BELAKANGAN ini, tagar plus seruan Justice for Evia ramai dibicarakan di sosial media. Publik menyoroti wafatnya mahasiswa Universitas Negeri Manado (Unima), Evia Maria Mangolo, yang diduga mendapatkan pelecehan seksual oleh dosennya berinisial DM.
Kasus ini memicu perhatian luas, menandai keprihatinan dari masyarakat Indonesia yang menuntut keadilan bagi perempuan berusia 21 tahun tersebut.
Evia yang ditemukan tak bernyawa dalam kamar kosnya di kawasan Kaaten, Kota Tomohon, Sulawesi Utara, Selasa (30/12/2025) awalnya diduga meninggal karena bunuh diri (suicide).
Kematian Evia diindikasi berkaitan dengan depresi yang berujung bunuh diri pasca mendapatkan pelecehan dari dosennya.
Namun, ada sejumlah kejanggalan yang memicu sorotan publik. Masyarakat menyoroti ada kemungkinan keterlibatan pihak lain.
Baca juga: Mahasiswa ITS Ciptakan Alat Deteksi Dini Tuberkulosis Berbasis Suara Batuk
Tagar Justice for Evia Tengah Ramai Dibicarakan di Sosial Media
Sepekan pasca meninggalnya Evia, kejelasan kasus yang menimpa mahasiswi Fakultas Ilmu Pendidikan dan Psikologi (FIPP) jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) tersebut masih abu-abu.
Geram dengan proses pengusutan, publik menggaungkan seruan Justice for Evia. Salah satunya influencer Sadam Permana Wiyana lewat akun Tiktok pribadinya.
Sadam mengajak publik untuk mengawal bersama kasus Evia, menuntut keadilan baginya. Mereka meminta pihak kampus berperan aktif untuk mengusut kasus ini secara tuntas.
Dukungan publik pun mengalir deras di jejaring sosial. Banyak masyarakat yang menuliskan komentar bersifat ‘boost’ untuk memperluas dan meningkatkan perhatian terhadap kasus ini.
Kini, insiden meninggalnya Evia tengah diusut oleh Polda Sulawesi Utara (Sulut). Dikutip dari berbagai sumber, Kasi Humas Polda Sulut Kombes Pol Alamsyah Parulian Hasibuan mengungkapkan bahwa pihaknya masih menyelidiki kasus ini.
Untuk mendapatkan banyak bukti, Polda Sulut juga mulai memeriksa sejumlah saksi sebagai bahan penyidikan. Dalam kasus ini, pihak kepolisian juga terus berkoordinasi dengan pihak Unima.
Selain kasus dugaan pelecehan seksual yang terjadi pada Evia, kematian mahasiswi semester 8 tersebut dinilai janggal oleh sejumlah pihak.
Adanya bekas lebam-lebam di jenazah Evia memicu kecurigaan keluarga. Sadar ada yang aneh, keluarga Evia terkejut setelah melihat kondisi kaki korban.
Tanda biru lebam yang tampak di anggota tubuh memunculkan pertanyaan mengenai kronologi kematian korban.
Selain itu, ada luka lainnya yang ditemukan pada bagian pinggang kiri dan paha atas korban. Untuk mendapatkan jawabannya, keluarga meminta supaya Evia diotopsi.
Keluarga semakin dibingungkan setelah mengetahui lokasi meninggalnya Evia. Pengacara keluarga Evia, Cyprus Tatali mengungkapkan bahwa Evia meninggal bukan dalam kamar.
“Tapi katanya di lorong depan ruang tamu,” ucap Cyprus dikutip dari berbagai sumber.
“Kalau bunuh diri pada umumnya kan di kamar, jadi ada kejanggalan,” tuturnya.
Selain itu, Cyprus juga menilai kejanggalan setelah melihat kain yang mencurigakan di tempat kejadian perkara (TKP).
“Untuk posisi kain juga agak janggal,” katanya.
Beberapa kejanggalan tersebut mendorong keluarga untuk mengambil langkah hukum lebih lanjut. Keluarga juga meminta otopsi untuk mengetahui penyebab pasti meninggalnya Evia.
“Jika memang itu bukan bunuh diri, siapa pelakunya?,” ucap Cyprus.
“Agar supaya tidak multitafsir, maka diputuskan untuk diadakan otopsi,” lanjutnya.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Sebelum berpulang, Evia sempat meninggalkan surat tulisan tangan berupa laporan pelecehan seksual yang dilakukan oleh dosennya, DM.
Dalam surat tersebut, Evia menceritakan kronologi pelecehan seksual yang dilakukan oleh DM. Pada Jumat, 12 Desember 2025, Evia awalnya mendapatkan chat yang tidak senonoh dari DM.
Kemudian Maria diminta untuk masuk ke mobilnya dengan dalih pembicaraan mengenai nilai. Mulai dari sana, Evia mengalami kejadian yang tidak mengenakkan dan membuatnya ketakutan. Selain pelecehan fisik, Evia juga diduga mendapatkan pelecehan verbal dari Danny.
Dari sana, Evia menulis laporan dan meminta pihak kampus menangani masalah tersebut. Dia meminta kampus memberikan sanksi kepada DM karena telah melakukan perbuatan tidak senonoh kepada dirinya. [Din]





