• Tentang Kami
  • Iklan
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
Jumat, 29 Mei, 2026
No Result
View All Result
FOKUS+
  • Home
  • Jendela Hati
    • Thinking Skills
    • Quotes Mam Fifi
  • Keluarga
    • Suami Istri
    • Parenting
    • Tumbuh Kembang
  • Pranikah
  • Lifestyle
    • Figur
    • Fashion
    • Healthy
    • Kecantikan
    • Masak
    • Resensi
    • Tips
    • Wisata
  • Berita
    • Berita
    • Editorial
    • Fokus +
    • Sekolah
    • JISc News
    • Info
  • Khazanah
    • Khazanah
    • Quran Hadis
    • Nasihat
    • Ustazah
    • Kisah
    • Umroh
  • Konsultasi
    • Hukum
    • Syariah
Chanelmuslim.com
No Result
View All Result
Home Editorial

Trend Sepeda, Trend Kesumpekan

13/07/2020
in Editorial
77
SHARES
594
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterWhatsappTelegram
ADVERTISEMENT

 

ChanelMuslim.com- Tidak semua tentang corona bercerita soal krisis. Salah satunya sepeda. Siapa sangka, di tengah anjloknya sektor ekonomi, trend dagangan sepeda justru melonjak. Tiba-tiba, sebagian besar orang kepincut kendaraan asli tenaga kaki ini.

Trend itu mungkin rahasia Tuhan. Tidak disangka, tidak bisa juga dikira-kira. Salah satunya tentang sepeda. Tua, muda, pria wanita, dan anak-anak sekali pun berbondong-bondong beli sepeda. Tak peduli soal harga, yang penting bisa punya sepeda.

Sebenarnya, tidak ada bedanya antara bersepeda sebelum masa wabah ini dengan saat wabah mulai dianggap biasa. Sama-sama digoes, dan sama-sama menggunakan tenaga kaki. Tapi entah kenapa, tiba-tiba orang mengalami hipnotis yang sama: sepeda.

Jadi, wabah yang saat ini dialami Indonesia bukan sekadar corona. Tapi, juga kegandrungan dengan sepeda. Bayangkan, CFD atau hari bebas kendaraan di sejumlah kota besar termasuk DKI Jakarta saja, sudah menggeser penyajiannya dari jalan santai dan joging kepada area khusus  bersepeda.

Sepeda menggantikan keinginan warga berolah raga dari berjalan sehat kepada bergoes sehat. Dari berjalan santai bersama keluarga, menjadi bersepeda santai konvoi keluarga.

Bersepeda seperti memiliki muatan baru yang berbeda dari sebelumnya. Dari yang dianggap sebagai alat transportasi sederhana. Kini, tiba-tiba menjelma menjadi trend transportasi yang tidak biasa. Di mana tidak biasanya?

Saat ini, orang seolah memperlakukan sepeda bukan sekadar alat transportasi. Bukan juga sekadar sarana untuk berolah raga. Melainkan, pemenuhan kepuasan baru dari sumpeknya suasana serba di rumah dan serba dalam ruangan yang sangat menyiksa.

Bersepeda seperti menjelma menjadi fenomena kesumpekan massal, khususnya warga kota, yang selama empat bulan terkurung dalam rumah. Tapi kenapa harus sepeda, bukan mobil atau motor?

Kesumpekan serba di rumah selama empat bulan lebih, bukan sekadar menghasilkan endapan kejenuhan suasana. Ketika ini yang dipahami, sebagian orang sudah mencobanya untuk berpergian ke tempat yang agak berbeda pasca PSBB berakhir. Ada yang ke puncak, pantai, atau sekadar keliling sekecamatan dan kampung.

Namun, yang terpuaskan hanya kesumpekan suasana saja. Ada satu kesumpekan lain yang belum terpuaskan. Yaitu, selama di rumah dan ruangan, potensi energi fisik kurang tersalurkan semestinya. Mau jalan kaki, rasanya sangat melelahkan. Mau lari-lari, rasanya terlalu ekstrim, dari serba diam tiba-tiba melompat ke lari-lari. Dan akhirnya, yang cocok dipilih hati dan rasa adalah bersepeda.

Dengan bersepeda, energi yang dikeluarkan tidak terlalu berat. Tidak juga dinihilkan seperti ketika berada di mobil atau motor yang serba mesin. Tapi, dengan bersepeda, bisa disalurkan potensi energinya yang selama ini mengendap percuma dengan posisi santai dan sekaligus bisa menyejukkan mata.

Menyejukkan mata juga kecenderungan yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Jika dengan mobil dan motor, mata kurang disejukkan secara detil. Pemandangan beralih begitu cepat. Dengan bersepeda, mata bisa menikmati sajian-sajian “alam” di sekitar jalan menjadi lebih detil, kongkrit, utuh, dan bisa memuaskan diri dari kesumpekan dalam kungkungan serba di rumah.

