SEJARAH Islam tidak hanya mencatat kisah para pejuang di medan perang atau tokoh-tokoh yang menyebarkan dakwah. Ada pula perempuan yang namanya dikenal melalui peristiwa penting pada masa awal Islam. Salah satunya adalah Qatilah binti Al-Harits yang dikaitkan dengan keluarga Al-Nadr bin Al-Harits. Kisahnya menarik untuk ditelusuri karena berkaitan dengan Perang Badar dan sebuah syair yang menggambarkan kesedihan seorang perempuan atas kematian ayahnya.
Namun, ada hal yang perlu diluruskan mengenai penyebutan namanya. Dalam sejumlah kitab sejarah dan biografi, tokoh yang dimaksud lebih dikenal sebagai Qatilah binti Al-Nadr bin Al-Harits bin Alqamah bin Kaladah. Ia merupakan perempuan Quraisy dari Bani Abdu Dar. Keterangan mengenai keislamannya juga memiliki perbedaan di antara para ulama sejarah.
Baca Juga: Telur Rebus, Telur Orak Arik, Telur Dadar yang Mana lebih Sehat?
Siapa Qatilah binti Al-Harits? Inilah Kisah Perempuan Quraisy yang Mengabadikan Kesedihan Lewat Syair
Mengenal Qatilah binti Al-Nadr
Qatilah berasal dari keluarga Quraisy yang memiliki kedudukan di Makkah. Ayahnya bernama Al-Nadr bin Al-Harits. Ia dikenal sebagai salah satu tokoh Quraisy yang menentang dakwah Rasulullah SAW.
Dalam catatan sejarah disebutkan bahwa Al-Nadr memiliki pengetahuan tentang kisah-kisah bangsa Persia dan Romawi. Ia kerap menyampaikan cerita tersebut kepada masyarakat Makkah. Tindakan itu juga dikaitkan dengan upayanya mengalihkan perhatian orang-orang dari ajaran Al-Qur’an yang disampaikan Rasulullah SAW.
Ketika kaum Muslimin dan kaum Quraisy berhadapan dalam Perang Badar pada tahun kedua Hijriah, Al-Nadr termasuk orang yang ditawan oleh pasukan Muslim. Setelah pertempuran tersebut ia kemudian dihukum mati berdasarkan keputusan Rasulullah SAW.
Peristiwa inilah yang menjadi bagian penting dari kisah kehidupan Qatilah.
Syair Kesedihan Setelah Ayahnya Wafat
Kematian Al-Nadr meninggalkan kesedihan bagi keluarganya. Qatilah kemudian dikenal melalui syair yang berisi ungkapan duka atas kematian sang ayah.
Dalam riwayat yang dicatat oleh Ibnu Hisyam melalui kisah Perang Badar disebutkan bahwa Qatilah menyampaikan syair yang ditujukan kepada Rasulullah SAW. Ia mengungkapkan kesedihan dan mempertanyakan mengapa ayahnya tidak mendapatkan pengampunan atau pembebasan.
Syair tersebut juga menggambarkan harapannya agar Rasulullah SAW memberikan keringanan kepada ayahnya. Ia mengingatkan hubungan kekerabatan Al-Nadr dengan keluarga Nabi dan menyampaikan bahwa pembebasan seorang tawanan merupakan bentuk kemurahan hati.
Syair itu menjadi salah satu peninggalan sastra Arab yang berkaitan dengan peristiwa Perang Badar. Melalui bait-bait tersebut kita dapat melihat bagaimana peperangan tidak hanya meninggalkan catatan kemenangan dan kekalahan. Peristiwa itu juga membawa kesedihan bagi keluarga yang kehilangan orang-orang tercinta.
Bagaimana Sikap Rasulullah SAW terhadap Syairnya?
Salah satu bagian menarik dari kisah ini adalah riwayat mengenai tanggapan Rasulullah SAW terhadap syair Qatilah.
Dalam riwayat yang dicatat Ibnu Hisyam disebutkan bahwa Rasulullah SAW menyampaikan bahwa apabila syair tersebut sampai kepadanya sebelum Al-Nadr dibunuh maka beliau tidak akan membunuhnya.
Keterangan ini sering dikutip dalam pembahasan sejarah Qatilah. Meski demikian pembaca perlu memahami bahwa kisah tersebut merupakan riwayat sejarah yang perlu ditempatkan sesuai konteksnya. Keputusan mengenai tawanan Perang Badar merupakan bagian dari peristiwa peperangan pada masa itu.
Kisah Qatilah juga memperlihatkan bahwa ungkapan sastra dapat menjadi sumber penting untuk memahami suasana sosial dan emosi masyarakat Arab pada masa awal Islam.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Pelajaran dari Kisah Qatilah
Kisah Qatilah memberikan gambaran tentang kehidupan perempuan pada masa awal Islam. Ia dikenal melalui syair yang merekam kesedihan keluarganya setelah Perang Badar.
Dari kisah ini kita dapat belajar bahwa sejarah tidak hanya dibangun dari catatan para pemimpin dan pejuang. Ungkapan seorang perempuan pun dapat menjadi bagian penting dalam merekam peristiwa besar.
Kisahnya juga mengingatkan bahwa setiap peristiwa sejarah perlu dipahami secara utuh. Kita perlu membedakan antara riwayat yang kuat dan keterangan yang masih diperdebatkan agar tidak keliru dalam menyampaikan sejarah Islam. [DW]





