PERSAUDARAAN Muslimah (Salimah) menyampaikan keprihatinan mendalam atas bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda wilayah Kalimantan dan sekitarnya.
Ketua Umum Salimah, Reni Anggrayni, menegaskan bahwa karhutla bukan hanya sekadar bencana ekologis, melainkan ancaman serius dan nyata terhadap hak dasar untuk hidup sehat bagi seluruh masyarakat.
Dalam pernyataan sikap resminya, Salimah menyoroti bahwa asap pekat hasil karhutla mengandung racun berbahaya seperti partikel debu halus PM2.5, Karbon Monoksida, Sulfur Dioksida, dan Nitrogen Dioksida yang secara langsung merusak sistem pernapasan dan kesehatan tubuh manusia.
“Dampak ini menjadi jauh lebih berbahaya bagi kelompok rentan seperti ibu hamil, ibu menyusui, anak-anak, dan lansia yang menjadi fokus perhatian Salimah selama ini. Selain mengancam manusia, kebakaran ini juga telah merusak ekosistem dan mengancam keberlangsungan hidup satwa-satwa di dalamnya,” ungkap Reni.
Dari tinjauan kesehatan, paparan asap karhutla dapat memicu berbagai gangguan kesehatan yang serius. Mulai dari Infeksi Saluran Pernapasan Akut atau ISPA, perburukan penyakit pernapasan kronis seperti asma dan Penyakit Paru Obstruksi Kronis, hingga iritasi dan peradangan pada mata dan kulit.
Dalam jangka panjang, paparan yang terus-menerus juga dapat menurunkan daya tahan tubuh, menurunkan fungsi organ tubuh, bahkan meningkatkan risiko kanker paru. Salimah menilai bahwa buruknya dampak asap karhutla pada kesehatan ini akan sangat berpengaruh pada kualitas kesehatan anak bangsa, apalagi di saat Indonesia sedang bersiap menuju 100 tahun Indonesia Emas pada tahun 2045.
Menyikapi kondisi tersebut, Salimah mengutuk keras segala aktivitas yang dapat menimbulkan kebakaran hutan dan lahan, serta mendesak pemerintah untuk segera melakukan segala daya upaya penanganan untuk memadamkan api karhutla yang masih berlangsung. Penanganan yang cepat dan komprehensif dinilai menjadi kunci untuk mencegah jatuhnya korban yang lebih banyak.
Lebih lanjut, Salimah juga mendorong pemerintah untuk fokus pada upaya penyelamatan, perlindungan, dan pengobatan bagi masyarakat serta ekosistem yang sudah terdampak. Hal ini dapat dilakukan dengan menambah kelengkapan peralatan medis di rumah sakit dan menambah bantuan tabung oksigen di wilayah terdampak.
“Salimah meminta pemerintah untuk melakukan investigasi menyeluruh dan mengadili dengan seadil-adilnya apabila ditemukan pihak-pihak yang harus bertanggung jawab atas terjadinya karhutla ini,” tegas Reni.
Menurutnya, penanganan karhutla ini sifatnya sangat mendesak. Lambat dan buruknya penanganan asap karhutla tidak hanya membahayakan nyawa rakyat, tetapi juga akan berdampak pada reputasi pemerintah di mata internasional, khususnya di antara negara-negara tetangga yang turut merasakan dampak kabut asap.
Untuk itu, Salimah menghimbau pemerintah agar melakukan pengawasan yang lebih intensif terhadap keamanan hutan dan lahan agar kejadian serupa tidak terus berulang setiap tahun.
Di akhir pernyataannya, Salimah juga mengimbau seluruh masyarakat yang terdampak karhutla untuk melakukan langkah-langkah antisipasi demi menjaga kesehatan. Di antaranya, menggunakan masker standar bila harus keluar rumah, membatasi aktivitas di luar ruangan, serta melakukan perlindungan di dalam rumah dengan menutup rapat pintu dan jendela agar asap tidak masuk.
Selain itu, masyarakat juga diminta untuk menerapkan pola hidup sehat dengan banyak minum air putih dan mengonsumsi makanan tinggi antioksidan seperti sayur dan buah untuk membantu meningkatkan daya tahan tubuh. Dan yang terpenting, segera memeriksakan diri ke dokter apabila mengalami gejala gangguan kesehatan seperti sesak napas, batuk berkepanjangan, dan penurunan kesehatan lainnya agar dapat segera mendapatkan penanganan medis.
Pernyataan sikap ini dikeluarkan di Jakarta pada 23 Oktober 2026 sebagai bentuk komitmen Salimah dalam membela hak hidup sehat bagi perempuan, anak, dan keluarga Indonesia. [Mh/Salimah]