Sepeda juga sebagai wujud kendaraan untuk semua kalangan ekonomi: bawah, menengah, hingga atas. Rentang harganya begitu panjang, dan tidak ada yang sepanjang rentang harga sepeda. Mulai dari ratusan ribu hingga ratusan juta, bahkan milyaran rupiah.

Menariknya, rentang harga ini, nyaris, sedikit pun tak mengubah tampilan luar sepeda. Hal ini berbeda dengan mobil dan motor yang begitu ekstrim soal gradasi tampilan dan rentang harga. Misalnya, motor harga sepuluh jutaan ukurannya kecil dan serba plastik. Sementara, yang harga ratusan juta wujudnya bongsor dan serba hiasan besi mengkilat.

Mobil pun begitu, yang harganya seratus jutaan biasanya kecil dan terlihat jelas agak rentan. Tapi yang milyaran begitu longgar dan bongsor. Hal yang tidak dialami dalam dunia sepeda. Mau yang ratusan ribu hingga yang ratusan juta, ukurannya tetap sama, rodanya juga nyaris tak berbeda, tenaganya juga sama: kaki. Hanya kenyamanan dan gengsinya saja yang terasa agak beda. Itu pun tak bisa dilihat secara sekilas.

Akhirnya, jadilah sepeda sebagai kendaraan yang sangat egaliter dan menyamakan semua kelas dalam satu suasana. Tidak ada miskin dan kaya. Tidak ada pejabat dan rakyat biasa. Ketika bersepeda, semuanya terlihat sama: sama berkeringat, sama-sama kaki bergoes dan tangan memegang ujung setang. Panas, sama-sama kepanasan, dan hujan sama-sama kehujanan.

Inilah sepeda. Sebuah fenomena baru yang bukan sekadar kendaraan dan sarana berolah raga. Melainkan, sebuah fenomena baru tentang pencarian obat kesumpekan dan kejenuhan pasca kungkungan wabah corona. (Mh)

 

Dapatkan Informasi Terupdate Terbaru Melalui Saluran CMM Dapatkan Informasi Terupdate Terbaru Melalui Saluran CMM Dapatkan Informasi Terupdate Terbaru Melalui Saluran CMM
Previous Post

Segarkan Siang Hari dengan Es Alpukat Gula Merah

Next Post

13 Strategi Fashion Muslim Memasuki New Normal Versi Desainer Najua Yanti

Next Post

13 Strategi Fashion Muslim Memasuki New Normal Versi Desainer Najua Yanti

Islam dan Gagasan Asing

Kenapa Sulit Memperbaiki Diri

UMKM, Penopang Utama Ekonomi Nasional

  • Resep Telur Dadar Tahu Enak ala Chef Renatta

    Resep Telur Dadar Tahu Enak ala Chef Renatta

    136 shares
    Share 54 Tweet 34
  • Pagelaran Fashion Muslim Modest Wear Ramadan in Style

    548 shares
    Share 219 Tweet 137
  • 124 Nama Sahabiyat untuk Bayi Perempuan

    8527 shares
    Share 3411 Tweet 2132
  • Pengertian Mad Thobi’i, Mad Wajib Muttasil, dan Mad Jaiz Munfasil

    4364 shares
    Share 1746 Tweet 1091
  • Kisah Lengkap Penyembelihan Nabi Ismail

    453 shares
    Share 181 Tweet 113
  • 3 Resep Olahan Daging Sapi Recommended Dicoba

    531 shares
    Share 212 Tweet 133
  • Perhatikan Batas Usia Masuk Sekolah Tahun Ajaran Baru 2025/2026

    116 shares
    Share 46 Tweet 29
  • 15 Tahun Menebar Berkah, Yayasan Bunyaanun Marshush Salurkan Qurban di Gunungsari Bogor

    70 shares
    Share 28 Tweet 18
  • Kedudukan Hewan ketika Mati, Masuk Surga atau Neraka?

    233 shares
    Share 93 Tweet 58
  • Perbedaan Air Mani dan Madzi

    246 shares
    Share 98 Tweet 62
Chanelmuslim.com

© 1997 - 2025 ChanelMuslim - Media Online Pendidikan dan Keluarga

Navigate Site

  • IKLAN
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • REDAKSI
  • LOWONGAN KERJA

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home
  • Jendela Hati
    • Thinking Skills
    • Quotes Mam Fifi
  • Keluarga
    • Suami Istri
    • Parenting
    • Tumbuh Kembang
  • Pranikah
  • Lifestyle
    • Figur
    • Fashion
    • Healthy
    • Kecantikan
    • Masak
    • Resensi
    • Tips
    • Wisata
  • Berita
    • Berita
    • Editorial
    • Fokus +
    • Sekolah
    • JISc News
    • Info
  • Khazanah
    • Khazanah
    • Quran Hadis
    • Nasihat
    • Ustazah
    • Kisah
    • Umroh
  • Konsultasi
    • Hukum
    • Syariah

© 1997 - 2025 ChanelMuslim - Media Online Pendidikan dan Keluarga