USIA senja memunculkan kelemahan, ringkih, dan pikun. Lawan keadaan itu. Tetap semangat dengan ruhul jihad yang tetap prima.
Ada seorang sahabiyah Rasulullah yang begitu istimewa. Ia adalah salah seorang putri Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu dari istri Qutailah binti Harb. Yaitu, Asma binti Abu Bakar radhiyallahu ‘anha.
Ia tergolong sahabiyah senior. Ia dan suaminya, Zubair bin Awwam radhiyallahu ‘anhu, merupakan pasangan senior yang telah berjuang bersama Nabi sejak di awal dakwah di Mekah.
Dialah sahabiyah yang berada di balik layar peristiwa hijrahnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersama ayahnya: Abu Bakar Ash-Shiddiq. Padahal saat itu ia tengah hamil tua. Anak pertama pula.
Putranya pun akhirnya tercatat dalam sejarah sebagai anak muhajirin pertama yang lahir di Madinah. Nama putranya begitu fenomenal: Abdullah bin Zubair radhiyallahu ‘anhu.
Asma banyak belajar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam banyak hal. Termasuk ilmu pengobatan ruqyah. Ia pun banyak belajar dalam ilmu-ilmu yang lain.
Murid-muridnya yang begitu terkenal antara lain Abdullah bin Zubair, Urwah bin Zubair yang keduanya merupakan putranya sendiri. Juga, Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu. Ketiganya menjadi murid ketika di usia anak-anak.
Ketika di usia senja: sekitar usia 100 tahun, keadaan fisiknya tidak seperti di kala muda dulu. Saat itu, ‘panggilan’ jihadnya tidak mengendur, justru kian menggelora. Dan ia pun menyambutnya dengan tetap semangat.
Meski di usia itu, penglihatannya sudah hilang atau buta, suaranya masih mampu menggetarkan banyak orang. Ia pernah menasihati putranya yang saat itu sedang berjihad melawan penguasa zalim: Hajaj bin Yusuf.
Asma mengatakan kepada Abdullah bin Zubair, “Hiduplah dalam keadaan mulia. Dan matilah juga dalam keadaan mulia. Jangan pernah menjadi tawanan.”
Ketika Hajaj bin Yusuf berhasil membunuh Abdullah bin Zubair dalam peperangan yang tidak seimbang, Asma sendiri yang memandikan jenazahnya.
Ketika itu, Hajaj datang memastikan kematian musuhnya itu. Ketika mengetahui kedatangan Hajaj, Asma mengatakan dengan lantang, “Engkau memang berhasil menghancurkan dunianya. Tapi, dia juga berhasil menghancurkan akhiratmu!”
Mendengar itu, Hajaj bin Yusuf meninggalkan rumah duka itu bersama para pengawal dan tentaranya.
Asma binti Abu Bakar wafat di usia 100 tahun, atau 10 hari setelah kematian Abdullah bin Zubair. Ia dimakamkan di Madinah.
Ada 58 hadis yang ia riwayatkan. Sebanyak 13 hadis dicatat dan disepakati kesahihannya oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim. Sementara, ada 5 hadis yang hanya diriwayatkan oleh Imam Bukhari saja, dan ada 4 hadis yang hanya diriwayatkan oleh Imam Muslim.
**
Fisik boleh renta dan lemah ketika seseorang memasuki usia senja. Tapi ruhul jihad atau semangat jihad harus tetap bersemangat dan menggelora, berapa pun usianya.
Api semangat itu diraih dari kedalaman iman kepada Allah subhanahu wata’ala, kecintaan yang sempurna kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam, dan keluasan pemahaman tentang Islam. [Mh]



