SAHLAH binti Suhail bin Amr al-Qurasyiyah al-Amiriyah merupakan salah seorang perempuan yang lebih dahulu memeluk Islam. Ia menikah dengan Abu Hudzaifah bin Utbah bin Rabi’ah. Ketika tekanan kaum Quraisy terhadap orang-orang yang beriman semakin berat, Sahlah bersama suaminya memilih meninggalkan Makkah dan berhijrah ke Habasyah. Ia termasuk perempuan yang ikut dalam hijrah awal kaum Muslimin untuk menyelamatkan agama mereka.
Hijrah pada masa itu tentu bukan perjalanan yang mudah. Mereka meninggalkan tanah kelahiran dan kehidupan yang sudah dikenal demi mempertahankan iman. Di Habasyah, Sahlah kemudian melahirkan seorang anak laki-laki dari Abu Hudzaifah yang diberi nama Muhammad bin Abi Hudzaifah. Catatan sejarah juga menyebut Sahlah sebagai salah satu perempuan yang termasuk dalam golongan awal kaum Muslimin
Baca Juga: Khulaisah dan Kisah Pembebasan Salman Al Farisi
Sahlah binti Suhail dan Kisah Teladannya untuk Para Muslimah
Namun, ada satu peristiwa lain dalam kehidupan Sahlah yang membuat namanya tercatat dalam kitab-kitab hadis. Peristiwa tersebut berkaitan dengan Salim maula Abu Hudzaifah.
Salim tinggal bersama Abu Hudzaifah dan keluarganya. Ketika Salim telah dewasa, Sahlah merasa ada persoalan mengenai keberadaannya di dalam rumah. Ia kemudian datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menyampaikan keadaan tersebut dan meminta petunjuk.
Dalam hadis sahih riwayat Muslim, Rasulullah memberikan arahan khusus berkaitan dengan Salim. Sahlah bahkan sempat mengatakan bahwa Salim telah menjadi laki-laki dewasa. Rasulullah kemudian menjelaskan agar Sahlah menyusuinya sehingga hubungan mahram terbentuk dan kegelisahan yang dirasakan Abu Hudzaifah hilang. Sahlah menjalankan petunjuk tersebut dan kemudian mengatakan bahwa kegelisahan Abu Hudzaifah pun menghilang.
Kisah ini sering menjadi bagian yang paling banyak dibicarakan ketika nama Sahlah binti Suhail disebut. Namun, penting untuk tidak memahami riwayat tersebut secara serampangan. Hadis itu berkaitan dengan kasus Salim secara khusus dan menjadi pembahasan tersendiri dalam fikih. Bahkan, riwayat Sahih Muslim juga mencatat adanya perbedaan pandangan di antara para istri Nabi mengenai penerapan kasus tersebut.
Di balik kisah tersebut, ada teladan lain yang tidak kalah penting. Sahlah tidak mengambil keputusan sendiri ketika menghadapi persoalan yang membuatnya ragu. Ia memilih datang kepada Rasulullah dan menyampaikan masalahnya secara langsung. Sikap seperti ini menunjukkan bahwa mencari kepastian dalam urusan agama merupakan sesuatu yang penting.
Sahlah juga menunjukkan keberanian seorang perempuan dalam menyampaikan persoalan yang menyangkut kehidupan keluarganya. Ia tidak memendam kegelisahan atau membiarkan masalah berlarut-larut. Ia bertanya kepada sumber yang memiliki otoritas dan kemudian menjalankan petunjuk yang diberikan.
Perjalanan hidupnya juga memperlihatkan arti pengorbanan. Bersama suaminya, Sahlah meninggalkan Makkah dan berhijrah ke Habasyah demi mempertahankan iman. Ia menjalani masa sulit sebagai bagian dari generasi awal yang membangun kehidupan umat Islam dari kondisi penuh tekanan.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Sahlah binti Suhail mengajarkan bahwa keteguhan iman tidak selalu terlihat dalam peristiwa besar. Terkadang, ia hadir melalui keberanian mengambil keputusan, kesediaan meninggalkan kenyamanan dan kemauan untuk bertanya ketika belum mengetahui jawaban.
Kisahnya menjadi pengingat bahwa perempuan pada masa Rasulullah juga memiliki peran dalam perjalanan awal Islam. Mereka bukan hanya hadir sebagai pendamping keluarga, tetapi juga menjadi bagian dari sejarah hijrah dan periwayatan berbagai persoalan agama yang terus dipelajari hingga hari ini. [DW]




