DALAM sejarah Islam terdapat banyak perempuan yang namanya dikenal karena keberanian dan perannya dalam berbagai peristiwa penting. Sebagian dikenal karena keteguhan iman dan pengorbanannya dalam membela Rasulullah SAW. Namun ada pula tokoh perempuan yang dikenang karena keterlibatannya dalam pergolakan politik dan peperangan pada masa setelah generasi sahabat.
Salah satu nama yang menarik untuk diketahui adalah Gazalah Al-Haruriah atau Ghazalah Al-Haruriyah. Ia dikenal sebagai perempuan pemberani yang hidup pada masa Dinasti Umayyah. Namanya tercatat dalam sejumlah sumber sejarah karena keberaniannya memimpin pasukan dan terlibat dalam perlawanan terhadap pemerintahan yang dipimpin oleh Abdul Malik bin Marwan.
Baca Juga: Telur Rebus, Telur Orak Arik, Telur Dadar yang Mana lebih Sehat?
Siapakah Gazalah Al-Haruriah? Kisah Perempuan Pemberani dalam Sejarah Islam
Sebelum mengenal kisahnya lebih jauh ada hal penting yang perlu diluruskan. Gazalah Al-Haruriah bukan sahabiyah atau sahabat perempuan Rasulullah SAW. Ia merupakan tokoh perempuan dari generasi setelah masa sahabat yang dikenal melalui keterlibatannya dalam kelompok Khawarij. Oleh karena itu kisahnya perlu dipahami secara utuh dengan membedakan keberanian pribadi dan ajaran kelompok yang diikutinya.
1. Mengenal Sosok Gazalah Al-Haruriah
Gazalah Al-Haruriah diketahui berasal dari Mosul yang berada di wilayah Irak. Informasi mengenai kehidupan awalnya sangat terbatas. Bahkan tahun kelahiran dan nama ayahnya tidak diketahui secara pasti.
Dalam Al-A’lam karya Khairuddin Az-Zirikli disebutkan bahwa Gazalah merupakan istri Syabib bin Yazid bin Nu’aim Asy-Syaibani. Suaminya dikenal sebagai pemimpin kelompok Khawarij yang melakukan perlawanan terhadap pemerintahan Umayyah.
Julukan Al-Haruriah berkaitan dengan Harura. Nama tersebut merupakan sebuah tempat di Irak yang memiliki hubungan dengan kemunculan kelompok Khawarij setelah perselisihan politik pada masa Khalifah Ali bin Abi Thalib.
Dengan demikian identitas Gazalah tidak dapat dipisahkan dari perjalanan kelompok yang diikutinya.
2. Dikenal karena Keberanian dan Kemampuan Berperang
Salah satu hal yang membuat nama Gazalah tercatat dalam sejarah adalah keberaniannya di medan pertempuran. Ia tidak hanya mendampingi suaminya tetapi juga terlibat langsung dalam perjuangan kelompoknya.
Sumber-sumber sejarah menggambarkan Gazalah sebagai perempuan yang memiliki kemampuan berkuda dan keberanian luar biasa. Ia bahkan disebut ikut menghadapi pasukan pemerintahan yang dipimpin oleh Al-Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi.
Pada masa itu Al-Hajjaj merupakan gubernur Irak yang dikenal memiliki kekuasaan besar dan tindakan keras terhadap kelompok-kelompok yang menentang pemerintahan Umayyah.
Keberanian Gazalah menjadikannya salah satu tokoh perempuan yang diperhitungkan dalam konflik tersebut.
3. Kisah Ketika Gazalah Memasuki Kota Kufah
Salah satu kisah Gazalah yang paling terkenal berkaitan dengan peristiwa ketika ia bersama Syabib memasuki Kufah. Kota tersebut merupakan salah satu pusat pemerintahan penting di Irak.
Menurut riwayat yang dicatat dalam Muruj Adz-Dzahab karya Al-Mas’udi dan sejumlah kitab sejarah lainnya disebutkan bahwa Gazalah pernah bernazar untuk melaksanakan salat dua rakaat di Masjid Kufah.
