ChanelMuslim.com media onlie keluarga, media islam

Jumat, 07 Agustus 2020 | 18 Zulhijjah 1441 H
Login
Register

 


 
 
 
 
EDITORIAL

Trend Sepeda, Trend Kesumpekan

13 July 2020 13:20:26
Anies Baswedan, DKI Jakarta, Covid-19, Sepeda
Ilustrasi, foto: Warta Kota

ChanelMuslim.com- Tidak semua tentang corona bercerita soal krisis. Salah satunya sepeda. Siapa sangka, di tengah anjloknya sektor ekonomi, trend dagangan sepeda justru melonjak. Tiba-tiba, sebagian besar orang kepincut kendaraan asli tenaga kaki ini.

Trend itu mungkin rahasia Tuhan. Tidak disangka, tidak bisa juga dikira-kira. Salah satunya tentang sepeda. Tua, muda, pria wanita, dan anak-anak sekali pun berbondong-bondong beli sepeda. Tak peduli soal harga, yang penting bisa punya sepeda.

Sebenarnya, tidak ada bedanya antara bersepeda sebelum masa wabah ini dengan saat wabah mulai dianggap biasa. Sama-sama digoes, dan sama-sama menggunakan tenaga kaki. Tapi entah kenapa, tiba-tiba orang mengalami hipnotis yang sama: sepeda.

Jadi, wabah yang saat ini dialami Indonesia bukan sekadar corona. Tapi, juga kegandrungan dengan sepeda. Bayangkan, CFD atau hari bebas kendaraan di sejumlah kota besar termasuk DKI Jakarta saja, sudah menggeser penyajiannya dari jalan santai dan joging kepada area khusus  bersepeda.

Sepeda menggantikan keinginan warga berolah raga dari berjalan sehat kepada bergoes sehat. Dari berjalan santai bersama keluarga, menjadi bersepeda santai konvoi keluarga.

Bersepeda seperti memiliki muatan baru yang berbeda dari sebelumnya. Dari yang dianggap sebagai alat transportasi sederhana. Kini, tiba-tiba menjelma menjadi trend transportasi yang tidak biasa. Di mana tidak biasanya?

Saat ini, orang seolah memperlakukan sepeda bukan sekadar alat transportasi. Bukan juga sekadar sarana untuk berolah raga. Melainkan, pemenuhan kepuasan baru dari sumpeknya suasana serba di rumah dan serba dalam ruangan yang sangat menyiksa.

Bersepeda seperti menjelma menjadi fenomena kesumpekan massal, khususnya warga kota, yang selama empat bulan terkurung dalam rumah. Tapi kenapa harus sepeda, bukan mobil atau motor?

Kesumpekan serba di rumah selama empat bulan lebih, bukan sekadar menghasilkan endapan kejenuhan suasana. Ketika ini yang dipahami, sebagian orang sudah mencobanya untuk berpergian ke tempat yang agak berbeda pasca PSBB berakhir. Ada yang ke puncak, pantai, atau sekadar keliling sekecamatan dan kampung.

Namun, yang terpuaskan hanya kesumpekan suasana saja. Ada satu kesumpekan lain yang belum terpuaskan. Yaitu, selama di rumah dan ruangan, potensi energi fisik kurang tersalurkan semestinya. Mau jalan kaki, rasanya sangat melelahkan. Mau lari-lari, rasanya terlalu ekstrim, dari serba diam tiba-tiba melompat ke lari-lari. Dan akhirnya, yang cocok dipilih hati dan rasa adalah bersepeda.

Dengan bersepeda, energi yang dikeluarkan tidak terlalu berat. Tidak juga dinihilkan seperti ketika berada di mobil atau motor yang serba mesin. Tapi, dengan bersepeda, bisa disalurkan potensi energinya yang selama ini mengendap percuma dengan posisi santai dan sekaligus bisa menyejukkan mata.

Menyejukkan mata juga kecenderungan yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Jika dengan mobil dan motor, mata kurang disejukkan secara detil. Pemandangan beralih begitu cepat. Dengan bersepeda, mata bisa menikmati sajian-sajian “alam” di sekitar jalan menjadi lebih detil, kongkrit, utuh, dan bisa memuaskan diri dari kesumpekan dalam kungkungan serba di rumah.

Sepeda juga sebagai wujud kendaraan untuk semua kalangan ekonomi: bawah, menengah, hingga atas. Rentang harganya begitu panjang, dan tidak ada yang sepanjang rentang harga sepeda. Mulai dari ratusan ribu hingga ratusan juta, bahkan milyaran rupiah.

Menariknya, rentang harga ini, nyaris, sedikit pun tak mengubah tampilan luar sepeda. Hal ini berbeda dengan mobil dan motor yang begitu ekstrim soal gradasi tampilan dan rentang harga. Misalnya, motor harga sepuluh jutaan ukurannya kecil dan serba plastik. Sementara, yang harga ratusan juta wujudnya bongsor dan serba hiasan besi mengkilat.

Mobil pun begitu, yang harganya seratus jutaan biasanya kecil dan terlihat jelas agak rentan. Tapi yang milyaran begitu longgar dan bongsor. Hal yang tidak dialami dalam dunia sepeda. Mau yang ratusan ribu hingga yang ratusan juta, ukurannya tetap sama, rodanya juga nyaris tak berbeda, tenaganya juga sama: kaki. Hanya kenyamanan dan gengsinya saja yang terasa agak beda. Itu pun tak bisa dilihat secara sekilas.

Akhirnya, jadilah sepeda sebagai kendaraan yang sangat egaliter dan menyamakan semua kelas dalam satu suasana. Tidak ada miskin dan kaya. Tidak ada pejabat dan rakyat biasa. Ketika bersepeda, semuanya terlihat sama: sama berkeringat, sama-sama kaki bergoes dan tangan memegang ujung setang. Panas, sama-sama kepanasan, dan hujan sama-sama kehujanan.

Inilah sepeda. Sebuah fenomena baru yang bukan sekadar kendaraan dan sarana berolah raga. Melainkan, sebuah fenomena baru tentang pencarian obat kesumpekan dan kejenuhan pasca kungkungan wabah corona. (Mh)

 
Info Video CMM :
 
Bagaimana menurut anda mengenai isi artikel ini?
 
FOKUS
 
 
 
TOPIK :
anies baswedan
dki jakarta
covid-19
sepeda
 
BERITA LAINNYA
 
 
EDITORIAL
03 March 2020 11:25:40

Corona dan Kekerdilan Kita

 
EDITORIAL
21 August 2019 15:59:05

Ceramah UAS dan Penistaan Agama

 
EDITORIAL
19 July 2020 09:08:59

Hak Anak Presiden

 
EDITORIAL
24 April 2020 11:37:17

Heboh Mudik dan Pulang Kampung

 
EDITORIAL
03 June 2020 10:39:19

Menelisik Haji yang Tertunda

Pendaftaran Siswa Baru Jakarta Islamic School
 
 
 
TERBARU
 
 
 
TERPOPULER
 
 
 
 


media online keluarga
media online keluarga

ChanelMuslim.com

Media Inspirasi Keluarga Muslim Indonesia dengan berbagai rubrik terbaik untuk keluarga muslim Indonesia kini tersedia di

media online keluarga

Nikmati kemudahan mendapatkan berbagai berita dan artikel islami disini.

media online keluarga