negara mana pun yang semangat belanja Lebaran dan mudiknya melampaui orang Indonesia. Dan hanya di Indonesia ketika satu atau dua orang yang berangkat menunaikan ibadah haji tapi ditemani oleh ratusan orang.

Pertanyaannya, sanggupkah semua “basa-basi” tentang protokol covid-19 itu benar-benar bisa ditegakkan di tengah kerumunan itu, di tengah kerinduan orang untuk bisa kembali ke mal dan restoran, di tengah keluarga calon mempelai menanti-nanti untuk bisa merayakan pesta pernikahan, di tengah masyarakat yang ingin kembali berhalal-bihalal dan berwisata ria.

Sejatinya, semangat geliat new normal tidak semata-mata mengacu pada angka-angka ekonomi. Karena nyawa warga Indonesia tidak senilai dengan aset ekonomi apa pun.

Jika kalkulasi ekonomi yang selalu dikedepankan untuk menjadi acuan new normal, kita khawatir, bukan new normal yang terjadi. Melainkan, new disaster, atau bencana baru. Semoga ini tidak terjadi. (Mh)

Dapatkan Informasi Terupdate Terbaru Melalui Saluran CMM Dapatkan Informasi Terupdate Terbaru Melalui Saluran CMM Dapatkan Informasi Terupdate Terbaru Melalui Saluran CMM
Previous Post

Ide Makan Siang Cepat Saji, Chicken Pop Corn

Next Post

Puding Sutra ala Mak Frida, Resep Recommended Usir Bosan #DiRumahAja

Next Post

Puding Sutra ala Mak Frida, Resep Recommended Usir Bosan #DiRumahAja

Kisah di Balik Foto Keluarga

Kenormalan Baru Tidak Signifikan Mendorong Ekonomi

  • Bun, Yuk Kenali Gangguan Pencernaan pada 1.000 Hari Pertama Bayi

    124 Nama Sahabiyat untuk Bayi Perempuan

    9339 shares
    Share 3736 Tweet 2335
  • Pagelaran Fashion Muslim Modest Wear Ramadan in Style

    846 shares
    Share 338 Tweet 212
  • Beberapa Penyebab Rambut Tipis Mudah Lepek

    155 shares
    Share 62 Tweet 39
  • Simbang Kulon Night Carnival 2026 Viral, Adegan Bernuansa Satanic dan Kabar Peserta Meninggal

    136 shares
    Share 54 Tweet 34
  • Ayat Al-Qur’an tentang Traveling

    1289 shares
    Share 516 Tweet 322
  • BAZNAS dan LPAI Jalin Kerja Sama Fundraising untuk Perkuat Program Perlindungan Anak

    68 shares
    Share 27 Tweet 17
  • Rekomendasi Ide Masak Tofu Simpel Kurang dari 30 Menit

    69 shares
    Share 28 Tweet 17
  • Cara Beristighfar untuk Orangtua yang Sudah Meninggal

    4809 shares
    Share 1924 Tweet 1202
  • Doa Ibu yang Mengubah Nasib Anak

    4232 shares
    Share 1693 Tweet 1058
  • Houthi Bantah Serang Mekah

    67 shares
    Share 27 Tweet 17
Chanelmuslim.com

© 1997 - 2025 ChanelMuslim - Media Online Pendidikan dan Keluarga

Navigate Site

  • IKLAN
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • REDAKSI
  • LOWONGAN KERJA

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home
  • Jendela Hati
    • Thinking Skills
    • Quotes Mam Fifi
  • Keluarga
    • Suami Istri
    • Parenting
    • Tumbuh Kembang
  • Pranikah
  • Lifestyle
    • Figur
    • Fashion
    • Healthy
    • Kecantikan
    • Masak
    • Resensi
    • Tips
    • Wisata
  • Berita
    • Berita
    • Editorial
    • Fokus +
    • Sekolah
    • JISc News
    • Info
  • Khazanah
    • Khazanah
    • Quran Hadis
    • Nasihat
    • Ustazah
    • Kisah
    • Umroh
  • Konsultasi
    • Hukum
    • Syariah

© 1997 - 2025 ChanelMuslim - Media Online Pendidikan dan Keluarga