Ketika akhirnya berhasil memasuki kota tersebut ia memenuhi nazarnya. Dalam salat pertama ia membaca Surah Al-Baqarah dan pada rakaat kedua membaca Surah Ali Imran.
Kedua surah tersebut termasuk surah terpanjang dalam Al-Qur’an. Kisah ini kemudian menjadi salah satu cerita yang sering dikaitkan dengan keberanian dan ketekunan Gazalah.
Namun peristiwa tersebut berlangsung dalam situasi konflik bersenjata. Karena itu kisahnya tidak sepatutnya dipahami sebagai pembenaran terhadap peperangan atau tindakan kelompok yang diikutinya.
4. Membuat Al-Hajjaj Mendapat Sorotan
Nama Gazalah semakin dikenal karena keterlibatannya dalam perlawanan terhadap Al-Hajjaj. Dalam sejumlah catatan sejarah disebutkan bahwa Al-Hajjaj pernah berlindung di dalam istananya ketika pasukan Gazalah dan Syabib memasuki Kufah.
Peristiwa tersebut kemudian menjadi bahan sindiran dalam syair yang ditulis oleh Imran bin Hiththan. Ia menyindir keberanian Al-Hajjaj yang dianggap berani menghadapi lawan tertentu tetapi menghindar ketika berhadapan dengan Gazalah.
Kisah ini memperlihatkan bagaimana keberanian seorang perempuan dapat menjadi perhatian dalam catatan sejarah yang didominasi kisah para pemimpin dan panglima laki-laki.
5. Akhir Perjalanan Hidup Gazalah
Perjalanan Gazalah tidak berlangsung selamanya. Sejumlah sumber sejarah menyebutkan bahwa ia meninggal sekitar tahun 77 Hijriah atau 696 Masehi.
Ia dikisahkan terbunuh dalam pertempuran di sekitar Kufah ketika konflik antara kelompok Syabib dan pasukan pemerintahan terus berlangsung.
Suaminya Syabib juga mengalami akhir perjalanan yang tragis. Ia kemudian meninggal setelah mengalami kekalahan dalam rangkaian peperangan melawan pasukan pemerintahan Umayyah.
Kisah kehidupan Gazalah menjadi bagian dari sejarah pergolakan politik pada masa tersebut. Meskipun namanya dikenal karena keberanian dan kemampuan berperang tetapi latar belakang kelompok yang diikutinya tetap perlu dipahami secara kritis.
6. Pelajaran Apa yang Bisa Diambil dari Kisah Gazalah?
Kisah Gazalah Al-Haruriah memberikan gambaran bahwa perempuan juga memiliki peran dalam berbagai peristiwa sejarah. Keberanian dan kemampuan seseorang tidak selalu ditentukan oleh jenis kelamin.
Namun keberanian saja tidak cukup untuk menjadi ukuran kebenaran. Seseorang juga perlu memiliki ilmu dan kebijaksanaan agar keberaniannya tidak digunakan untuk tindakan yang merugikan orang lain.
Dari kisah ini kita dapat mengambil pelajaran tentang pentingnya memahami sejarah secara menyeluruh. Jangan mudah mengagumi seseorang hanya karena keberaniannya tanpa mempelajari tujuan dan tindakan yang dilakukannya.
Sebagai seorang muslim kita perlu menjadikan Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah SAW sebagai pedoman dalam menilai suatu perbuatan.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Gazalah Al-Haruriah memang menjadi salah satu perempuan yang namanya tercatat dalam sejarah karena keberaniannya. Namun ia bukan sahabiyah Rasulullah dan bukan pula tokoh yang dapat dijadikan teladan dalam seluruh aspek kehidupannya.
Kisahnya mengingatkan kita bahwa keberanian harus berjalan bersama ilmu dan akhlak. Sebab keberanian yang tidak disertai kebijaksanaan justru dapat membawa seseorang menuju tindakan yang keliru. [DW]





