BERSYUKUR merupakan salah satu bentuk keimanan yang perlu terus kita latih dalam kehidupan sehari-hari. Namun, terkadang kita terlalu sibuk memperhatikan apa yang belum dimiliki hingga lupa menikmati berbagai nikmat yang sudah Allah berikan. Kita melihat kehidupan orang lain yang tampak lebih bahagia, memiliki harta berlimpah, pekerjaan bagus, atau keluarga yang harmonis. Tanpa disadari, kebiasaan membandingkan diri justru membuat hati merasa kurang dan sulit merasakan kebahagiaan.
Allah SWT telah mengingatkan manusia tentang pentingnya bersyukur melalui firman-Nya dalam Al-Qur’an surah Ibrahim ayat 7. Allah berfirman bahwa apabila manusia bersyukur, Dia akan menambah nikmat kepadanya. Sebaliknya, orang yang mengingkari nikmat harus mengingat bahwa azab Allah sangat pedih.
Baca Juga: Menentukan Waktu Terbaik untuk Menghafal Al-Qur’an di Tengah Kesibukan
Belajar Bersyukur agar Hati Lebih Tenang dan Bahagia
Ayat tersebut bukan sekadar bacaan yang sering kita dengar dalam ceramah agama. Lebih dari itu, terdapat pesan mendalam yang perlu diterapkan dalam kehidupan. Bersyukur bukan hanya mengucapkan alhamdulillah ketika mendapatkan sesuatu yang menyenangkan, melainkan juga menyadari bahwa setiap nikmat merupakan pemberian Allah yang patut dijaga dan dimanfaatkan dengan baik.
Sayangnya, manusia sering kali terjebak dalam kebiasaan mengukur kebahagiaan berdasarkan pencapaian orang lain. Kita membandingkan penghasilan dengan teman, rumah dengan tetangga, bahkan perjalanan hidup dengan orang yang hanya kita kenal melalui media sosial. Padahal, apa yang terlihat di hadapan kita belum tentu menggambarkan keseluruhan kehidupan seseorang.
Ketika terlalu sering melihat ke atas, kita mudah merasa tertinggal. Nikmat yang sebelumnya terasa cukup mendadak terlihat biasa saja. Akibatnya, hati dipenuhi rasa iri, kecewa, dan keinginan untuk terus mengejar sesuatu tanpa pernah merasa puas.
Rasulullah SAW memberikan nasihat agar umatnya melihat orang yang berada di bawah dalam urusan dunia dan tidak selalu memperhatikan orang yang berada di atasnya. Hadis riwayat Muslim ini mengajarkan kita untuk menjaga perspektif agar tidak meremehkan nikmat Allah.
Melihat orang yang memiliki keterbatasan bukan berarti merendahkan mereka. Sebaliknya, hal tersebut dapat menjadi pengingat bahwa masih banyak karunia yang patut disyukuri, seperti kesehatan, kesempatan beribadah, keluarga, makanan, dan waktu untuk memperbaiki diri.
Membiasakan diri bersyukur bisa dimulai dari hal sederhana. Luangkan waktu untuk mengingat kebaikan yang diterima setiap hari, mengucapkan terima kasih kepada orang lain, serta menggunakan nikmat untuk melakukan kebaikan. Ketika menghadapi kesulitan, kita juga dapat belajar bersabar sambil terus berikhtiar dan berdoa.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Pada akhirnya, kebahagiaan tidak selalu ditentukan oleh banyaknya harta atau tingginya pencapaian. Hati yang mampu menerima, menghargai, dan mensyukuri pemberian Allah akan lebih mudah menemukan ketenangan. Jangan sampai kesibukan mengejar nikmat yang belum dimiliki membuat kita lupa mensyukuri nikmat yang selama ini menemani kehidupan. [DW]
Sumber: Ustadz Muhammad Assad





