ILMU dan guru seperti satu paket yang tidak bisa dipisahkan. Mencintai keduanya akan menjadi bahan bakar keberkahan ilmu.
Pada tahun 260 hijriah, lahir seorang ulama di sebuah daerah di Yaman. Nama ulama itu Abul Qasim Sulaiman bin Ahmad Ath-Thabrani. Beliau biasa disebut Ath-Thabrani rahimahullah.
Pada usia 13 tahun, Imam Ath-Thabrani sudah memulai safarnya berguru tentang ilmu-ilmu Islam, khususnya riwayat hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Saat itu ia melakukan safar ke Quds atau Palestina. Ia pergi bersama ayahnya.
Dari situ, Imam Thabrani berkeliling lagi ke hampir seluruh dunia Islam: Suriah, Mesir, Irak, Hijaz (Mekah dan Madinah), dan akhirnya ke sebuah wilayah di Iran saat ini: Isfahan. Ia terakhir tiba di Isfahan pada usia 50 tahun dan akhirnya menetap di situ hingga akhir hayat.
Gubernur Isfahan waktu itu begitu senang dengan kedatangan Imam Ath-Thabrani. Sang Gubernur memfasilitasi segala yang diperlukan Ath-Thabrani agar ilmu sang Imam bisa menjadi ‘cahaya’ umat di wilayahnya.
Selama 30 tahun lebih melakukan safar ilmu mengelilingi banyak negara, dilakukan Ath-Thabrani dengan berjalan kaki. Selama itu pula, lebih dari seribu guru yang ia timba ilmunya.
Hasilnya? Berkat kerja kerasnya dan didorong kecintaan beliau dengan ilmu dan para guru, ia menyusun kitab hadis. Kitab hadis itu terdiri dari tiga bagian: Mu’jam Al-Kabir (60 ribu hadis), Mu’jam Al-Ausath (30 ribu hadis), dan Mu’jam As-Shagir.
Menariknya, beliau menyusun kitab hadisnya itu dalam bentuk enslikopedia. Yang pertama berdasarkan abjad nama para sahabat Nabi perawi hadis, dan kedua berdasarkan abjad nama para guru beliau di mana beliau mendapatkan periwayatan hadis.
Kerja keras beliau didorong oleh rasa cinta. Yaitu, cinta kepada ilmu yang harus disebarkan kepada orang banyak, dan cinta kepada guru-guru beliau.
**
Sejarah Islam begitu kaya dengan orang-orang berilmu yang soleh. Mereka begitu tulus mengejar ilmu, dan tulus pula menyebarkannya ke orang banyak. Tanpa pamrih apa pun.
Teruslah isi hidup ini untuk memburu ilmu. Di sisi yang sama, hormati dan cintai pula para guru. Karena di situlah adanya keberkahan ilmu. [Mh]



