DALAM interaksi sehari-hari dengan kawan dekat, batasan antara candaan yang menghibur dan tindakan yang melanggar norma sering kali menjadi kabur. Salah satu bentuk kelakar yang kerap dijumpai di lingkungan sekolah, pesantren, tempat kerja, hingga lingkup pertemanan rumah adalah sengaja menguji atau mengganggu teman yang sedang menunaikan ibadah shalat.
Beberapa orang dengan sengaja berbisik, memanggil nama, memindahkan sajadah, hingga memicu tawa sahabatnya yang sedang berdiri menghadap Sang Khalik dengan dalih ingin “mencoba seberapa khusyuk shalatnya” atau “mengetest seberapa kuat imannya.”
Meski dibungkus dengan alasan iseng, humor ringan, atau gurauan tanpa niat jahat, tindakan semacam ini sama sekali tidak dapat dibenarkan dalam ajaran Islam. Ibadah shalat adalah momen paling sakral bagi seorang hamba untuk berkomunikasi secara langsung dengan Allah, sehingga menghadirkannya sebagai bahan permainan merupakan perbuatan yang mencederai keagungan syariat.
Baca Juga: Siapakah Umayyah bin Khalaf yang Akhir Hayatnya Menjadi Peringatan Keras Bagi Manusia?
Hukum Mengganggu Teman yang Sedang Shalat untuk “Tes Iman”
Menghormati Kekhusyukan dan Hak Seorang Hamba
Shalat bukan sekadar gerakan fisik rutin, melainkan sarana pengabdian mutlak yang membutuhkan konsentrasi, kekhusyukan, dan kedamaian jiwa. Ketika seseorang sedang berdiri di hadapan Allah, ia sedang memutuskan hubungan sementara dari hiruk-pikuk dunia untuk memusatkan perhatian penuh kepada Sang Pencipta. Mengganggu seseorang yang berada dalam kondisi ini berarti merampas hak spiritualnya untuk beribadah dengan tenang.
Allah mengingatkan dengan tegas dalam Al-Qur’an mengenai larangan menyakiti atau mengganggu kenyamanan sesama mukmin tanpa alasan yang dibenarkan:
وَالَّذِيْنَ يُؤْذُوْنَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنٰتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوْا فَقَدِ احْتَمَلُوْا بُهْتَانًا وَّاِثْمًا مُّبِيْنًا
“Dan orang-orang yang menyakiti mukminin dan mukminat, tanpa ada kesalahan yang mereka perbuat, sungguh, mereka telah menanggung kebohongan dan dosa yang nyata.” (QS. Al-Aḥzāb [33]: 58).
Ayat ini memperingatkan kita bahwa tindakan yang mengganggu, mengusik, atau menimbulkan ketidaknyamanan pada seorang mukmin apalagi saat ia sedang beribadah merupakan bentuk perbuatan yang memikul dosa nyata di sisi Allah.
Manusia Tidak Berhak Menilai dan Menguji Iman Orang Lain
Salah satu kekeliruan fatal dari perilaku “mengetes iman” teman adalah prasangka bahwa kita memiliki hak untuk menguji atau menilai kadar keimanan seseorang. Keimanan dan isi hati manusia adalah rahasia gaib yang hanya diketahui oleh Allah. Tidak ada satu pun manusia yang diberi wewenang untuk menjadi hakim atas kekhusyukan atau tingkat ketakwaan orang lain.
Tugas seorang muslim terhadap saudaranya adalah saling menjaga, menghormati, dan memberikan perlindungan agar ia dapat menjalankan kewajiban agamanya dengan sempurna. Jika seseorang tergoda untuk menguji kekhusyukan temannya, sejatinya ia sedang terjebak dalam rasa ujub (merasa diri lebih baik) atau bentuk ketidakfahaman terhadap adab-adab bergaul dalam Islam. Rasulullah mendidik umatnya untuk menilai seseorang dari perbuatan lahiriah yang tampak baik dan mendoakan kebaikan bagi hatinya, bukan dengan mencari-cari celah atau mengujinya lewat tipu daya.
Adab Mengingatkan dan Saling Membantu dalam Kebaikan
Islam adalah agama yang mengedepankan kelembutan dan saling menghargai. Apabila kita melihat kawan atau saudara kita melakukan kesalahan dalam shalatnya misalnya gerakan yang kurang sempurna atau bacaan yang kurang tepat syariat tidak pernah mengajarkan untuk mempermainkannya.
Tugas kita sebagai kawan yang baik adalah:
Menjaga ketenangan di sekitarnya: Tidak bersuara keras, berteriak, atau lalu-lalang di depan orang yang sedang shalat.
Menunggu hingga selesai: Bersabar hingga teman kita menuntaskan salamnya.
Mengingatkan dengan lemah lembut: Menyampaikan masukan atau perbaikan secara pribadi (sirr) tanpa mempermalukannya di depan orang banyak.
Mengganti tindakan mengganggu dengan sikap menghormati ibadah sesama akan melahirkan iklim pertemanan yang sehat, penuh berkah, dan saling mendukung dalam ketaatan.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Jagalah Lisan dan Sikap terhadap Ibadah
Keagungan ibadah shalat harus senantiasa dihormati oleh setiap muslim. Jangan sampai gurauan yang dianggap sepele justru membuahkan dosa karena mencederai kekhusyukan saudara sendiri dan melanggar adab-adab syariat.
Marilah kita jaga lisan, tangan, dan perbuatan kita dari mengusik ketenangan orang lain yang sedang menghadap Allah. Semoga Allah senantiasa mengaruniai kita kepekaan hati untuk saling menghormati dalam kebaikan, serta membimbing kita menjadi pribadi yang senantiasa menjaga keagungan ibadah. Allāhu Ta‘ālā a‘lam bishawāb. [DW]
Sumber: Ustadz Khalid Basalamah




