MEMASUKI usia senja, sering muncul berbagai keluhan fisik, mulai dari lutut yang terasa nyeri saat menaiki tangga hingga tubuh yang makin lekas lelah. Namun, benarkah nyeri sendi dan pengeroposan tulang semata-mata adalah konsekuensi tak terelakkan dari bertambahnya usia?
Dokter Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi RSUD dr. Iskak Tulungagung, dr. Wahyu Sita Wardani, M.Ked.Klin, Sp.KFR, meluruskan anggapan tersebut dalam acara Sekolah Lansia Salimah (Salsa) Angkatan V yang digelar Persaudaraan Muslimah (Salimah) Tulungagung di SIMA Lab Tulungagung pada Ahad (18/10) pagi.
Dalam paparan bertema “Menua dengan Bahagia, Tetap Bugar dan Berdaya di Usia Senja”, dr. Sita menegaskan bahwa gaya hidup dan tingkat aktivitas fisik memegang peranan penting dalam menentukan bagaimana tubuh seseorang menua.
Usia bertambah itu pasti, tetapi mengalami nyeri lutut dan kehilangan kemampuan bergerak bukan hal yang mutlak. Penurunan massa otot maupun kepadatan tulang bisa dicegah dan dikelola jika kita memahami mekanisme tubuh serta konsisten menjaga integritas otot dan sendi.
Dr. Sita menjelaskan bahwa kerap kali masyarakat awam tertukar dalam memahami gangguan kesehatan tulang dan sendi yang menimpa lansia. Menurutnya, ada tiga kondisi utama yang kerap tertukar, padahal berbeda, yaitu:
1. Osteoporosis atau Pengeroposan Tulang: Kondisi saat tulang menjadi rapuh dan keropos akibat penurunan kepadatan serta kekuatan tulang, yang secara drastis meningkatkan risiko patah tulang.
2. Pengapuran Sendi: Proses perubahan struktural alami pada sendi seiring bertambahnya usia. Misalnya, bantalan semakin menipis.
3. Osteoarthritis atau Radang Sendi: Kondisi peradangan pada sendi yang muncul akibat penipisan atau kerusakan tulang rawan (kartilago) yang melapisi sendi.
Menghadapi masalah osteoarthitis, dr. Sita berpesan agar lansia beraktivitas sesuai usia. “Jangan sampai aktivitas kita itu membuat yang sudah aus menjadi bermasalah. Untuk itu, kita sehendaknya beraktivitas sesuai usia, karena kadang kita merasa seperti muda terus. Jangan semua pekerjaan ditangani sendiri. Delegasikan pekerjaan kepada yang lebih muda,” imbau dokter yang mengambil spesialisasi kedokteran fisik dan rehabilitasi di Universitas Airlangga dan lulus pada tahun 2019 ini.
Pada lansia, keluhan yang sering menganggu aktivitas sehari-hari adalah nyeri lutut, nyeri pinggang, leher, tangan, siku, kesemutan, baal, gampang capek, dan kehilangan keseimbangan. “Jangan sampai jatuh, jika berdiri sendiri tidak cukup, tidak apa menggunakan alat bantu. Alat bantu bukan sebuah kesakitan, alat bantu itu tongkat ya Bapak Ibu, baik tongkat berkaki dua, tiga atau empat. Kalau perlu dipakai, jangan sampai memaksakan diri.”
Bagi perempuan, tantangan ini semakin nyata saat memasuki fase menopause. Perubahan hormonal pasca-menopause memicu penurunan kesehatan tulang dengan risiko osteoporosis naik, penurunan massa otot, serta akumulasi lemak tubuh terutama di area perut. Perubahan hormonal juga mempengaruhi tidur dan energi.
“Gangguan tidur membuat kualitas hidup menurun, mengurangi imunitas dan sel-sel tidak bisa teregenerasi dengan baik. Gangguan ini harus ditangani baik dengan konseling maupun medis sehingga memperbaiki kesehatan pada umumnya,” jelas ibu empat anak ini.
dr. Sita juga berpesan untuk merawat otot. “Jangan lupa merawat otot, otot adalah investasi. Jangan lupa melatihnya, seperti tadi dengan senam. Itu yang akan mempertahankan semua hal yang ada di badan Ibu. Kekuatannya, kemandiriannya, sendi tidak terlalu panas, keseimbangan baik, dan kemampuan bergerak dipertahankan. Jika ototnya baik, maka gula darah, kolesterol, dan lain-lain akan teregulasi dengan baik,” terangnya.
Dalam kesempatan itu, dr Sita mengajak peserta untuk melakukan latihan kekuatan otot seperti: duduk dan berdiri dari kursi, push-up dengan dinding, jongkok ringan dengan posisi aman, dan berdiri jinjit dengan tumpuan. “Jarem atau nyeri setelah latihan tidak masalah. Tahan dulu satu hari atau diminumi obat-obat yang aman, atau dikompres atau istirahat sehari.”
Selanjutnya, dia juga mengajak untuk latihan aerobik untuk membantu jantung, paru dan tubuh lebih bugar. “Jalan kaki, bersepeda atau sepeda statis, atau jalan sambil duduk jika lutut sedang sakit. Selain itu, ada olahraga dalam air. Karena secara ilmiah beban sendi tidak terlalu besar, beban berkurang 40%. Arus air juga baik untuk menyembuhkan penyakit otot atau sendi.”
Selain melatih otot dan latihan aerobik, dr. Sita juga mengingatkan lansia untuk menjaga nutrisi karena otot dan tulang juga butuh bahan bakar. Nutrisi meliputi protein nabati dan hewani, sayur dan buah, air putih, serta kalsium dan vitamin D. [Mh/fat, Salimah]


