AGAMA itu mudah dan menyelesaikan masalah kehidupan. Bukan sebaliknya: sulit dan membingungkan.
Di masa-masa awal dakwah Islam di Madinah, para sahabat Nabi yang asli Madinah begitu bersemangat. Mereka merasa tertinggal dengan kaum muhajirin karena lebih terbelakang masuk Islam.
Mereka pun berusaha mengejar ketertinggalan itu. Antara lain dengan begitu bersemangat menghafal Al-Qur’an, dan menjadikan ibadah mereka pada peringkat utama. Termasuk dalam shalat berjamaah.
Salah seorang sahabat utama dari Madinah adalah Muadz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu. Beliau dikenal soleh dan menjadi rujukan di kaumnya, sebuah daerah di pedalaman Kota Madinah.
Bahkan, kaumnya rela menunggu Muadz bin Jabal shalat berjamaah di Masjid Nabawi, untuk kemudian mengimami mereka di kampung tempat tinggal mereka.
Pada sebuah shalat Isya, warga kampungnya sedang mengikuti shalat Isya berjamaah bersama Muadz. Menariknya, pada rakaat pertama, Muadz membaca Surah Al-Baqarah sampai tuntas: 286 ayat.
Ada seorang makmum yang juga seorang petani merasa tak kuat mengikuti shalat bersama Muadz. Ia sudah sangat letih seharian bekerja keras.
Karena tak kuat lanjut, ia pun melakukan mufaraqah atau memisahkan diri dari jamaah untuk seterusnya shalat sendiri di tengah shalat berjamaah itu. Setelah selesai, ia pun pulang meskipun shalat jamaah masih berlangsung.
Setelah tahu ada makmumnya yang mufaraqah, Muadz marah. Bahkan ia menyebut orang itu sebagai munafik.
Makmumnya pun tak terima disebut munafik. Hal itu pun diadukan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Akhirnya Rasulullah menasihati Muadz. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, Apakah engkau ingin membuat lari umat dari Islam?
Muadz pun dinasihati Rasulullah bahwa hal itu bisa menjadi fitnah terhadap agama.
Sejak itu, Muadz bin Jabal mengimami kaumnya dengan surah yang lebih pendek dan ringan.
**
Islam itu rahmatan lil ‘alamin: sebagai ungkapan kasih sayang Allah untuk seluruh umat. Termasuk tentunya umat Islam sendiri.
Masing-masing individu memiliki kapasitas iman dan kesolehannya sendiri. Karena itu, jangan pernah ingin menyamakan kesolehan ‘kelas atas’ kepada kesolehan orang umumnya.
Karena hasilnya bukan menjadi baik. Justru, akan membuat orang lain dengan kapasitas standar akan merasa berat untuk terus bersama didikan orang soleh itu. Selanjutnya, ia mungkin akan lari. Dan hal itulah yang membuat agama menjadi fitnah untuk mereka.
Agama itu mudah, jangan dibuat sulit. Meskipun tak boleh untuk dimudah-mudahkan. Bijaklah untuk selalu membuat umat nyaman bersama Islam. [Mh]





