BELAKANGAN ini, istilah “Super Flu” ramai diperbincangkan di media sosial menyusul banyaknya laporan kasus penyakit saluran pernapasan.
Namun, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menegaskan bahwa istilah tersebut tidak dikenal dalam dunia medis, baik oleh organisasi kesehatan dunia (WHO) maupun pusat pengendalian dan pencegahan penyakit (CDC).
Penyakit yang dimaksud sebenarnya merujuk pada infeksi virus Influenza tipe A. Tidak ada bukti klinis yang menunjukkan virus ini lebih berbahaya dibandingkan jenis influenza lainnya.
Dari sisi medis, keluhan yang dialami pasien tidak jauh berbeda dengan penyakit pernapasan pada umumnya.
Lantaran gejalanya sangat menyerupai Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) lainnya, masyarakat terkadang kebingungan untuk membedakannya.
Baca juga: Kasus Influenza A Dilaporkan Meningkat dalam Beberapa Pekan Terakhir
Kenali Gejala dan Cara Mencegah dari Super Flu yang Tengah Ramai
Untuk mengetahui secara pasti jenis virus apa yang sedang menjangkiti saluran napas, diperlukan pemeriksaan lebih lanjut seperti swab antigen atau panel PCR.
Pemeriksaan ini menjadi penting karena infeksi pernapasan bisa disebabkan oleh beragam mikroorganisme.
Sayangnya, tidak semua orang harus atau wajib melakukan tes tersebut, tergantung pada tingkat keparahan penyakit dan kebutuhan akan pengobatan spesifik. Pemeriksaan spesifik ini sangat krusial bagi kelompok yang memiliki risiko tinggi saat terserang penyakit.
Meski influenza pada dasarnya bisa sembuh sendiri melalui istirahat yang cukup, masyarakat tetap diimbau untuk tidak meremehkan keluhan yang tak kunjung membaik.
Menunggu hingga kondisi tubuh benar-benar lemas atau sesak napas bukanlah keputusan yang bijak. Batas waktu pemantauan mandiri di rumah idealnya tidak berlangsung terlalu lama.
Keluhan yang menetap selama beberapa hari harus segera dievaluasi oleh tenaga kesehatan untuk mencegah risiko komplikasi yang lebih parah, seperti pneumonia akibat infeksi bakteri.
Kondisi demam yang menyertai batuk dan pilek harus diwaspadai karena pemicunya sangat luas, bukan melulu karena virus influenza.
Pemeriksaan fisik oleh dokter yang kadang dilanjutkan dengan tes laboratorium maupun rontgen dada bertujuan untuk menemukan penyebab pasti penyakit.
Follow Official WhatsApp Channel chanelmuslim.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.
Diagnosis yang akurat akan menentukan arah pengobatan yang tepat sasaran, mengingat beda pemicu akan berbeda pula terapinya.
Banyak kasus perburukan terjadi karena penggunaan obat yang tidak sesuai dengan penyakit yang mendasarinya.
Sebagai contoh, keluhan yang disebabkan oleh infeksi bakteri tentu tidak akan mereda jika hanya diberikan antivirus.
Kesalahan persepsi tentang keluhan batuk lama yang sulit sembuh banyak terjadi di masyarakat tanpa penanganan yang tepat. [Din]




