PERNAHKAH kamu berdiri berdampingan dalam satu saf yang begitu rapat ketika menunaikan shalat berjamaah di masjid, namun sama sekali tidak mengenal siapa orang di sebelahmu? Kita kerap kali mengabaikan senyum, enggan menyapa, atau bahkan tidak mengetahui nama saudara seiman yang setiap hari sujud di tempat yang sama. Fenomena ini menjadi potret realitas masyarakat modern: hadir bersama secara fisik di dalam masjid, namun secara sosial dan emosional terasa amat berjauhan dan saling asing.
Padahal, masjid sejak zaman Rasulullah SAW diciptakan bukan sekadar sebagai bangunan tempat sujud dan menunaikan ritual ibadah individu semata. Lebih dari itu, masjid adalah pusat peradaban, jantung komunitas, serta tempat utama untuk mempererat tali persaudaraan (ukhuwah) antar-sesama Muslim.
Baca Juga: Hukum Mengganggu Teman yang Sedang Shalat untuk “Tes Iman”
Sering Satu Saf, Tapi Masih Saling Asing? Ini Pentingnya Merawat Ukhuwah Islamiyah di Masjid
Makna Hakiki Persaudaraan dalam Al-Qur’an
Keharusan untuk merawat persaudaraan sesama mukmin ditegaskan secara langsung oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an. Allah berfirman:
اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَ اَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah kedua saudaramu (yang bertikai) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu dirahmati.” (QS. Al-Ḥujurāt [49]: 10)
Ayat ini menggarisbawahi bahwa ikatan keimanan secara otomatis melahirkan ikatan persaudaraan yang sejati. Persaudaraan ini bukanlah formalitas di atas kertas atau sekadar wacana belaka, melainkan harus diwujudkan dalam ikhtiar nyata untuk menjaga kedamaian, saling mengasihi, serta saling memperkuat satu sama lain demi meraih rahmat Allah SWT.
Menterjemahkan Saf Shalat ke Dalam Kehidupan Sehari-hari
Rapat dan lurusnya saf saat shalat berjamaah adalah simbol dari kesatuan hati dan barisan kaum Muslimin. Namun, keterikatan dan kepedulian tersebut hendaknya tidak berhenti begitu imam menguapkan salam penutup. Nilai-nilai kebersamaan di dalam saf shalat harus tercermin secara nyata dalam interaksi sosial sehari-hari.
Ada banyak bentuk kepedulian sederhana yang perlu kita rawat di lingkungan masjid:
Saling Mengingat dan Mengenal: Mulailah memecah keasingan dengan saling bertegur sapa dan berkenalan dengan jamaah di sebelah kita setelah usai berzikir.
Menanyakan Kabar Jamaah yang Absen: Ketika ada jamaah yang biasa hadir di masjid namun mendadak lama tidak terlihat di dalam saf, luangkan waktu untuk menanyakan kabarnya.
Menjenguk dan Membantu: Apabila mendengar ada saudara sesama jamaah yang sedang terbaring sakit atau mengalami kesulitan ekonomi, hadirkan kepedulian untuk menjenguk serta mengulurkan bantuan.
Melapangkan Hati untuk Meminta Maaf: Senantiasa merendahkan hati untuk meminta maaf dan memaafkan jika terjadi kekhilafan dalam berinteraksi sesama warga masjid.
Sangat disayangkan apabila seorang Muslim begitu rajin dan disiplin melangkahkan kaki ke masjid untuk shalat berjamaah, namun hatinya tertutup rapat dan acuh tak acuh terhadap kondisi saudara-saudara seimannya di sekitar.
Menjadikan Masjid sebagai Pusat Kepedulian Sosial
Untuk mewujudkan iklim persaudaraan yang hangat, mari kita kembalikan fungsi masjid sebagai tempat yang ramah dan inklusif. Merawat keakraban antar-jamaah akan melahirkan kekuatan sosial yang dahsyat. Dari rasa peduli yang tumbuh di dalam masjid, akan lahir gerakan gotong royong, saling menopang ekonomi warga yang membutuhkan, hingga rasa aman di lingkungan masyarakat.
Gerakan besar ini tidak perlu menunggu langkah yang rumit. Semuanya dapat dimulai dari tindakan paling sederhana:
Senyum dan sapa jamaah di sebelah kamu saat selesai shalat.
Tanyakan kabar dan nama mereka dengan penuh keikhlasan.
Hadirkan rasa empati serta kepedulian dalam kehidupan sehari-hari.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Shalat berjamaah yang berkualitas adalah shalat yang tidak hanya membuahkan hubungan yang baik dengan Allah (hablum minallah), tetapi juga melahirkan akhlak yang mulia serta persaudaraan yang erat dengan sesama manusia (hablum minannas). Mari jadikan masjid sebagai rumah kedua yang penuh dengan kehangatan ukhuwah, sehingga tidak ada lagi kisah dua orang yang sering berdiri satu saf namun tetap saling asing. [DW]
Sumber: Ustadz Khalid Basalamah




