SERING kali kita begitu bersemangat mengumpulkan pahala melalui berbagai ibadah. Kita berusaha menjaga sholat, memperbanyak membaca Al-Qur’an, bersedekah, berzikir, dan melakukan berbagai amalan kebaikan lainnya. Namun, di tengah kesibukan memperbaiki hubungan dengan Allah, terkadang kita lupa menjaga hubungan dengan sesama manusia, terutama melalui lisan.
Padahal, ucapan yang keluar dari mulut kita bisa menjadi sumber kebaikan, tetapi juga dapat mendatangkan dosa. Tanpa disadari, kita mungkin pernah membicarakan keburukan orang lain, menyebarkan kabar yang belum tentu benar, atau membuka aib seseorang hanya karena ingin menjadi bahan pembicaraan. Kita menganggapnya sebagai obrolan biasa, padahal di sisi Allah, setiap perkataan memiliki konsekuensi.
Baca Juga: 7 Hal Penting yang Perlu Disiapkan Sebelum Medical Check Up agar Hasil Lebih Akurat
Jangan Sampai Pahala Habis karena Tidak Menjaga Lisan
Rasulullah pernah menjelaskan tentang orang yang bangkrut pada hari kiamat. Dalam hadis riwayat Muslim, beliau menyampaikan bahwa orang yang bangkrut adalah orang yang datang membawa pahala sholat, puasa, dan zakat, tetapi selama hidupnya pernah mencela, menuduh, memakan harta, menumpahkan darah, atau memukul orang lain. Akibat perbuatannya, pahala kebaikannya diberikan kepada orang-orang yang pernah dizaliminya. Jika pahalanya habis sebelum seluruh tanggungannya selesai, dosa orang-orang tersebut akan dibebankan kepadanya.
Hadis ini menjadi pengingat yang sangat penting bagi kita. Betapa meruginya seseorang yang telah bersusah payah beribadah, tetapi kehilangan pahala karena tidak mampu menjaga perilakunya terhadap orang lain.
Ghibah, fitnah, dan kebiasaan membuka aib bukanlah perkara sepele. Ghibah dapat merusak kehormatan seseorang, sedangkan fitnah bisa menimbulkan kesalahpahaman, permusuhan, bahkan menghancurkan hubungan yang telah terjalin lama. Satu kalimat yang kita ucapkan mungkin terasa ringan, tetapi dampaknya bisa membekas dalam hati orang lain selama bertahun-tahun.
Karena itu, sebelum berbicara, ada baiknya kita membiasakan diri untuk berpikir sejenak. Apakah perkataan ini benar? Apakah bermanfaat? Apakah perlu disampaikan? Jika tidak membawa kebaikan, bukankah diam jauh lebih baik?
Menjaga lisan memang tidak selalu mudah. Terkadang kita terbawa suasana, emosi, atau lingkungan pergaulan. Namun, kita selalu memiliki kesempatan untuk belajar mengendalikan diri dan memperbaiki kesalahan.
Mari kita perbanyak amal saleh sekaligus menjaga lisan dan perilaku. Jika pernah menyakiti orang lain, berusahalah untuk bertobat, memperbaiki keadaan, dan meminta maaf dengan cara yang tepat.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Jangan sampai kita sibuk mengumpulkan pahala sepanjang hidup, tetapi justru kehilangan bekal berharga itu karena menyakiti sesama manusia. Sebab, kelak di akhirat, setiap kebaikan begitu berarti dan kita tentu tidak ingin menjadi orang yang kehabisan pahala ketika paling membutuhkannya. [DW]
SumberL Ustadzah Aisyah Farid





