BELANDA atau Netherlands memiliki memori tersendiri untuk orang Indonesia. Tapi, ada sejumlah hal unik yang dimiliki negeri Belanda.
Belanda pernah menjajah Indonesia begitu lama. Kenangan orang Indonesia terhadap negeri Belanda bisa dibilang negatif. Tapi kini, Indonesia dan Belanda telah kembali menjalin hubungan baik.
Ada sejumlah hal unik yang bisa dicermati dari negeri Belanda. Apa itu?
Pertama, jumlah sepeda di Belanda lebih besar dari total warganya.
Negeri dengan luas sekitar 45 ribu km persegi ini punya total penduduk sebanyak 18 juta lebih. Jumlah ini memang sangat kecil di banding Indonesia. Bahkan untuk Jabodetabek pun, jumlah ini masih jauh lebih kecil.
Tapi begitu, jumlah sepeda yang ada di Belanda ternyata lebih banyak dari jumlah warganya. Dari data yang ada, jumlah sepeda di negeri kincir angina da 20 juta lebih, atau 2 juta lebih banyak dari orang yang memakainya.
Kenapa? Karena warga Belanda begitu akrab dengan sepeda daripada kendaraan lainnya, termasuk mobil.
Hal ini, selain karena akses infrastruktur yang begitu ramah dengan sepeda, pemerintah di sana juga memberikan potongan pajak untuk mereka yang berkendara dengan sepeda. Hitungan potongannya berdasarkan berapa kilometer mereka bersepeda.
Alhasil, sepeda menjadi alat transportasi yang lebih mudah dijumpai dari mobil, motor, dan lainnya. Tentu saja ada hal positifnya: polusi udara di Belanda menjadi sangat minim. Dan biayanya juga jadi lebih hemat.
Dua, Orang Belanda paling ‘Pelit’ di Eropa
Karena budaya yang sudah mengakar turun-temurun, orang-orang di Belanda menjadi begitu ‘pelit’. Ini bahasa kasar dari super irit.
Istilah ini tidak dimaksudkan negatif. Sebaliknya, menjadi positif karena hidup hemat yang mereka jalani di segala sisi.
Contoh, orang Belanda tidak akan membuang makanan sisa. Mereka akan mengolah, atau tetap memakannya selama masih enak.
Contoh lain, tidak ada istilah makan gratis di Belanda. Setiap yang makan, dia harus bayar. Meskipun makannya bersama-sama dan satu sama lain sudah saling kenal.
Bahkan, kalau ada undangan makan bersama di rumah seseorang, jangan heran jika tuan rumah akan menagih total biaya makanan yang kita makan. Dan hal ini sudah bukan hal aneh di sana.
Kalau Anda membiasakan diri untuk mentraktir orang-orang Belanda karena pertemanan misalnya, maka mereka akan tersinggung. Mereka mengatakan, “Kalian mau membeli kami?”
Tiga, Tidak Ada Superioritas di Belanda
Orang Belanda terbiasa hidup dalam kesetaraan. Semua orang menjadi biasa, meskipun di negara asalnya sebagai pejabat atau orang kaya. Baik itu orang miskin atau kaya, sama-sama mengendarai sepeda.
Begitu pun dalam hal agama. Bisa dibilang, mayoritas orang Belanda tidak beragama. Memang, agama tradisional mereka Katolik dan Protestan, tapi lebih dari 50 persen penduduknya saat ini tidak beragama.
Namun begitu, mereka tidak anti agama. Mereka tetap menghormati agama apa pun yang dipeluk warganya.
Saat ini, ada tiga agama yang populer di Belanda: Katolik, Protestan, dan Islam. Ada sebanyak 400 masjid sudah eksis di Belanda.
Empat, Belanda paling Jago Mengelola Banjir
Bisa dibilang, di seluruh dunia, Belanda merupakan negara yang paling jago mengelola banjir. Sepertiga wilayah Belanda berada di bawah permukaan air.
Termasuk, Amsterdam. Bahkan di wilayah ini, posisi daratan berada sekitar 4 meter di bawah permukaan laut.
Mereka mampu mengelola ‘pintu’ masuk dan keluar air laut di sepanjang garis pantainya. Dan pintu ini dikelola secara otomatis. Kalau air laut tinggi, atau ada badai, pintu akan secara otomatis tertutup. Semua serba komputerisasi.
Hal ini merupakan pengalaman berabad-abad negeri Belanda dalam ‘melawan’ banjir. Sebelumnya, mereka terbiasa diterjang banjir besar: dari laut di wilayah utara, maupun dari selatan dari sungai-sungai besar yang mengalir dari wilayah Eropa ke Belanda.
Orang kadang salah paham tentang kincir angin di Belanda. Kincir angin yang begitu banyak di Belanda bukan bangunan hiasan atau sekadar keindahan arsitektur saja. Melainkan, alat yang sangat penting dalam mengelola arus air.
Bahkan saat ini, begitu banyak wilayah baru yang diperoleh dari laut dan rawa yang berhasil mereka keringkan. Salah satu wilayah itu bernama Amsterdam. Nama itu berasal dari sebutan bendungan di Sungai Amstel.
Jadi, kalau ingin bebas banjir, silakan belajar ke Belanda. Tentu saja, para pejabatnya harus lebih dahulu tidak gemar korupsi. [Mh]





